Frigi-Frigi Write

Orde Seni Lukis Mooi Indie

Perkembangan seni lukis dari Raden Saleh hingga Persagi memperlihatkan bagaimana seni lukis modern mencari posisi dalam kehidupan bangsa. Semua tidak lepas dari periode dimana mereka hidup dan gagasan lukisan yang mereka kembangkan. Pada masa pendudukan Belanda, sekitar akhir abad 19 hingga awal abad 20, banyak berdatangan pelukis-pelukis dari Eropa.

Awal abad 19, pelukis-pelukis yang berkembang pada masa itu masih melihat bahwa pemandangan alam sebagai obyek utama untuk dilukis. Jika mereka tidak belajar atau mendapatkan guru lukis dari Belanda tetap saja tidak ada pengaruh terhadap lukisan-lukisannya. Sedangkan mereka yang mendapatkan pengaruh akan mengembangkan diri pada lukis potret atau lukisan figur-figur. Hingga terjadi, lukisan-lukisan yang mereka hasilkan berupa lukisan potret pesanan dari pejabat-pejabat kolonial.

Kompetisi untuk melukis potret yang dilakukan pelukis pribumi sangat ketat. Masing-masing mendekati pejabat, khususnya setingkat gubernur jendral, untuk dilukis. Raden Saleh sebagai salah seorang yang hidup pada masa itu tidak lepas dari kerja semacam ini. Dimana tempat disitulah dirinya melukis pejabat yang berwenang. Sedikit sekali yang melukiskan keadaan masyarakat bawah, pada umumnya. Penekanan obyek lukisan ini hingga awal abad 20.

Bahkan muncul julukan untuk periode ini dalam duni seni lukis dengan istilah Mooi Indie. Ciri lukisan pada masa ini adalah pemandangan, atau alam yang terlihat secara indah. Sesuatu yang diluar perasaan, tetapi terlihat keelokannya. Obyek inilah yang diburu oleh pelukis pendatang dari Eropa tersebut. Tidak lepas dari karakter-karakter yang dipaparkan diatas kanvas dari penduduk-penduduk tempat mereka tinggal. Terutama di Pulau Bali. Hingga awal abad 20, banyak pelukis yang menggunakan istilah tersebut. .

Hal ini di tunjukan dalam Leo Hacks and Guus Maris, Lexicon of Foreign who Visualized Indonesia 1600-1950. Singapore Archipelago Press, 1995. Menandai pada tahun 1930,istilah Mooi Indie sebenarnya pernah dipakai untuk memberi judul reproduksi sebelas lukisan pemandangan Hindia Belanda karya cat air Du Chattel yang diterbitkan dalam bentuk portfolio di Amsterdam. Istilah itu menjadi populer setelah S.Sudjojono memakainya untuk mengejek pelukis-pelukis pemandangan dalam tulisannya pada tahun 1939. Bersumber pada artikel S.Soedjojono, Seni Loekis di Indonesia Sekarang dan Yang Akan Datang, dalam Seni Loekis, Kesenian dan Seniman, Diterbitkan : Penerbit Indonesia Sekarang, Yogyakarta, 1946.

Menurut M.Agus Burhan, dalam bukunya Perkembangan Seni Lukis Mooi Indie sampai Persagi di Batavia, 1900-1942, diterbitkan Galeri Nasional Indonesia, 2008. Suasana Polemik Kebudayaan pada tahun 1938, mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pergerakan perjuangan di negeri ini. Sehingga muncul organisasi-organisasi yang membawa semangat kejuangan. Persagi, akronim dari Persatuan Ahli Gambar Indonesia, lahir pada 23 Oktober 1938. Organisasi ini merupakan organisasi pelukis pribumi yang pertama di Hindia Belanda, juga mencari estetika baru dengan semangat Nasionalisme.

Bahkan S.Soedjojono mengungkapkan dalam artikelnya Seorang Seniman dengan Sendirinya Haroes Seorang Nasionalis, diterbitkan Keboedajaan dan Masyarakat, Januari 1940. Selain itu menurutnya: lukisan-lukisan Mooi Indie itu barangkali bagus, namun rasa kemanusiaannya tidak ada. Bahwa karya-karya pelukis itu merupakan pekerjaan yang genie (berbakat luar biasa). Walaupun demikian lukisan-lukisan itu terasa kosong tidak berjiwa, karena redup spiritnya dimakan oleh nafsu mencari uang. Kecenderungan yang demikian berbahaya sekali, sebab kalau nafsu itu sudah mendalam ia harus tunduk pada kemauan publik.

Pengaruh publik terhadap seniman ternyata sangat besar, bagaimana perkembangan seni lukis sebelum tahun 1900 atau awal abad 20? Berbagai cara untuk membuat karya dilakukan, terutama melukis pemandangan dengan obyek-obyek daerah yang indah untuk dilukis. Hal ini banyak dilakukan pelukis-pelukis Eropa yang masuk ke negeri ini. Kemudian membawa hasil karyanya ke Eropa seperti Du Chattel. Sedangkan cara melukis pemandangan banyak juga dilakukan oleh pelukis Mooi Indie sendiri. Tidak ada gagasan tentang bagaimana mewujudkan lukisan dengan menunjukan masayarakat pada umumnya kala itu. Kecuali lukisan tradisi yang berbasis lokal yaitu lukisan perempuan Bali. Lukisan figur semacam ini berkembang kemudian.

Raden Saleh yang hidup pada masa Belanda ketat menjejakan kaki di negeri ini adalah salah satu orang yang belajar dari pengaruh Eropa tersebut. Hingga dia berpindah tempat tinggal di Eropa ketika berusia 16 tahun untuk belajar melukis. Raden Saleh sendiri mulai belajar melukis di tahun 1822 dari Theodorus Bik. Setelah dia bertemu pelukis Belgia Antoine Payen. Menurut Werner Kraus, dalam artikel Raden Saleh di Jerman yang dimuat di jurnal Kalam edisi 21 tahun 2004. Jelas sekali disini bahwa pengalaman belajar menggunakan alat lukis ditentukan oleh awal dimana pelukis mendapatkan gurunya.

Raden Saleh menghabiskan sebagian hidupnya di Eropa, dimana dia tinggal dan bersahabat dengan bangsawan-bangsawan Eropa. Seperti Ratu Inggris Victoria, penguasa Prancis Louis Phillipe, Raja Belanda Willem II, Duke Ernst II, penguasa Sachen, Coburg dan Gotha. Mungkin inilah yang menyebabkan Raden Saleh lebih memilih melukiskan obyek di luar negerinya sendiri, pergaulan kelas atas dengan kaum bangsawan. Selain itu dia juga tidak kental bergulat tentang perkembangan negerinya sendiri. Walaupun saat berada di negerinya sendiri menemukan bahwa Belanda menggunakan tak tik perang dengan tipu muslihat, seperti saat menangkap Pangeran Diponegoro. Raden Saleh melukiskan dengan penuh kesan bahwa yang terlukis tentang Diponegoro adalah keadaan saat terakhir kali sang pangeran ditangkap. Ini salah satu karya yang bersentuhan dengan kondisi bangsa saat itu.

Lain dengan perkembangan ketika seniman diberi kebebasan untuk mendirikan organisasi, setelah Belanda mulai memberi sedikit kebebasan pada rakyat. Persagi sebagai organisasi modern pertama dalam dunia seni lukis Mooi Indie, mencoba mendekatkan diri pada karya-karya yang bersentuhan langsung dengan keadaan masyarakat. Sehingga dalam organisasi Persagi sendiri penuh interaksi dengan debat-debat yang mengemukakan keadaan sosial masyarakat. Serta lukisan-lukisan yang dihasilkan pada masa itu cukup heroik, tentang perjuangan. Menjauh dari lukisan-lukisan pemandangan.

Kecenderungan ini membawa obyek-obyek lukisan anggota Persagi mempunyai pendekatan nyata dalam kehidupan pada masa itu. Seperti, lebih melukiskan kehidupan sekeliling mereka, mengambil obyek dari hal yang paling dekat dengan lingkungan, bahkan keluarga mereka dijadikan obyek untuk membuat presentasi pada lukisan. M.Agus Burhan dalam bukunya Perkembangan Seni Lukis Mooi Indie sampai Persagi di Batavia, 1900-1942, diterbitkan Galeri Nasional Indonesia, 2008, menyebut bahwa Persagi sebagai agen pembaruan seni lukis Indonesia.

Anggota-anggota Persagi: Soeaib, Soediardjo, Suromo, S.Toetoer, Soerono, Rameli, Agus Djaja, Herbert Hoetagaloeng, Abdoel Salam, Soekirno, S.Soedjojono. berjuang mendekatkan obyek lukisan dengan situasi sosial pada masa itu. Mungkin inilah yang menyebabkan Persagi begitu monumental dalam kehidupan berkesenian. Organisasi merangkai kehidupan nyata dan gaya lukisnya. Pendekatan ini yang membuat Persagi berkembang bahkan dari pameran ke pameran selama organisasi aktif menjadi tonggak perkembangan seni lukis.