Wawancara

“Saya Tidak Puas Kalau Perjanjian Tidak Terwujud”

Peguam Negara alias Jaksa Agung Malaysia, Tan Sri Abdul Gani Patail, berkunjung ke Indonesia, ke Kejaksaan Agung khususnya pada awal April lalu. Tan Sri (gelar istimewa kerajaan) datang bersama sejumlah anak buahnya, selain pejabat hukum terkait Negeri Jiran tersebut. Di Jakarta, Tan Sri menandatangani sebuah MoU penting dengan mitranya, Jaksa Agung Basrief Arief. MoU itu berisikan perjanjian kerja sama yang terdiri dari 13 pasal.

“Sebagaimana kita ketahui, banyak perjanjian dan nota kesepahaman telah dilakukan antara kedua negara, tetapi untuk kerjasama bidang hukum kali ini  adalah yang pertama kali dilakukan antara Malaysia dan Indonesia,” ungkap Tan Sri dalam sambutan resminya di Kejaksaan Agung.

Kerja sama di bidang hukum antara dua negara ‘bersaudara’ ini sangat strategis. Banyak faktor yang bersinggungan, misalnya masalah tenaga kerja Indonesia di Malaysia, lalu bagaimana pula kejahatan dengan modus operandi baru yang bersifat lintas negara, kejahatan dunia maya, terorisme internasional, human trafficking, people smuggling, illegal loging, illegal fishing, narkotika, korupsi dan lainnya. Penjahat-penjahat dalam kasus semacam itu semakin memperlihatkan kecerdasan dan kecerdikannya yang melampaui kemampuan para penegak hukum.

“Kita harus meningkatkan kesadaran dan pengertian kita tentang hukum negara lain beserta prosedur-prosedur hukumnya. Kita juga harus meningkatkan network, tukar-menukar informasi dengan mitra kerja kita masing-masing melalui kerjasama internasional yang efektif dalam bidang-bidang yang relevan,” papar Tan Sri.

Tan Sri mengaku bangga dan puas atas terwujudnya perjanjian kerja sama tersebut. Ia berterima kasih pada Pemerintah Indonesia, terutama Kejaksaan Agung RI yang memiliki komitmen tinggi dalam perjanjian tersebut. “Saya sangat yakin atas keberhasilan kerja sama ini. Kita ingin enam bulan ke depan kita benar-benar kerja keras untuk mewujudkannya. Akan ada sebuah tim khusus dari pihak saya dan Pak Basrief untuk menindaklanjuti. Setiap bulan kita akan bertemu, ya di sini atau di Kuala Lumpur,” ungkap Tan Sri.

“Saya tidak akan puas dan tidak senang kalau Perjanjian tidak terwujud,” tukas pria asal Sabah itu. Di tengah padatnya aktivitas selama di Jakarta, pemilik hobi mancing ini menerima dua wartawan Majalah REQuisitoire, Ilham Jomi dan Bosko Nambut. Wawancara selama 40 menit berlangsung santai, ada canda, hangat, dengan bahasa Melayunya yang kental, dipadu sedikit Bahasa Inggris. Wawancara khusus, berikut pemotretan, berlangsung di kamar 2510, Hotel Shangrilla, tempat dia menginap. Berikut petikannya:

Apa persepsi Tan Sri tentang Indonesia secara umum dan tentang hubungan dengan Malaysia?
Kalau kita bandingkan dengan negara lain, Indonesia ini sangat majemuk, terdiri dari berbagai suku, agama, ras, golongan, budayanya juga begitu. Wilayahnya pun luas sekali. Di Malaysia pun tampak keragaman itu, termasuk di kampung saya di Tawau, Sabah. Di sana, banyak sekali orang Indonesia, ada orang Makasar, Bugis, Dayak, Jawa. Macam-macam dan mereka bekerja. Indonesia dan Malaysia adalah negara serumpun dan saya kira hubungan kita selama ini baik sekali. Kalau ada riak-riak, saya kira itu biasa saja dan kita selalu dapat menyelesaikannya. Hubungan baik ke depannya harus ditingkatkan.

Bagaimana dengan kerja sama di bidang hukum?
Dari sisi hukum, kita memang menerapkan sistem hukum yang bebeda. Malaysia menerapkan sistem common law, tetapi Indonesia menerapkan civil law, hukum Belanda. Tetapi it doesn’t matter-lah. Yang pasti dua sistem ini memiliki tujuan yang sama, memperjuangkan keadilan. Sejauh yang saya lihat, penegakkan hukum di Indonesia sudah berjalan dengan baik. Bahwa ada juga yang tidak berjalan, saya kira itu biasa. Tidak ada yang sempurna, setiap waktu kita selalu harus memperbaiki. Sama halnya juga di Malaysia. Penegakkan hukum dan keadilan terus ditingkatkan.

Bisa Tan Sri jelaskan isi perjanjian kerja sama dengan Kejaksaan Agung RI?
Ada beberapa hal yang kita sepakati. Antara lain pertukaran narapidana. Ya kita prihatin dengan warga kita masing-masing yang berada di Malaysia maupun di Indonesia, yang berbuat salah. Tengoklah, ada banyak orang Malaysia yang berbuat salah di Indonesia dan juga orang Indonesia yang berbuat salah di Malaysia. Kita ingin ini ada penyelesaian secara baik agar tidak ada perbedaan paham di antara dua negara. Itu yang kami bahas dan nanti akan ditindaklanjuti. Kami juga bekerja sama dalam pertukaran informasi. Misalnya ada orang Indonesia berbuat salah di Malaysia atau sebaliknya, ya masing-masing kita diharapkan untuk saling memberikan informasi yang jelas, tepat sasaran dan dari sumber  langsung yang resmi.  Jangan sampai lagi kita mendengar isu atau informasi yang keliru. Kalau kita sudah mendapatkan informasi yang benar, harus cepat-cepat menyampaikan kebenarannya kepada masyarakat. Kita juga membahas kejahatan lintas negara, jenis dan modusnya macam-macam. Saya melihat komitmen yang tinggi dari Jaksa Agung, Pak Basrief Arief beserta semua jajarannya untuk berbagai kerja sama dimaksud. Karena itu saya sangat senang dan berterima kasih atas semuanya ini. Kami juga berjanji untuk memiliki komitmen yang sama.

Masyarakat Indonesia sering bereaksi keras atas kasus-kasus yang menimpa warga Indonesia di Malaysia. Apa komentar Tan Sri?
Tetapi ada juga orang Malaysia yang ditahan di Indonesia dan itu ramai juga di Malaysia (tertawa). Ini semua karena kita sering menangkap informasi yang sepotong-potong. Tugas kita adalah menenangkan dan menjelaskan yang benar. Memang untuk masalah narkotika di Malysia, ya kami cukup keras dan tegas. Yang kita harapkan adalah kalau kita pergi ke negara lain, mari kita ikuti dan taati aturan hukum negara tersebut. Jadi kalau ada rakyat Malaysia, datang ke Indonesia dan buat salah di sini, ya, itu risiko dan harus patuh pada undang-undang Indonesia. Sama juga kalau orang Indonesia datang ke Malaysia, ikutlah undang-undang Malaysia. Undang-undang di negara Indonesia dan Malaysia memiliki tujuan yang sama, untuk keadilan. Kami kalau ada warga negara asing yang melawan hukum, kami sangat berhati-hati, ya diproses saja sesuai alur hukum yang benar dan profesional. Kami juga di Malaysia sekarang ini, memiliki sebuah ‘rumah perlindungan’ namanya. Rumah ini untuk perempuan Indonesia yang menjadi korban kejahatan. Di rumah itu kita amankan. Kita selesaikan dengan baik.

Bagaimana dengan kerja sama dalam bidang terorisme?
Dalam bidang terorisme kita memiliki hubungan kerja sama yang baik. Sangat mendalam dibandingkan dengan kerja sama dengan negara lain. Saya merasakan dampak kerja sama yang begitu hebat. Dulu itu ada seorang saksi yang kita tahan di Malaysia. Pihak Indonesia minta kerja sama. Apa yang kita lakukan? Kita gunakan video conference, masuk ke dalam tahanan, peguam (jaksa) semua di situ, lawyer, semua ikut. Ini bagus sekali dan belum pernah kita lakukan semacam ini dengan negara lain. Ini saya kagumi betul.

Bagaimana dengan korupsi?
Saya tanya ke Pak Basrief, ada tidak warga Indonesia yang bawa dan simpan duit secara illegal di Malaysia? Jaksa Agung tersenyum pada saya dan dia bilang, “Setahu saya tidak ada lagi…” tetapi di negara lain ada dan saya tidak mau sebutlah (tertawa). Tetapi jika ada, yang illegal, kita akan bantu. Tetapi kalau duit TKI karena mereka bekerja di Malaysia, tentu lain cerita.

Begitu banyak kasus TKI di Malaysia, apakah Malaysia tidak pusing?
Bukan cuma orang Indonesia. Di sana ada juga rakyat negara lain yang bermasalah seperti dari Iran, Filipina dan lainnya. Yang pasti, rakyat kita pun banyak sekali yang bersalah di negara lain termasuk di Indonesia. Kami di Malaysia tidak pandang dari negara mana dia berasal, kita hanya pandang dari segi bersalah atau tidak.

Bagaimana mewujudkan kerja sama yang sudah disepakati antara Kejaksaan Agung RI dan Kejaksaan Agung Malaysia?
Dalam tempo enam bulan ini diwujudkan. Setiap bulan, ada working commettee meeting, kita akan bahas semua kasus yang ada di Malaysia dan juga di Indonesia. Dari situ nanti kita akan tengok, mana yang kita harus selesaikan, yang menjadi skala prioritas. Jadi setiap bulan harus ada meeting. Ini tidak main-main. Saya dan Jaksa Agung sini akan jumpa dalam waktu dekat. Di Malaysia. Yang tim khusus atau tim kerja nanti harus bekerja keras, dari Indonesia akan dipimpin seorang jaksa agung muda, sedangkan dari Malaysia akan dipimpin oleh seorang pejabat nomor tiga setelah saya.

Jadi Tan Sri puas dengan perjanjian kerja sama ini?
Saya puas. Tetapi ini kan masih terus berlangsung. Saya menjadi tidak puas kalau ini tidak dapat dilaksanakan. Saya kira Jaksa Agung juga sama. Yang kita harapkan adalah outcome-nya, result-nya. Tidak ada gunanya kita datang ke sini, bincang ini dan itu, filosolfi ini dan itu, tetapi tidak ada tindak lanjutnya. Retorik kiri dan kanan. Kami bukan politisi. Kami profesional. Enam bulan lagi Anda boleh cek sejauh mana tindak lanjut dari ini semua. Saya yakin ini akan tuntas dan maksimal.

Apa pendapat Tan Sri terhadap Kejaksaan Indonesia? Apa kelemahan dan kelebihannya?
Rasanya tidak ada kelemahan. Saya tengok tidak ada. Pegawai-pegawai Kejaksaan di sini lengkap, pengetahuan dan pengalamannya bagus, didukung fasilitas yang memadai. Waktu saya tengok ke Badan Diklat di Ragunan, wah luar biasa. Program dan kurikulumnya jelas. Lahannya Badan Diklat juga luas sekali. Saya juga dikasitau ada lahan baru di Ceger, 8 hektar, sedang dibangun Adhyaksa Loka. Saya kagum. Tentu saja ini semua untuk pengembangan sumber daya manusia Kejaksaan masa depan. Di Diklat saya juga mendengarkan paparan tentang asset tracing, penjelasannya sangat detail. Saya juga berharap agar dapat berbuat yang sama di Malaysia.

Apa kiat Bapak menjadi seorang Peguam Negara Malaysia yang sukses. Ini sudah 10 tahun lebih.
Saya berjuang dari nol dan kemudian bernasib baik. Saya sudah lama di situ, menjabat sejak tahun 2002. Jadi saya tahu betul lembaga yang saya pimpin. Kalau saya duduk hanya 2 sampai 3 tahun, pasti sulit mewujudkan program.  Saya melakukan pekerjaan dengan konsep yang jelas, mengejar target dan komitmen pada apa yang saya rencanakan. Kalau saya bilang kerja harus tiga bulan, setahun, 3 tahun, lima tahun, ya harus selesai dan harus maksimal. Saya juga fokus pada pengembangan sumber daya manusia dengan berbagai program. Di Malaysia ada juga semacam Diklat, tetapi tidak seperti di sini, beda sedikit-lah. Saya juga kirim jaksa-jaksa mengikuti pendidikan khusus di luar negeri, seperti di Amerika dan Inggris. Saya baru saja pulang antarkan beberapa jaksa untuk sekolah di Inggris. Di luar negeri mereka mendapatkan pendidikan course, advokasi dan macam-macam program. Setiap tahun kita tingkatkan.

Apa pendapat Tan Sri tentang pentingnya pengembangan SDM?
Saya percaya, investasi terbesar adalah SDM. Investasi itu bukan uang atau barang, fasilitas atau benda-benda. Hal-hal lain itu hanya konsekwensi logis dari apa yang diperoleh dari manusia yang berkualitas. Man making everything. Saya kira visi saya sama juga dengan pimpinan Kejaksaan di sini. Saya ingin memiliki SDM yang cakap, pandai, cerdas, profesional, berintegritas, penguasaan dan berwawasan internasional. Kualitas dikedepankan.

Berapa jumlah jaksa di Malaysia?
Semuanya 504 orang. Memang kurang. Penduduk kita kan sedikit. Itu sudah termasuk pegawai baru. Tentu tidak sama dengan Indonesia yang 8000 orang jaksa, karena memang negara ini luas sekali, penduduknya 240 juta. Memang idealnya kita di Malaysia butuh 800 orang jaksa. Cuma saya pikir-pikir, banyak juga kadang tidak efektif, hanya jadi bunga meja, duduk-duduk manis saja. Lebih baik sedikit, secukupnya, tetapi berkualitas dan produktif. Jaksa-jaksa kami tersebar di berbagai negeri, di unit negeri, di pendawa dan di headquarter. Antara Kejaksaan sini dan di Malaysia sedikit ada perbedaan memang. Kami di sana tidak ada wewenang penyidikan dan itu hanya wewenang kepolisian. Kami hanya punya wewenang penuntutan. Ada juga perbedaan lainnya.

Kami dengar, Tan Sri punya hobi mancing?
Hahahaha…., saya ini kan dari kampung. Lahirnya di Lahadatuk di Sabah, 6 Oktober tahun 1955. Dulu itu saya biasa mancing di Kuala Sungai. Rumah juga dekat pantai. Sekarang pun masih mancing. Kalau ada waktu saya balik ke Sabah mancing di tepi laut. Tetapi jarang sekali. Setahun paling sekali. Mungkin nanti kalau pensiun, hari-hari kamu tengoklah, saya pasti mancing dengan kambing dan ayam. Hobi saya yang lain, ya makan makanan yang sehat dan memburu.

Bisa ceritakan tentang keluarga Tan Sri?
Istri saya namanya Puan Sri Maimon Ariff. Dia mau ke Jakarta. Jadi saya besok pulang ke Malaysia, dia ke Jakarta. Anak saya ada dua, satu putra namanya Faez dan satu putri namanya Nina. Dua-duanya sudah kawin. Cucu saya satu, namanya Aeden, dia nakal seperti neneknya hahahahaha.