Editor's Note

FITRA, Musibah dan Berkah

Geger di lembaga Kejaksaan. Para insan Adhyaksa terkejut, kesal, prihatin sekaligus malu. Penyebabnya, pada medio Juli silam, lembaga Pegiat Antikorupsi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) mengumumkan hasil penelitiannya: “Kejaksaan lembaga negara terkorup.”

Tidak main-main, potensi alias peluang korupsi lembaga Adhyaksa tersebut mencapai Rp 5,43 triliun untuk tahun anggaran 2008-2010. Jaksa Agung Basrief Arief, Wakil Jaksa Agung Darmono, Kapuspenkum Adi Toegarisman dan sejumlah pejabat Kejaksaan sibuk memberikan respon dan klarifikasi. Data temuan dan kesimpulan FITRA tersebut dianggap Kejaksaan sebagai data bodong, tidak akurat, tidak masuk di akal, lebay alias berlebihan.

Temuan FITRA semacam itu dikategorikan fitnah. Fitnah FITRA semakin menenggelamkan lembaga Kejaksaan pada lubang gelap ketidakpercayaan publik, merusak nama baik dan kian meruntuhkan citra serta kewibawaannya. Siapa pun pasti sakit hati. Pasti juga ada insan Adhyaksa yang meneteskan air mata, apalagi insan Adhyaksa yang selama ini telah bekerja keras, berprestasi, memiliki integritas yang baik, tetapi tidak pernah diketahui publik.

Sesungguhnya hari-hari belakangan ini Kejaksaan juga telah memperlihatkan semangat reformasi dan perubahan di banyak lini. Dalam hal laporan keuangan di tahun 2011 misalnya, Kejaksaan berhasil meraih predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Ini predikat terbaik pertama dalam sejarah Kejaksaan dan Kejaksaan bertekad mempertahankannya di tahun 2012 ini.

Satgassus Penyelesaian Barang Rampasan dan Penyelesaian Barang Sita Eksekusi juga berhasil mengembalikan uang hasil barang rampasan dan sita eksekusi Rp 150 miliar lebih di tahun 2011 dan niscaya di penghujung 2012 Satgassus tersebut mampu meraih Rp 200 miliar lebih. Bidang Pidsus juga juga semakin geliat. Kian banyak tersangka korupsi yang disidik dan disidangkan. Masih banyak pula prestasi lainnya.

Sayangnya semua capaian yang bagus tersebut kurang atau bahkan tidak diketahui publik. Ini terjadi karena lemahnya komunikasi lembaga Kejaksaan. Komunikasi di Kejaksaan selama ini tampak jelas hanya ditempatkan pada fungsi teknis, bukan pada fungsi strategis. Persoalan dengan FITRA misalnya, Kejagung tidak bergerak cepat melakukan konferensi pers khusus.

Sebaliknya media massa yang proaktif mencari dan mencegat Jaksa Agung untuk meminta penjelasan. Dengan demikian sudah saatnya Kejaksaan mereformasi komunikasinya. Tidak usah sungkan-sungkan bekerja sama dengan perusahaan jasa konsultan komunikasi yang mengerti benar dunia Kejaksaan.
***

Setega itukah Kejaksaan melakukan korupsi? Rasanya tidak masuk di akal. Banyak pihak juga berpendapat bahwa temuan FITRA ini sungguh ganjil. Seharusnya FITRA lebih akurat, lebih adil, bijaksana, profesional, dalam menyodorkan data nan sensitif sebab itu juga pertaruhan kredibilitas FITRA. Sepatutnyalah FITRA cek dulu ke Kejaksaan Agung ihwal benar tidaknya data tersebut.

Kejaksaan sebenarnya bisa membawa FITRA ke meja hijau. FITRA bisa terkena delik penghinaan atau pencemaran nama baik atau fitnah yang diatur dalam KUHP. Tetapi syukurlah, Kejaksaan tidak mengambil langkah hukum, sebab langkah semacam itu terlalu lebay dan justru menimbulkan kontraproduktif. Tak perlulah. Apalagi ini bulan suci Ramadhan, bulan penuh berkah dan bulan penuh pengampunan.

Harus juga disadari, tidak sepenuhnya FITRA keliru. Di balik kekeliruannya, pasti ada sisi kebenarannya. Jaksa Agung, Wakil Jaksa Agung mengakui lembaganya rawan korupsi. Fakta juga bicara, selama ini banyak jaksa penuntut umum atau jaksa lainnya melakukan korupsi atau menyeleweng dalam menyelesaikan perkara. Banyak juga jaksa yang diduga kongkalingkong menyelewengkan barang bukti, barang rampasan, barang sita eksekusi dan seterusnya.

Temuan FITRA ini merupakan musibah bagi Kejaksaan. Kita sepakat, musibah harus menjadi berkah. Anggap saja ini cambuk yang dapat melecut untuk bergerak maju dan lebih berprestasi. Ejawantahkan teori Norman Vincent Peale agar selalu berpikir positif (rendah hati) ketika dilecehkan, dihina atau difitnah. Hendaklah kepala tetap dingin dan kuping juga tidak perlu merah jika dikritik. “Anda tidak berhak dipuji kalau tidak bisa menerima kritikan,” begitu kata Halle Berry.***

Please follow and like us:
20