News

Menelisik Bangunan Hijau

Kehadiran bangunan-bangunan tinggi ternyata membawa pengaruh pada alam. Khususnya gedung ketinggian tertentu. Berdirinya gedung itu membawa dampak pada pemanasan global apalagi bahan bangunan gedung itu menggunakan bahan yang menimbulkan panas pada sekeliling. Seperti kaca, gedung itu akan menjadi penyebab pemanasan pada lingkungan juga bahan bangunan yang digunakan tidak reseptif pada alam. Inikah yang menjadikan kasus-kasus pemanasan global muncul?

“Implementasi konsep green building (bangunan hijau) tergolong mendesak karena faktanya satu bangunan menyumbang sampai 40% gas rumah kaca pada bumi,” ungkap Naning Adiwoso, Chairperson Green Building Indonesia dalam acara GreenRight Conference and Expo pada tanggal 11-13 April 2012 di Assembly Hall, Jakarta Convention Center. Acara ini untuk wadah bagi para pembuat regulasi, kalangan profesional, pelaku industri, akademisi atau pelajar dan penggiat lingkungan untuk bertatap muka, berdiskusi dan berkomentar mengenai konsep green yang diusung untuk merencanakan implementasi green building atau bangunan hijau, demikian konsep acara ini diselenggarakan.

Apakah unsur-unsur gedung itu disebut telah memenuhi syarat green building? Pada dasarnya persyaratan pembentukan green building ini belum mempunyai elemen dasar yang komprehensif tentang mengapa gedung itu disebut telah mempunyai konsep green building. Tetapi ada dua hal yang dapat dijadikan alat untuk menganalisa. Pertama, Healthcare yakni gedung harus mempunyai hal yang mendasar untuk memenuhi syarat kesehatan bagi penghuni khususnya dan lingkungan sekitar pada umumnya. Kedua Hospitality, syarat ini berhubungan dengan perancangan fisik gedung seperti perancangan, pengelolaan gedung, manajemen gedung yang menerapkan sistem berkelanjutan.

Salah satu syarat yang paling mendasar tentang masa depan gedung adalah konsep sistem berkelanjutan. Sebenarnya sistem ini hasil adaptasi dari ilmu lingkungan yang digunakan untuk menerapkan proses bangunan hijau atau gedung-gedung untuk mengantisipasi terhadap pemanasan. Jika perancangan  gedung menggunakan bahan-bahan yang menyebabkan pemanasan maka gedung itu tidak memenuhi syarat tentang konsep green building. Ini awal di mana perancangan sebuah gedung diakui sebagai gedung dengan konsep green building. Penekanan pada material pembangunan gedung ternyata menjadi syarat utama. Selain pengelolaan setelah gedung itu jadi atau dihuni. Melalui persyaratan bahan bangunan maka dapat ditentukan bagaimana ruang-ruang dalam gedung itu mempunyai daya panas terhadap penghuni dalam skala tertentu atau pengaruh panas terhadap ruangan dari panas alam seperti matahari. Hal ini sangat menentukan sekali. Pengelolaan sirkulasi panas ini menjadikan pengaruh kesehatan bagi penghuninya.

Selain acara-acara conference ada juga expo atau pameran tentang bahan-bahan untuk pembuatan gedung-gedung yang diakui untuk pembuatan green building. Expo ini memperlihatkan bagaimana acara ini secara menyeluruh membuat wacana dan material dasar green building yang telah berkembang selama ini. Gedung dengan strata lantai yang tinggi mempunyai masalah tertentu yang tidak terhindarkan. Hal ini membuat material dasar gedung menjadi syarat utama untuk membuat responsif terhadap perancangan dan pengelolaan gedung itu sendiri.

Acara ini mengusung tema Adapt to Sustain yang mengacu pada sistem berkelanjutan. Gedung yang berdiri mempunyai adaptasi terhadap lingkungan untuk membuat sisitem lingkungan menjadi responsif pada manusia sekeliling dan mempunyai daya berkelanjutan pada lingkungan hidup. Mengapa? Hal ini merupakan proses yang saling berkait antara makhluk hidup yang ada di sekitar dan gedung yang menjadi sandaran untuk melindungi dari perubahan cuaca yang terjadi pada alam.

Kontekstualisasi green buildingatau bangunan hijau berkait dengan sistem berkelanjutan, menjadi sangat tematik dalam pembangunan gedung. Apakah hubungannya dengan gedung itu sendiri? Ini merupakan proses yang menjadikan gedung mempunyai kapasitas ideal tentang persyaratan yang ada untuk melihat kedalaman makna sebuah bangunan untuk penghuni dan alam sekitarnya. Dengan demikian dinding pemisah antara makhuk yang ada di sekeliling bangunan terutama gedung-gedung tinggi tidak menjadi asing terhadap gedung itu. Selain keremahan lingkungan terhadap keberadaan gedung adaptasi makhluk sekeliling gedung menjadi lebih mudah. Mungkin, hal itu yang menjadikan antara bangunan hijau dan lingkungan sekeliling membentuk kehidupan yang saling mengisi. (Frigidanto Agung)