Editor's Note

Cemburu

Siapa pun bebas melakukan demonstrasi di sebuah negara demokrasi seperti Indonesia ini. Tak terkecuali para hakim yang juga menjadi insan demokrasi. Karena itu ketika para hakim Indonesia beraksi demo, ya, sah-sah saja.

Belum lama berselang hakim-hakim Indonesia berdemo menuntut kesejahteraan hidup. Maklum selama ini mereka kurang sejahtera, sampai-sampai ada istri hakim yang jualan nasi bungkus, jualan jilbab, belum punya rumah pribadi, tidak ada ongkos pulang kampung untuk Lebaran, hingga ada hakim di NTT yang  jadi tukang ojek. Yang lain yah, ngobyek. Benar-benar memprihatinkan, padahal hakim disebut wakil Tuhan, yang mulia. Juga disebut sebagai pejabat negara.

Aksi para hakim itu hanya dilakukan 30 orang. Jumlah yang sedikit tetapi itu representasi lebih dari 5000 hakim Indonesia. Jadi tidak seperti demo BBM bulan Maret silam yang menggapai ratusan ribu orang. Yang juga membedakan adalah mereka tidak turun ke jalan. Sebaliknya cuma silaturahmi lalu berkeluh kesah sekaligus menuntut pada pejabat eksekutif dan pejabat legislatif di Senayan.

Hebat! Aksi para hakim yang sebagian besar hakim muda itu ternyata mendapat liputan luas dari media massa nasional, daerah, bahkan media massa asing, hingga banyak pihak bersimpati atau memberikan dukungan. Yang lebih hebat lagi, aksi mereka menuai kesuksesan, sebab serta-merta setelah bertemu Menpan & RB, Azwar  Abubakar, tuntutan mereka dikabulkan. Abubakar pastikan tahun 2013, gaji semua hakim dinaikkan. Hakim-hakim itu pun senang.

Semula para hakim itu, memiliki rencana melakukan mogok nasional. Namun, berbagai pihak menentangnya. Jika pejabat negara yang mulia itu nekat melakukan aksi mogoknya, tentu saja itu merupakan perbuatan yang tidak mulia. Apa kata dunia. Mantan Hakim Agung, Benyamin Mangkoedilaga menyarankan, jangan mogok. Opsi itu menjadi pilihan terakhir, apabila tuntutan tak jua dikabulkan.

Para hakim kini boleh senang. Tetapi rupanya tidak bagi para penegak hukum lainnya. Tidak senang alias cemburu. Ekspresi kecemburuan ini terungkap melalui komen-komen dalam halaman facebook majalah REQuisitoire yang sebagian besar anggotannya adalah para jaksa dan pegawai kejaksaan. Komen-komen itu dilontarkan menanggapi status tentang aksi para hakim. Komen-komen sinis dan kritis kami munculkan di dalam majalah ini pada rubrik facebook corner.

Komen-komen para penegak hukum yang cemburu itu lugas dan polos. “Mengapa hakim itu lebih istimewa dari para penegak hukum lainnya?” “Apakah karena mereka disebut Yang Mulia?” Ada juga yang bertanya, “Mengapa mereka disebut pejabat negara, atas dasar apa?” Ada juga yang membanding-bandingkan, bahwa sesungguhnya tugas para hakim tidak lebih berat dari tugas para jaksa dan polisi.

Tugas dan tanggung jawab jaksa dan polisi jauh lebih berisiko dibanding tugas para hakim. Jaksa misalnya harus meneliti berkas, kemudian menyusun dakwaan, menyidangkan bertanggung jawab atas tersangka, terpidana, menghadirkan saksi, mengamankan barang bukti, mengeksekusi.

Seorang anggota kemudian mengajak insan Adhyaksa melakukan aksi demo seperti yang dilakukan para hakim. Ada yang menanggapi tetapi hanya satu dua orang. Jaksa-jaksa berpendapat, idealnya gaji jaksa sama seperti mitra mereka di KPK. Ya tidak seperti selama ini atau bahkan seperti sekarang walau sudah remunerasi, yang memang belum dapat menyejahterakan.

Ini sebuah peringatan penting untuk pemerintah. Persoalan kesejahteraan para penegak hukum, harus segera diselesaikan. Pertimbangkan secara adil dan bijaksana. Dipertimbangkan pula faktor-faktor rasionalitas, agar tidak ada yang saling cemburu. Mungkin kita bisa belajar dari negara-negara lain.

Please follow and like us:
20