Budaya

Penelusuran Sejarah Gula

Jakarta– Gula ternyata mempunyai sejarah panjang. Melalui berbagai foto dokumentasi dan poster pada abad 19. Ternyata memberi inspirasi terhadap suatu kegiatan seni. Melalui pameran dengan tema keberadaan gula dan pabrik-pabriknya di berbagai wilayah di Pulau Jawa khususnya dipaparkan dalam foto dokumentasi yang dipamerkan di Kunstkring galeri seni,Jl.Teuku Umar No.1. Menteng, Jakarta Pusat.

Pameran dari sebuah proyek kolaborasi antara ruangrupa dan Noorderlicht, judul pameran Sugar Town, Inc. Pembukaan: Jumat, 23 November pameran berlangsung hingga 14 Desember 2012. Pameran ini merupakan kolaborasi dengan beberapa seniman Jakarta diantaranya Aprilia Apsari, Henry Foundation, Marishka Soekarna, M.G. Pringgotono, Rio Farabi, Saleh Husein.

Berbagai acara akan di gelar dalam diantaranya:lokakarya video Sugar Fiction dengan peserta: Ajeng Nurul Aini, Dian Komala, Jayu Julie, Mira Febri Mellya, Nastasha Abigail Koetin, Raslena. Serta diskusi “Sugar Stories in Indonesia” pada hari Minggu, 2 Desember 2012. 14.00 WIB , dengan pembicara: Andi Achdian, sejarawan dan editor Majalah Loka. Martin Suryajaya, penulis filsafat dan editor www.indoprogress.com dan Jompet Kuswidananto, seniman. Moderator: Leonhard Bartolomeus, penulis dan peneliti seni rupa. Diskusi ini akan berlangsung dalam Bahasa Indonesia dan Inggris

Melalui pameran koleksi arsip foto dan karya seri fotografi dalam proyek berjudul The Sweet and Sour Story of Sugar ini, sejarah masa kolonial di Indonesia diceritakan kembali. Proyek ini dibuat oleh Noorderlicht, sebuah institusi fotografi terkemuka dari Belanda. The Sweet and Sour Story of Sugar adalah proyek investigasi fotografi yang membandingkan proses globalisasi yang terjadi melalui komodifikasi gula. Ini cerita tentang gula yang terjadi di empat negara berbeda yaitu Belanda, Brasil, Indonesia, dan Suriname. Di masa lalu, keempat negara itu saling terkait dengan kolonialisme, dengan Belanda sebagai pelabuhan utama dari perdagangan gula tersebut.

Hasil penelitian proyek ini adalah ratusan arsip foto pada abad 19 dan 20 dari empat negara tersebut, yang kemudian dibandingkan dengan seri fotografi karya enam fotografer pilihan Noorderlicht, yang memotret kondisi industri gula di empat negara tersebut pada awal dekade kedua abad 21. Hasil proyek tersebut kemudian dilanjutkan untuk diolah kembali menjadi bentuk presentasi yang baru, dalam suatu kolaborasi internasional bersama sejumlah institusi seni di Brasil, Suriname, dan Indonesia. Kolaborasi dilakukan Noorderlicht dengan WZM-Platforma Brasil Holanda di Sao Paolo, Brasil; dan dengan Tembe Art Studio di Paramaribo, Suriname. Di Indonesia, Noorderlicht bekerjasama dengan ruangrupa di Jakarta, dan Langgeng Art Foundation di Yogyakarta.

”Sebagai kurator dan penyelenggara proyek The Sweet and Sour Story of Sugar di Jakarta, ruangrupa membuat proyek seni yang dipresentasikan dalam bentuk program pameran, yang dilengkapi dengan program lokakarya video dan diskusi publik. Pada program pameran, ruangrupa mempresentasikan proyek ini dengan mengutamakan pendekatan lokal yang khas, intim, dan personal. Arsip-arsip foto diolah ke dalam berbagai kemasan produk konsumsi dan cenderamata yang berhubungan dengan gula, dan dipresentasikan di ruang galeri dalam wujud barang-barang dagangan di suatu toko kelontong dan kedai kopi bernama Sugar Town, Inc. Lokakarya video menggubah arsip fotografi ke dalam karya video dan film dengan berbagai pendekatan, dilihat dari sudut pandang seniman muda. Sementara program diskusi membahas hubungan gula dengan nasionalisme di Indonesia dan kaitannya dengan problem nasionalisme di era globalisasi, perburuhan, dan sikap pekerja seni terhadapnya”,demikian Ruangrupa dalam siaran persnya.***(Gung)

Please follow and like us:
0