Editor's Note

Yang Mulia Hatta Ali

Banyak pihak yang meragukan Dr. Hatta Ali, S.H., M.H., sebagai Ketua Mahkamah Agung (MA) periode 2012-2017. Hatta Ali tidak memiliki catatan prestasi fenomenal sepanjang karirnya sebagai hakim dan sebagai pejabat struktural di MA. Biasa saja. Sebaliknya ia memiliki sejumlah catatan kelam. Berhembus pula isu, Hatta Ali melakukan praktik suap ketika pemilihan Ketua MA pada 8 Februari lalu.

Terlepas dari itu semua, mari kita lihat ke depan. Yang Mulia, Pak Hatta Ali. Pastilah Bapak tahu, apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab Bapak sebagai Ketua MA untuk lima tahun ke depan. Sekedar mengingatkan, masih 12 ribuan perkara yang menumpuk di meja 57 hakim agung. ”Saya ingin berpesan. Ketua MA yang baru harus punya pikiran inovatif dan membuat terobosan untuk menyelesaikan tunggakan perkara,” demikian pesan Mantan Hakim Agung, Adi Andojo. ”Sebab, orang mencari keadilan ke MA agar perkaranya cepat diselesaikan, bukan ditumpuk,” kritik Adi sebagaimana dikutip Kompas.com, Selasa (7/2) lalu.

Hatta juga telah berjanji untuk semakin meningkatkan pengawasan melekat terhadap koleganya sesama hakim. Ya, sebab sudah bukan menjadi rahasia lagi jika selama ini banyak hakim yang terima suap. Faktanya juga sejumlah hakim telah tertangkap tangan menerima suap. “Pak Hatta harus berani memberantas suap baik di MA maupun di lembaga peradilan di bawahnya,” pesan Mantan Hakim Agung, Benyamin Mangkoedilaga.

Yang terpenting juga adalah, bimbing dan ingatkan para hakim untuk menjadi hakim yang cerdas, tegas, adil, bijaksana dan memiliki hati nurani. “Berpikir dan bertindak progresif adalah kuncinya,” tulis pakar Hukum Progresif (alm) Satjipto Rahardjo  pada bukunya, “Penegakkan Hukum Progresif” (2010). Maka hukum progresif, MA yang progresif, serta kepemimpinan yang juga progresif merupakan pintu darurat untuk keluar dari citra buruk itu. Di bawah panji-panji MA yang progresif, kata Prof  Satjipto, sangat banyak hal dapat dilakukan dan dicapai.

Kata progresif diharapkan menjadi inspirasi untuk melakukan banyak perubahan, koreksi dan peningkatan kualitas yang akhirnya akan pelan-pelan meningkatkan citra MA. Konsep progresif memberi peluang besar kepada MA untuk mengangkat citra dan reputasinya. Untuk menuju ke arah itu, diperlukan determinasi dan keberanian MA mematahkan dominasi cara berhukum selama ini. MA tidak hanya berhenti menjadi lembaga yang menerapkan hukum, melainkan juga secara visioner membentuk Indonesia masa depan yang penuh dengan keadilan.

Tuan Hatta Ali, jadikanlah kepemimpinan Yang Mulia  sebagai awal menuju Mahkamah Agung yang progresif!

Please follow and like us:
17