Headline News

MDGs 2015 Kedepankan Kemitraan, Kesinambungan dan Keadilan

NEW YORK, Selasa, 1 Oktober 2013 – Kemitraan global dalam pembangunan yang berkesinambungan dan berkeadilan menjadi tema sentral perbincangan dunia menjelang berakhirnya Tujuan Pembangunan Millennium (MDGs) pada 2015. Seperti diketahui, sejumlah prakarsa global telah digulirkan dalam rangka membicarakan agenda dan tujuan pembangunan dunia pasca-2015. Salah satunya adalah High Level Panel of Eminent Persons (HLPEP) on the Post 2015 Development Agenda. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun menjadi salah satu Ketua HLPEP bersama Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf dan PM Inggris David Cameron.

HLPEP adalah prakarsa Sekjen PBB, seperti halnya UN Sustainable Development Solution Network, UN Task Team, dan UN Thematic Consultation. Pada arus yang lain, lewat mekanisme antarnegara, prakarsa Open Working Group juga tengah berkhidmat menjalankan proses pengusulan Tujuan Pembangunan Pasca-2015. Segenap prakarsa tersebut akan diolah, didiskusikan, dan diperdebatkan, sebelum akhirnya diketok palu dalam SU PBB 2015.

Tema kemitraan global dalam pembangunan yang berkesinambungan dan berkeadilan seperti tertuang dalam MDGs kembali digali dalam sebuah panel diskusi bertaraf internasional dengan tajuk “Kemitraan Global dan Pertumbuhan Berkesinambungan dengan Keadilan: Memastikan Jalannya Pembangunan di Dunia Pasca-2015” yang di sela-sela Sidang Umum PBB ke-68 di New York, Amerika, 27 September 2013 lalu. Penyelenggara panel diskusi ini tentu saja adalah pemerintah Indonesia.

Panel diskusi dihadiri 300-an delegasi peserta SU PBB dari berbagai negara mencakup masyarakat sipil, delegasi pemuda, hingga sektor privat. Panel dilangsungkan di ruangan utama Trusteeship Council dengan mengulas tiga prinsip dasar dalam pembangunan global yaitu kemitraan, kesinambungan dan keadilan.

Berangkat dari konteks itu, panel diskusi yang diselenggarakan Pemerintah Indonesia ini banyak menuai apresiasi. Panel menyepakati bahwa para aktor pembangunan harus mendorong agenda universal MDGs yaitu pemberantasan kemiskinan dan pembangunan yang berkesinambungan. Panel sepakat bahwa prinsip kemitraan, kesinambungan, dan keadilan bakal menjadi kunci kesuksesan pembangunan dunia masa depan.

Saat membuka dan memosisikan arah diskusi, Kepala UKP4 Kuntoro Mangkusubroto yang juga Ketua Komite Nasional Penyiapan Visi dan Agenda Pembangunan Pasca-2015 menekankan, “Tak ada pembangunan tanpa kemitraan, kesinambungan, dan keadilan. Kebijakan dan praktik pembangunan akan kehilangan jati dirinya jika ketiga prinsip ini dilanggar.”

Pembangunan masa depan, imbuh Kuntoro, bukan saja harus berpusat pada peningkatan kesejahteraan manusia (people centred), melainkan juga harus peka pada daya dukung bumi (planet sensitive) yang kian melemah jika pembangunan dijalankan secara business as usual.

Sementara itu, Kepala United Nations Development Group, Helen Clark menekankan pentingnya corak produksi dan konsumsi berkelanjutan yang membutuhkan aksi nyata dan serius dari negara-negara maju. Oleh sebab itu, ia mendesak PBB untuk benar-benat memikirkan perlunya menggelar pertemuan tingkat tinggi untuk membicarakan pembiayaan pembangunan dunia pasca-2015.

Menyambung Clark, sederetan pembicara dalam panel yang dimoderatori Deputi I UKP4 atau Sekretaris Komnas Agenda Pembangunan Pasca-2015, Heru Prasetyo, mendiskusikan ketiga prinsip pembangunan tersebut dalam berbagai konteks. Kesemuanya mendiskusikan tentang strategi aksi integral dan pembelajaran dari MDGs, beserta langkah-langkah pewujudan pertumbuhan berkesinambungan.

Para panelis yang turut mendiskusikan tema strategi dan langkah-langkah konkret MDGs tersebut adalah Direktur Eksekutif Badan PBB untuk Kependudukan, Babatunde Osotimehin, Duta Besar dan Utusan Khusus Papua Nugini untuk Perubahan Iklim, Kevin Conrad, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Pemuda, Ahmad Alhendawi dan dua tokoh eks-anggota HLPEP yaitu Menteri Luar Negeri Republik Colombia , Maria Angela Holguin dan Kepala Center for American Progress, John Podesta.

Dari sesi diskusi terbuka dengan para peserta panel menyepakati bahwa kemerataan dan keseimbangan, baik kemerataan antarmanusia maupun dengan lingkungannya, menjadi kunci dari semuanya. Ini berarti, di titik inilah kemitraan mendapatkan peran utamanya untuk memobilisasi sumber daya dan modalitas secara efektif pada setiap tingkatan pembangunan.

Panel pun ditutup oleh Asisten Sekjen PBB untuk Pembangunan Pasca-2015, Amina Mohammed, dengan rangkuman dan refleksi. Amina menegaskan bahwa dunia kini tengah menata diri untuk membangun. Oleh karenanya, akumulasi pengetahuan tentang pembangunan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

“PBB akan berperan penting dalam hal ini,” tandas Amina, “Namun peran ini tak bisa dilepaskan dari partisipasi semua pihak, baik itu pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat sipil.”

Please follow and like us:
20