Budaya

Kotagede: Perjalanan Panjang Sebuah Kota Tua

Pagi itu, langit Yogyakarta begitu cerah, angin pagi bertiup lembut. Pohon-pohon yang berjajar di kiri-kanan jalan pun bergoyang pelan. Di Kotagede kita bisa “belanja” sejarah, menikmati situs kota tua yang pernah menjadi pusat kota Kerajaan Mataram Islam yang dahulu berjaya di tanah Jawa.

Sekali waktu singgah ke Jogja, mampirlah ke Kotagede. Di kota ini kita akan menyaksikan geliat kota tua yang tetap eksotik dan dikenal sebagai kawasan pengrajin perak. Galeri-galeri perak berjejer di sepanjang jalan Kemasan, Mandorakan hingga Tegalgendu. Sedikitnya ada empat jenis tipe produk kerajinan perak Kotagede, yakni Filigri (tekstur berlubang-lubang), Tatak ukir (tekstur menonjol), Casting (terbuat dari cetakan), dan Handmade (lebih mengandalkan ketelitian tangan, seperti cincin dan kalung). Ada juga beberapa galeri perak yang menawarkan kursus membuat kerajinan perak. Dalam hitungan hari saja, kita sudah dapat mengenal cara dan teknik dasar membuat kerajinan dari bahan perak.

Tahun 1910-an kerajinan perak Kotagede mengalami masa kejayaan dengan banyaknya pesanan dari orang-orang Belanda.  Sekitar 800-an desain produk perak Kotagede yang kini tersimpan di Museum Tropen, Rotterdam, menjadi bukti kejayaan Kotagede di kala itu.

Pada abad ke-8, wilayah Mataram yang sekarang disebut Yogyakarta, adalah pusat Kerajaan Mataram Hindu yang berkuasa di hampir seluruh Pulau Jawa. Pada abad ke-10, pusat pemerintahan kerajaan tersebut berpindah ke wilayah Jawa Timur. Rakyatnya berbondong-bondong meninggalkan Mataram dan perlahan wilayah ini kembali menjadi hutan.

Enam abad kemudian, Kesultanan Pajang yang berpusat di Jawa Tengah menjadi penguasa Pulau Jawa. Sultan Hadiwijaya yang berkuasa saat itu menghadiahkan alas Mentaok (alas = hutan) pada Ki Gede Pemanahan atas keberhasilannya menaklukkan musuh kerajaan. Ki Gede Pemanahan beserta keluarga dan pengikutnya kemudian tinggal di alas Mentaok, sebuah hutan yang dahulu merupakan Kerajaan Mataram Hindu.

Setelah Ki Gede Pemanahan wafat, beliau digantikan oleh putranya yang bergelar Senapati Ingalaga. Di bawah kepemimpinan Sang Senapati yang bijaksana, wilayah itu tumbuh menjadi kota yang semakin ramai dan makmur hingga disebut Kotagede (kota besar). Senapati lalu membangun Cepuri (benteng dalam) yang mengelilingi kraton dan Baluwarti (benteng luar) yang mengelilingi seluruh wilayah kota dengan dilengkapi parit pertahanan di sisi luar kedua benteng.

Alas Mentaok tumbuh menjadi wilayah yang damai, namun di Kesultanan Pajang justru terjadi perebutan tahta setelah Sultan Hadiwijaya wafat. Putra mahkota yang bernama Pangeran Benawa disingkirkan oleh Arya Pangiri. Pangeran Benawa lalu meminta bantuan Senapati karena pemerintahan Arya Pangiri dinilai tidak adil dan merugikan rakyat Pajang. Perang pun terjadi dan Arya Pangiri berhasil ditaklukkan. Setahun kemudian Pangeran Benawa wafat dan berpesan agar Pajang dipimpin oleh Senapati.

Sejak saat itu, Senapati menjadi raja pertama Mataram Islam bergelar Panembahan dan menjadikan Kotagede sebagai Istana pemerintahannya. Selanjutnya Panembahan Senapati memperluas wilayah kekuasaan hingga ke Pati, Madiun, Kediri, dan Pasuruan.

Panembahan Senapati wafat pada tahun 1601 dan dimakamkan di Kotagede berdekatan dengan makam ayahnya. Kerajaan Mataram Islam pun menguasai hampir seluruh Pulau Jawa (kecuali Banten dan Batavia) dan mencapai puncak kejayaannya di bawah kepemimpinan Sultan Agung (cucu Panembahan Senapati). Pada tahun 1613, Sultan Agung memindahkan pusat kerajaan ke Yogyakarta sekaligus menjadi akhir era Kotagede sebagai pusat kerajaan Mataram Islam.

Keindahan Kota Tua
Dalam perkembangan selanjutnya Kotagede tetap ramai meskipun sudah tidak lagi menjadi ibukota kerajaan. Berbagai peninggalan sejarah seperti pasar tradisional, makam para pendiri kerajaan, Masjid, rumah-rumah tradisional khas arsitektur Jawa, perkampungan Jawa dengan tata kota jaman dahulu, hingga reruntuhan benteng masih bisa ditemukan di Kotagede.

Pasar tradisional Kotagede yang sudah ada sejak jaman Panembahan Senapati masih bertahan hingga kini. Bangunannya memang sudah direnovasi, namun posisinya tidak berubah. Pasar adalah simbol matahari terbit dan kegiatan pagi, setiap hari Legi dalam kalender Jawa pasar ini begitu ramai di pagi hari. Bila ingin jalan-jalan di Kotagede, Anda bisa memulainya dari pasar ini lalu berjalan ke arah selatan menuju makam, reruntuhan benteng dalam, dan beringin kurung.

Berjalan 100 meter ke arah selatan dari Pasar Kotagede, kita akan menemukan kompleks makam para pendiri kerajaan Mataram Islam yang bertembok tinggi dan kokoh. Gapura ke kompleks makam berarsitektur Hindu, dengan pintu kayu tebal dan berhias ukiran. Beberapa abdi dalem berbusana adat Jawa menjaga kompleks ini sepanjang hari.

Tiga gapura akan kita lewati sebelum sampai ke gapura terakhir yang menuju bangunan makam. Untuk masuk ke dalam makam, kita harus mengenakan busana adat Jawa yang dapat disewa di sana. Pengunjung hanya diperbolehkan masuk ke dalam makam hanya pada hari Minggu, Senin, Kamis, dan Jumat pukul 08.00 – 16.00. Tokoh-tokoh penting yang dimakamkan di sini adalah Sultan Hadiwijaya, Ki Gede Pemanahan, Panembahan Senopati, dan keluarganya.

Perjalanan ke Kotagede akan terasa lebih lengkap jika kita berkunjung ke Masjid Kotagede, masjid tertua di Yogyakarta yang juga masih berada dalam kompleks makam. Setelah itu kita dapat melihat kehidupan sehari-hari masyarakat Kotagede dengan berjalan kaki menyusuri gang sempit di balik tembok yang mengelilingi kompleks makam.

Berjalan semakin ke selatan, kita akan melihat sebuah gapura tembok dan ada sebuah tulisan “Cagar Budaya.” Masuklah ke dalam, di sana Anda dapat melihat rumah-rumah tradisional Kotagede yang masih berfungsi sebagai rumah tinggal dan terawat dengan baik.

Semakin ke selatan, terlihat 3 pohon Beringin berada di tengah jalan. Di tengahnya ada sebuah bangunan kecil yang menyimpan Watu Gilang, sebuah batu hitam yang permukaannya terdapat tulisan membentuk lingkaran: ITA MOVENTUR MUNDU S – AINSI VA LE MONDE – ZOO GAAT DE WERELD – COSI VAN IL MONDO. Di luar lingkaran itu terdapat tulisan AD ATERN AM MEMORIAM INFELICS – IN FORTUNA CONSOERTES DIGNI VALETE QUIDSTPERIS INSANI VIDETE IGNARI ET RIDETE, CONTEMNITE VOS CONSTEMTU – IGM (In Glorium Maximam). Yang entah artinya apa.

Matahari kian meninggi dan hari semakin siang. Kotagede pun tampak semakin bergeliat. (dari berbagai sumber)