Special Report

Menggalang “Asset Recovery Inter-Agency Network” Untuk Asia-Pasifik

Pengantar

Pada 4-5 Desember 2012 lau, COO Majalah REQuisitoire, Retno Kusumastuti,  berada di kota Seoul, Korea Selatan. Retno berkesempatan meliput hajatan “Expert Meeting For ARIN (Asset Recovery Initiative) in Asia Pasific Region.” Pertemuan dihadiri oleh para ahli asset recovery dari Australia, China, Indonesia, Costarica (perwakilan Gafisud), Singapura, Thailand, Jepang, Selandia Baru, Europol, Korea Selatan dan UNODC sebagai pemrakarsa. Berikut laporannya.
————————————-

Satu lagi langkah antisipatif yang ditawarkan oleh UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime) melalui Supreme Prosecutor’s Office of Republic of Korea, yaitu menggalang kerja sama informal antara Asset Recovery Office (ARO) di Asia dan Pasifik.  Langkah ini dilakukan sebagai reaksi terhadap peningkatan kejahatan lintas batas dan pencucian uang yang meningkat sangat tajam pada beberapa tahun  terakhir,  bahkan diperkirakan akan terus meningkat beberapa tahun mendatang.

Sebagaimana diketahui, selama ini para pelaku kejahatan seakan-akan “kebal hukum.” Dikatakan demikian, karena mereka boleh saja dihukum secara fisik, hidup di bui selama bertahun-tahun, toh, itu tidak berarti pula, harta mereka juga ikut masuk dalam penjara atau ludes. Begitu keluar dari penjara,  uangnya tetap utuh, tetap banyak dan tidak mematikan bisnisnya.

Dapat dipastikan, era semacam itu akan segera berlalu. Para penjahat bakalan tidak lagi hidup enak setelah melakoni kehidupan setelah dibui.   UNODC percaya bahwa dengan adanya jejaring informal yang dibangun di wilayah Asia-Pasifik akan membuat para pelaku kejahatan semacam itu tidak akan lagi “kebal hukum.” Para penegak hukum di dunia ini pun telah siap bergerak melakukan perlawanan terhadap pergerakan jaringan kejahatan mereka.

Singkirkan ego
UNODC yang diwakili oleh Jennifer Bramlette, Programme Manager and Senior Advisor of UNODC, menghimbau para ahli asset recovery untuk sejenak menyingkirkan ego. Jennifer juga mengimbau dan mengingatkan untuk tidak lagi  memiliki pendapat bahwa satuan kerja masing masing negara dapat memerangi jenis kejahatan ini tanpa perlu bantuan kerja sama dengan negara lain.

Kerja sama antara negara atau antara lembaga penegak hukum terkait, lanjut Jennifer, mutlak diperlukan, sebab, kejahatan lintas batas yang terorganisir saat ini sangatlah kompleks, apalagi didukung para pengacara nan tangguh dan cerdik. Kerja sama itu menurut Jennifer, antara lain, dalam bentuk koordinasi, tukar-menukar informasi, pertemuan dan diskusi dengan ahli yang dilakukan secara efektif dan simultan.

Ahli asset recovery dari Australia, Michael Petty menjelaskan keinginannya agar ARIN AP (Asset Recovery Initiative Network for Asia Pacific Region) yang akan dibentuk ini, tidak hanya berkenaan dengan pembekuan, penyitaan dan pemulihan aset hasil kejahatan korupsi saja seperti yang selama ini dilakukan oleh STARR INITIATIVE, tetapi dapat menjadi jembatan dalam segala hal yang berkaitan dengan penelusuran, pembekuan serta penyitaan aset hasil dari segala bentuk atau jenis  kejahatan.

Hal-hal yang dimaksudkan Michael antara lain: DRUG TRAFFICKING, WEAPON TRAFFICKING, HUMAN TRAFFICKING dan lain-lain. Selain berhubungan dengan segala hal yang berkaitan dengan pembekuan, pemblokiran dan penyitaan barang hasil kejahatan, ARIN AP diharapkan dapat memberikan manfaat dalam peningkatan kualitas (capacity building) para penegak hukum negara anggotanya.

Mengenai berbagai kendala yang dihadapi dalam menjalin kerja sama setara dengan MLA (Mutual Legal Assistance),  mengingat sistem hukum yang berbeda antara satu negara dengan yang lain, Jill Thomas dari Europol menegaskan, jangan jadikan itu sebagai alasan. Harus dicari jalan keluarnya. Para penegak hukum di negara manapun, tidak boleh kalah melawan penjahat dan kejahatan itu harus ditumpas.  Apabila terfokus pada kendala yang ada, maka dipastikan para penegak hukum di seluruh belahan dunia, kalah sebelum berperang dan mau membiarkan kejahatan semakin merajalela. Tak akan pernah pula kita mampu melakukan penyitaan segala bentuk aset hasil kejahatan yang di tempatkan di negara lain.

Jill yang juga merupakan CARIN Secretary menyarankan agar para penegak hukum yang juga para ahli asset recovery, tidak boleh lelah menyuarakan kehadiran perundangan-undangan mengenai penyitaan aset hasil kejahatan, ya terutama negara-negara yang belum memilikinya. Dan bagi negara yang sudah memiliki undang-undang terkait dan masih memiliki kelemahan di sana-sini, harus diperjuangkan untuk direvisi.

Pertemuan di Seoul tersebut dimanfaatkan pula oleh para peserta untuk saling berbagi pengalaman serta pengamatan dan pendapat mereka terkait dengan “conviction based” and “non-conviction basedsystem yang mereka temui di negara masing-masing yang terjadi selama ini. Kesempatan yang sama juga dimanfaatkan oleh perwakilan negara Singapura dan Jepang untuk menggali lebih dalam mengenai kerja sama informal yang selama ini dilakukan oleh CARIN, ARINSA dan RRAG.

CARIN Contact untuk Indonesia, Chuck Suryosumpeno dan Apsari Dewi juga menjelaskan keuntungan yang didapatkan selama menjadi anggota CARIN yang dirasakan sangat berguna bagi kegiatan yang berkaitan dengan Asset Tracing (pelacakan asset) dan Asset Recovery.

Pendanaan
Disinggung juga masalah dana. Jika ARIN AP terbentuk, dipastikan membutuhkan dana yang tidak sedikit. ARINSA misalnya, membutuhkan US$ 320,000 per tahun untuk membiayai kegiatan kesekretariatan, pelatihan dan membayar gaji ahli serta fasilitas yang dibutuhkannya. Oleh karena itu UNODC berusaha melakukan penggalangan dana pada negara-negara donor.

Berkenaan dengan pendanaan untuk sekretariat ARIN AP, perwakilan dari Indonesia berpendapat bahwa walaupun network seperti ini sangat berguna dalam memerangi kejahatan, namun bila pendanaannya dibebankan seluruhnya pada negara anggota, tentu saja sangat memberatkan. Oleh karena itu, Indonesia menganjurkan agar permasalahan pendanaan ini dibicarakan lebih jauh dan lebih detail di kemudian hari sebelum penentuan STEERING COMMITTEE MEETING.

Capacity building
Peningkatan kualitas merupakan salah satu materi pembicaraan yang sangat menarik perhatian para peserta rapat, mengingat hal ini merupakan salah satu bentuk keuntungan yang diharapkan dapat diraih dalam kerja sama ini. Oleh karena itu, para peserta mencoba untuk berbagi pengalaman serta ide yang mungkin dapat berguna bagi peningkatan kualitas anggota ARIN AP.

Pertemuan diakhiri dengan makan malam bersama Jaksa Agung Korea yang diwarnai dinginnya hujan salju yang menyelimuti kota Seoul. Semoga indahnya rintik salju, mampu menyiratkan optimisme akan indahnya kerja sama informal yang terjalin antara para penegak hukum di negara Asia-Pasifik, demi memerangi kerasnya kejahatan.*** (Retno Kusumastuti)

Please follow and like us:
17