Budaya

Seni dalam wilayah domestik

Subyektivitas dalam ruang ternyata memberi keleluasaan diri kita untuk membentuk atau memberi pengertian terhadap ruang personal dan ruang sosial. Kedua ruang ini memberi pengaruh yang begitu kentara terhadap kehidupan kita sehari-hari. Dimana lingkungan dan jejak langkah terekam dalam perilaku kita. Melalui wilayah domestik, kedua ruang dapat diperlihatkan dalam waktu yang hampir bersamaan. Karena wilayah domestik juga memperlihatkan bagaimana kita berinteraksi dengan lingkungan.

Selain memperlihatkan ruang personal. Interaksi antar sesama juga menunjukan bagaimana wilayah domestik juga menjadi penilaian dari sisi sosial. Jadi wilayah domestik tidak berdiri sebagai subyek per subyek tetapi juga subyek dengan sekeliling, dalam kondisi bahwa subyek dengan lingkungan terbatas. Bukan masyarakat luas. Persoalan-persoalan ini yang dibahas pada pameran Domestic Stuff yang diselenggarakan di Rumah Seni Cemeti, Jogjakarta dari 12 Juli-25 Agustus 2012 dan 14 April – 6 Mei 2012, Gallery Salihara, Jakarta.

Pameran ini memperlihatkan bahwa seni bukan lagi terlihat sebagai karya personal, si seniman, tetapi hasil interaksi dua subyek. Dimana pemikiran antara keduanya menjadi satu dan membentuk problem solving dari lingkungan sekitar. Kondisi semacam ini sudah tidak terhindarkan, karena nilai interaksi dalam kehidupan ternyata menghasilkan sesuatu dalam kshidupan sehari-hari. Format interakasi menjadi formula utama dimana tema dari aktivitas juga menentukan perspektif gerak wacana subyek.

Seperti yang dijelaskan dalam pengantar pameran tentang pengertian, “Domestic Stuff adalah sebuah proyek mengenai wilayah domestik, dan persoalan-persoalan yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Apakah konsep yang hakiki mengenai hal-hal domestik dan bagaimana seluruh lingkup kemampuan domestik, yang tak dapat kita hindari harus dilakukan setiap hari, mempengaruhi proses berkarya kita?”

Pertanyaan mendasar dari proyek ini adalah tentang pengaruh terhadap proses berkarya, dimana si seniman hidup. Tentu ini pengaruh dari lingkungan, subyektivitas ini sangat umum ketika dibalik menjadi apakah besar pengaruh publik terhadap proses hidup si seniman. Jika memang besar tentu pada masyarakat biasa juga mengalami hal ini. Maksudnya pengaruh tentang berbagai kehidupan merasuk dalam lingkungan orang pada umumnya, tidak hanya pada karyua seni. Kontekstualisasinya jika dibalik tentu memberi pengertian tersendiri. Tingkat manfaat proyek ini akan dapat merangsang orang pada umumnya untuk membuat refleksi atas kehidupannya terhadap dunia luar.

Sebenarnya ini adalah masalah sehari-hari, seni menjadikan sudut pandang kontemporer untuk membuat pijakan atas tematik yang sedang berlangsung. Sehingga secara wacana mempermudah untuk meluaskan penjabaran yang hendak dilakukan kelak. Proyek wacana semacam ini sanagat bermanfaat untuk menguji sejauh mana subyektivitas orang dalam menyerap lingkungan ketika membuat problem solving terhadap suatu kasus.

Pameran yang melibatkan tujuh ‘pasangan’ interaktif ini mencoba mengungkap permasalahan yang berbeda, diantaranya: Ariani Darmawan – Ferdiansyah Thajib, Lidyawati – Amrizal Salayan St. Parpatih, Maria Indria Sari – Samuel Indratma, Melati Suryodarmo – Afrizal Malna, Mie Cornoedus – Setu Legi, Restu Ratnaningtyas – Agung Kurniawan, Sekarputri – Mufti ‘Amenk’ Priyanka. Rekaman interaktif mereka terbentuk dalam karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini.

Mella Jaarsma, kurator pameran ini juga memberi penjelasan dalam pengantarnya bahwa Louise Bourgeois adalah salah satu contoh seniman yang terus menerus berkarya layaknya autobiografi, diilhami oleh trauma masa kecilnya mendapati bahwa pengurus rumah tangganya yang berkebangsaan Inggris adalah juga gundik ayahnya, Destruction of the Father (1974). Titik tolak karya-karyanya adalah penyelidikan terus-menerus ke dalam masa lalunya untuk memastikan kebenaran pengalamannya. Namun, karya terakhirnya mencermati persoalan-persoalan bersama, yang juga berhubungan dengan para pemirsanya: ibu, seksualitas, feminisme, hal-hal domestik, dominasi kekuasaan, pengkhianatan, kegelisahan dan kesendirian.

Pameran ini telah memberi sedikit refleksi bagaimana ruang domestik, dapat menghasilkan suatu daya untuk memperlihatkan sejauh mana kekuatan kita dalam melihat subyektivitas dalam hidup sehari-hari tanpa mengganggu orang lain tetapi terbantu dengan kondisi orang lain yang mengajak kita untuk ber interaksi. Mungkin itulah kegunaan interaksi dalam kehidupan ini.(Frigidanto Agung)

Please follow and like us:
0