Frigi-Frigi Write

Konstruksi Lukisan Iswanto (Bag. 2)From Bodies to Imagescape

Sistem kerja pikiran yang memproses imajinasi dengan obyek yang dikuasai oleh subyektivitas pelaku proses. Berbagai hasil proses yang keluar merupakan bentangan yang tidak ada habisnya, bentangan tanpa batas, dan  tanpa tepi. Itulah kerja abstraksi yang imajiner. Rangkaian berpikir seperti ini membutuhkan aspek kognitif untuk membentuk pengertian mendasar tentang apa yang harus diungkapkan dalam rangkaian berpikir tersebut.

Disinilah sekumpulan hasil fantasi dari alam pikir dijadikan format untuk membuat formulasi, dimana berbagai pola yang terpakai untuk merangkai sistem kerja berpikir untuk menganalisis hasil fragmentatif pikiran menjadi sesuatu yang lebih berharga. Hasil pikir yang bertebaran dan bersifat fantasi merupakan material dasar untuk mengungkap bagaimana pengertian bawah sadar muncul menjadi gambaran tentang pengertian alam pikir.

Sebenarnya ini proses nyata dan dapat dilihat secara psikologis, ketika orang menghadapi sesuatu yang tidak dimengerti, atau ketika mencoba memahami sesuatu yang hendak dikendalikan dalam alam pikirnya. Peran tubuh menjadi sesuatu yang menarik, secara psikologis akan tarik menarik dengan apa yang dipikirkan. Aspek kognitif inilah yang mengundang pameran ini menjadikan tubuh sebagai pemicu utama atau sesuatu yang mendasar untuk merangkai pengertian tentang apa yang ada dihadapan sebagai motif.

Melalui image, bahkan imagescape yang ada disekeliling, motif personalitas dalam hal pemikiran untuk memunculkan pengertian image sebagai suatu cara sensible memperlihatkan kemampuan kognitif. Ron Burnett menganggap ini sebagai simulasi atas dinamika pemunculan image tersebut. Berbagai rangsangan image yang dimunculkan melalui game, sinema dan televisi merupakan rangkaian terluas, hasil berpikir, dan kembali lagi pada sisi personal merangsang munculnya image. Pengertian image secara personal ditunjukan oleh perupa yang berpameran disini dengan mendasar. Baik yang mewujud dengan simbol, terutama simbol corporate atau lebih ke tubuh-tubuh yang terangkai dengan warna yang dekoratif untuk menghadirkan hasil fantasi.

Rangkaian memberi pengertian pada imagescape secara personal dalam lingkup simulasi sebagai cara mempermudah sistematika pembacaan. Hasil berbagai image mengurung dinamika kultural dalam arah yang lebih jelas dalam rangkaian memperluas dan memberi kedalaman. Korelasi pemikiran diatas dengan kultur munculnya imagescape yang membentang dalam ranah kehidupan sosial merupakan motif juga. Dimana personalitas imajiner yang ada dalam subyek menjadi uraian sekaligus obyek yang dapat dipertunjukan dalam satu ruang, walaupun ruang itu dalam satu bagian, inilah persimpangan.

Tubuh menjadi bahasa visual Iswanto. Baik itu tubuh yang bukan manusia seperti kuda. Secara konstruksi visual bukan tubuh utuh yang di ekspresikan Iswanto tetapi persinggungan dengan dunia di luar tubuh. Hingga secara ekspresi warna Iswanto menyibaknya dengan membuat konstruksi dengan berbagai warna pada tampilan lukisannya. Iswanto menerjang batas antara visual tubuh yang harusnya dilindungi garis tetapi dibiarkan bebas dengan warna-warna cerah. Kadang membuat guratan dengan pisau palet memanjang ke bawah.

Mungkin ini bahasa emosional Iswanto dalam memperlihatkan visual yang perseptif tentang tubuh-tubuh tersebut. Iswanto lebih membuat rancangan kebertubuhan dengan imagescape gayanya sendiri. Iswanto lebih mewarnai penampakan tubuh dengan gaya visualnya. Karakteristik semacam ini membuat imagescape dalam kebertubuhan mempunyai ciri khasnya. Iswanto lebih mempunyai gaya lukisan yang memunculkan warna dan bentuk khas dirinya. Mungkin, ini kelebihan untuk membangun tanda dengan warna dan cara dirinya memahami dengan luas persinggungan tubuh dengan sesautu diluar tubuh itu sendiri.

Foto: “Kuning untuk Semua” Oil on Canvas, 200 x 150 cm – 2012 (www.iswanto.com)

Konstruksi Lukisan Iswanto: Makna Warna (Bagian 1)
Konstruksi Lukisan Iswanto: Tanda Dalam Membuat Konstruksi Visual (Bagian 3/Habis)

Please follow and like us:
24