Budaya

Ketoprak ala Sosialita

Cerita sejarah membawa arti tersendiri bagi orang-orang yang hidup sekarang. Bahkan sejarah yang telah berlalu sekitar 1600-an tahun yang lalu, masih berkesan bagi pembawa misi untuk seni pertunjukan sekarang. Tanda apakah ini? Lakon cerita memang mendasari di mana perilaku sang tokoh membawa kesan. Selain kesan kesejarahan juga kesan perilaku tokoh yang hidup di masa lalu itu. Tidak di ketahui cerita ini fiksi atau nyata pada masa itu.

Pada tanggal 14 April 2012, Roro Mendut, seorang perempuan yang menjadi lakon hingga hari ini dijadikan cerita sebuah pertunjukan yang diselenggarakan oleh Banyumili production. Sang ketua Enny Sukamto yang juga seorang model tahun 70-80-an mengungkapkan, “Kisah Roro Mendut di samping mengandung nilai luhur yang harus di estafetkan pada anak muda pewaris negeri ini, juga berjalan sealur dengan sejarah Kerajaan Mataram.“ Inilah yang mendasari dilangsungkannya pementasan “Roro Mendut” di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Pelaku pementasan bukan orang yang biasa melakukan akting di atas panggung. “Kami sangat senang ketika mengetahui bahwa ada satu kelompok non-budayawan yang satu visi dengan kami, yang dengan serius melestarikan seni dan budaya Indonesia. Bukan hanya seniman dan budayawan yang memiliki kewajiban menjaga eksistensi budaya Indonesia, seluruh masyarakat Indonesia juga punya kewajiban yang sama,“ ujar Renitasari, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation pada kesempatan pementasan ini.

Pementasan sejarah semacam ini memang membutuhkan eksplorasi akting dari pemeran yang menjadi tokoh dalam cerita lakon tersebut. Karena karakter tokoh cerita ini sudah jelas apalagi tokoh cerita sudah dikenal oleh masyarakat pada umumnya. Seperti karakter Roro Mendut yang pasti adalah seorang perempuan, cantik, mempunyai daya tarik dan mempunyai ketrampilan membuat rokok. Sedangkan peran antagonisnya adalah Tumenggung Wiraguna seorang pejabat yang ingin menikahi gadis, semacam Roro Mendut, seringkali menggunakan kekuasaan untuk membuat orang lain takluk pada dirinya. Sedangkan Pronocitro adalah pemuda dengan segudang harapan untuk menundukan gadis semacam Roro Mendut. Walaupun dia tidak mepunyai jabatan tetapi berjuang mendapatkan apa yang dia inginkan.

Karakter-karakter yang sudah jelas dan membutuhkan peran aktif bagi pelaku cerita dalam pementasan ini tidak dikelola secara matang di atas panggung. Dengan demikian sisi teatrikal dari tiap adegan yang dituntut untuk menjadikan adegan sebagai tontonan yang menarik tidak memberi kesan pada penonton. Pertunjukan menjadi semacam eskpresi cokal yang biasa-biasa saja di atas panggung tanpa memperlihatkan bahwa aktris atau aktor yang sedang melakukan pertunjukan sedang memperlihatkan karakter sang lakon. Mungkin ini sisi dari pertunjukan yang tidak mendasarkan bahwa pelaku adalah seorang aktor atau aktris panggung. Pelaku-pelaku utama pertunjukan ini adalah sosialita yang tidak setiap saat berada di atas panggung untuk menceritakan sebuah lakon. Berbagai kelemahan dalam adegan muncul terutama kekuatan vokal atau blocking panggung. Padahal dalam pertunjukan teater atau teatrikal studi dua hal ini menjadi penting untuk melatar belakangi apa yang dimaksud oleh penceritaan panggung tersebut.

Tokoh Tumenggung Wiraguna yang diperankan oleh Ray Sahetapy cukup berhasil mengolah improvisasi panggung dengan adegan dan gaya vokal yang di kelolanya. Memberi sedikit gaya humor yang mudah dimengerti oleh penonton. Gerak aktraktifnya juga tidak mengganggu blocking stage yang dilakukan oleh aktor atau aktris lainnya. Kematangan Ray sebagai aktor menjadi tontonan yang menarik saat dirinya di atas panggung dengan satu dua pemeran. Tetapi ketika pemeran lain masuk dan panggung penuh peran Tumenggung Wiraguna seakan amblas, karena ditelan blocking stage yang tidak membuat seorang aktor pun dapat memunculkan perannya. Mungkin inilah kelemahan pertunjukan ini. Sisi kekurangan karena jumlah pemeran yang melebihi kapasitas panggung.

Sedangkan Roro Mendut yang diperankan Happy Salma seperti hanya pengiring penceritaan. Beberapa kali keluar dalam adegan yang tidak dapat menampakan sisi akting sang pemeran. Sebagian adegan dalam cerita ini Roro Mendut berada dalam tandu atau tempat tersembunyi yang di gotong-gotong oleh empat orang. Kondisi ini hingga akhir cerita Roro Mendut adalah lakon simbolik yang mempunyai wujud di awal dan mengakhiri hidupnya di akhir cerita.

Blocking stage yang menjadi sudut pandang tontonan untuk melihat sejauh mana para pemeran menggunakan vokal dan akting di atas panggung pada pertunjukan ini tidak di kelola dengan baik. Gaya block full stage selalu terjadi, sehingga antarperan atau aktor yang menjadikan mengolah cerita tertutup oleh yang lainnya. Gaya semacam ini seharusnya dihindarkan agar terlihat blocking dengan narasi cerita dan blocking untuk pendukung penceritaan.

Yang menarik pada pertunjukan ini adalah dipakainya narasi yang dibaca oleh narator untuk melihat sejauh mana cerita berjalan. Pembacaan cerita ini dilakukan dengan bahasa Jawa, bahasa asli dari cerita lakon berasal. Pembacaan narasi semacam ini dilakukan dalam pementasan panggung. Padahal narasi menjadi penekanan utama ketika cerita lakon sedang berlangsung. Bentuk pementasan semacam ini menajdi hidup ketika narasi asli dibaca serta mengiringi penceritaan di atas panggung. (Frigidanto Agung)