Editor's Note

Amang Bismar

Mantan hakim agung, Bismar Siregar, mangkat hari Kamis (19/4/12) silam dalam usia 84 tahun. Ia meninggalkan seorang istri, tujuh anak dan sejumlah cucu. Jenasahnya telah dibaringkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan, hari Jumat (20/4/12). “Amang” demikian istri dan tujuh orang anak memanggilnya. Dalam bahasa Batak, “Amang” adalah sapaan hormat untuk kaum pria. Sapaan “Amang” itu bolehlah kita pinjam untuk kesempatan ini. Ya, bukan saja istri, anak-anak, kerabat dan sahabatnya yang berduka atas kepergian Amang, tetapi dunia hukum Indonesia pun berduka.

Amang Bismar itu mantan jaksa, mantan hakim dan mantan hakim agung. Pria kelahiran Sipirok, 15 September 1928 dan lulusan FH UI itu pada mulanya bekerja di Kejari Palembang. Dua tahun di Kota Pempek, Amang pindah ke Kejari Ujung Pandang (kini Makasar) dan Kejari Ambon. Dua tahun setelahnya, Amang pindah profesi, jadi hakim. Begitu menjadi hakim, Amang bertugas di PN Pangkal Pinang. Setelah itu dia bertugas di Pontianak, Bandung, Medan dan Jakarta. Amang jadi hakim agung pada Juni 1984 – 1995. Amang Bismar! Secara personal, dia memiliki sikap dan sifat yang luhur; lembut, santun, sederhana, murah hati, jujur (lurus), selalu berpikir positif pada orang lain, rendah hati, disiplin dan tekun berdoa. Karakter-karakter tersebut sangat melekat pada dirinya. Ini fakta dan bukan lebay atau mengada-ada. Kalau tak percaya, tanya saja istri, tujuh anak, cucu-cucu, sahabat-sahabatnya serta semua saja yang mengenal dekat dirinya.

Keutamaan-keutamaan karakter personal yang dimiliki Amang ini juga merasuki dirinya dalam melakoni tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang hakim. Profesionalisme dan integritas sangat Amang junjung tinggi sebagai seorang hakim. Amang yang berkarakter lembut misalnya, justru galak alias berani dan tegas dalam menegakkan keadilan. Alkisah, dua terdakwa kasus narkoba yang memperdagangkan 161 kg ganja kering, diputus 10 bulan penjara di PN Medan, namun begitu banding di PT Sumatera Utara dan Amang ketua majelisnya, serta-merta dia memutuskan hukuman masing-masing 15 dan 10 tahun penjara. Seorang kepala sekolah cabul yang diputus tujuh bulan penjara di PN Medan, di tingkat banding, dia putus 3 tahun penjara. Namun, tidak semua perkara Amang putuskan secara ‘kejam’ seperti itu. Toh, ada pula perkara yang diputus lebih ringan atau justru diputus bebas, lantaran misalnya dakwaan sang JPU lemah dan tidak cukup bukti.

Dalam setiap perkara, Amang tak pernah mau ada pihak lain yang intervensi. Sekalipun itu pimpinan termasuk penguasa orde baru. Jangan coba-coba menyuap atau “membeli” Amang. Kalau itu terjadi, dia merasa terhina. Selama menjadi hakim, kemudian menjadi hakim agung, Amang acapkali melakukan berbagai terobosan hukum. Amang juga tidak mau pasrah, manakala belum ada undang-undang yang mengatur sesuatu perkara yang sedang disidangkannya. Atas nama kebenaran dan keadilan, hakim menurut Amang adalah undang-undang itu sendiri. Meski ada pihak yang mengatakan, Amang itu hakim aneh dan kontroversial, tetapi oleh banyak pakar hukum, termasuk pendekar hukum progresif Indonesia, Mendiang Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, S.H., Amang adalah sosok hakim progresif.

Ya, itu tadi, karena selalu melakukan berbagai terobosan hukum. Hati nurani juga selalu menjadi landasan penting bagi Amang dalam memutus setiap perkara. Hati nurani menjadi panglima dalam setiap putusannya. Hati nurani itu akan berbicara dengan sendirinya setelah dia mendalami betul berkas-berkas perkara dan setelah mencermati hasil-hasil sidang. Yang terpenting juga, Amang selalu melibatkan Tuhan dalam setiap perkara-perkara. Ketika tiba waktunya memutus perkara, Amang khusuk melakukan shalat tahajud. Ia sangat yakin, hakim di dunia adalah wakil Tuhan dan pada saatnya, hakim-hakim juga diadili di Akhirat.

Amang adalah teladan kita semua. Ia telah mewariskan nilai-nilai luhur sebagaimana yang dipaparkan di atas. Karena itu, wajib hukumnya, kita, para penegak hukum, ya terutama para hakim, untuk ejawantahkan semua itu. Selamat jalan Amang. Terima kasih untuk pengabdian dan keteladananmu.