Headline News

KY Menduga Hakim Sudharmatiningsih Bersikap Parsial Dalam Kasus Chevron

Direktur PT Green Planet Indonesia (GPI) Ricksy Prematuri menjalani sidang dengan agenda putusan terkait kasus bioremediasi di PT. Chevron Pacifik Indonesia di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Selasa (7/5). FOTO ANTARA/Wahyu Putro A.

JAKARTA  — Hakim Sudharmawatiningsih, telah dilaporkan istri terdakwa Ricksy Prematuri, Ratna Irdiastuti dan istri terdakwa Herland Bin Ompo, Sumiyati ke Komisi Yudisial (KY). Laporan yang dilakukan pada hari Selasa (14/5) ini sebagai wujud dugaan diskriminatif atas putusan yang dibuat majelis hakim pengadilan tindak pidana korupsi Jakarta, pada kasus Bioremediasi PT Chevron Pasific Indonesia. Ricksy dan Herland masing-masing adalah Direktur PT Green Planet Indonesia dan Direktur PT Sumigita Jaya (PT SJ), rekanan Chevron.

Ketua KY, Eman Suparman, menegaskan, pihaknya akan mempelajari laporan pelapor dugaan keberpihakan majelis hakim yang diketuai Hakim Sudharmawatiningsih. KY juga menurut eman akan mempelajari video persidangan dan berkas-berkas informasi yang telah diberikan pelapor. “Harusnya hakim tersebut imparsial atau netral. Terlihat jaksa diberi waktu panjang, sementara kuasa hukum diberi waktu pendek, maka hakim itu sudah bersikap parsial,” ucap Eman di Press Room KY. Meskipun begitu, KY tidak bisa membatalkan atau mengubah putusan yang sudah dijatuhkan kepada terdakwa Ricksy dan Herland.

“Apapun yang sudah terjadi dalam persidangan, ya sudah. Tapi kami akan tetap menelusuri ada apa yang sebenarnya terjadi pada sikap Majelis Hakim,” imbuhnya.  Dalam pembacaan putusan beberapa waktu lalu, salah satu Hakim, Sofialdi menyatakan dissenting opinion dengan memutus bebas murni. “Ada something wrong dalam persidangan ini. Nanti kita lihat, apakah ada majelis hakim yang berperilaku busuk atau tidak,” tegasnya.

Banyak Kejanggalan
Menurut Nur Ridhowati, selaku kuasa hukum istri terdakwa mengatakan, ada beberapa hal yang dinilai janggal dari majelis hakim yang memimpin persidangan.  “Tenggat waktu yang diberikan majelis hakim bagi kuasa hukum Ricksy dan Herland untuk menghadirkan saksi-saksi cuma kurang lebih satu minggu. Sedangkan kepada Jaksa Penuntut Umum bisa mencapai 4 bulan. Ini diskriminatif,” ujar Nur yang juga menyatakan dari 24 saksi yang diajukan hanya 9 saksi saja yang bisa hadir dalam sidang.

Dalam putusannya, majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta yang diketuai Sudharmawatiningsih menghukum Herland dengan pidana penjara 6 tahun dan denda sebesar Rp 250 juta subsider 3 bulan penjara. Sedangkan Ricksy dihukum 5 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 2 bulan kurungan. Herland dianggap terbukti melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana Pasal 2 ayat (1) UU Pemberantasan Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. Majelis juga membebankan PT SJ untuk membayar uang pengganti sebesar AS$6,9 juta.

Sementara 4 dari 5 terdakwa lainnya dalam kasus ini berasal dari PT CPI, yakni Endah Rubiyanti (ER), Widodo (WD), Kukuh (KK), dan Bachtiar Abdul Fatah (BAF) masih dalam proses persidangan. Sedangkan satu tersangka lagi, Alexiat Tirtawidjaja (AT) hingga kini masih berada di California, Amerika Serikat.***(Tian)

Please follow and like us:
17