Budaya

Pentas 70 Tahun Putu Wijaya Meniti Waktu Sebelum Senja

Jakarta – Helateater Salihara 2014 akan ditutup oleh penampilan Teater Mandiri. Kelompok teater yang dibentuk dan dipimpin oleh Putu Wijaya ini akan mementaskan tiga naskah yang juga ditulis oleh Putu Wijaya: Bila Malam Bertambah Malam (pernah dipentaskan di Helateater Salihara 2013), Hah, dan Jpret. Pementasan ini, dan peluncuran buku tentang Putu Wijaya, diselenggarakan dalam rangka perayaan 70 tahun Putu Wijaya.

 

 

Jika disimak karya karya Putu Wijaya menagamati masyarakat bawah dengan cara khas yakni dialognya. Seperti salah satu dialog Kroco memulai dan mengakhiri lakon ini dengan kalimat: “Nama saya Kroco. Sejak lahir saya kroco, sampai tua bangka saya tetap kroco. Setelah Reformasi saya masih kroco. Nanti sesudah pemilu saya kira  pasti saya tetap dijamin kroco. Sekali kroco tetap kroco.”

 

 

Putu Wijaya dikenal sebagai penulis lakon, cerpen, esai, novel, skenario film dan sinetron. Karya-karya sastranya diterbitkan dalam sejumlah buku. Putu telah menerima beberapa penghargaan sastra, antara lain SEA Write Award (1980), Anugerah Seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1991), dan Penghargaan Achmad Bakrie untuk Kesusastraan (2007).

 

Putu mendirikan Teater Mandiri di Jakarta pada tahun 1971. Pada awalnya, Teater Mandiri membuat pertunjukan untuk televisi. Kemudian, lewat lakon Aduh pada 1974, Teater Mandiri mulai tampil di Taman Ismail Marzuki (TIM). Sejak saat itu, Teater Mandiri secara rutin berpentas di TIM. Pertunjukan Teater Mandiri banyak memainkan anasir visual, di samping ceritanya yang kerap mengejutkan penonton. Selain di dalam negeri, Teater Mandiri juga telah menggelar sejumlah pentas di luar negeri.

 

Berbagai acara menyertai 70 tahun Putu Wijaya, bertempat di Komunitas Salihara, Jl. Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520, diantaranya:

 

 

Peluncuran buku tentang Putu Wijaya

 

Jumat, 11 April 2014, 15:00 WIB

 

Serambi Salihara

 

Buku ini berisi sejumlah esai tentang sosok dan karya Putu Wijaya, baik di bidang teater, sastra, maupun kebudayaan secara umum. Esai-esai itu ditulis oleh sejumlah orang yang dekat dan mengenal Putu Wijaya dan karyanya, antara lain Goenawan Mohamad, Ignas Kleden, Jakob Sumardjo, Toeti Heraty Noerhadi, Ajip Rosidi, Taufiq Ismail, dan Nirwan Dewanto.

 

 

Bila Malam Bertambah Malam

 

Karya/Sutradara: Putu Wijaya

 

Jumat, 11 April 2014, 20:00 WIB, Teater Salihara

 

Lakon pertama yang ditulis Putu Wijaya di Yogyakarta pada 1964. Temanya tentang cinta yang menerobos perbedaan kasta di Bali, antara Nyonya dan Pelayan, antara Tuan dan Pembantu. Lakon ini kocak dan penuh permainan akting.

 

Hah
Karya/Sutradara: Putu Wijaya
Sabtu, 12 April 2014, 20:00 WIB, Teater Salihara

 

 

Hah ditulis oleh Putu Wijaya saat ia tinggal di DeKalb, Chicago, Amerika Serikat. Dengan uang lotre Rp1 miliar, dapatkah seorang miskin mencalonkan diri sebagai seorang lurah? Siapa sebenarnya yang diuntungkan, si pemenang lotre atau si makelar?

 

 

Jpret
Karya/Sutradara: Putu Wijaya
Minggu, 13 April 2014, 20:00 WIB, Teater Salihara

 

 

Jpret ditulis pada 1999 menjelang pemilu. Seorang rakyat jelata yang terombang-ambing dalam suasana euforia demokrasi. Apakah pemilu bisa mengubah nasib kroco itu menjadi lebih baik?***

 

 

 

 

Please follow and like us:
14