Headline Outline

Bertindak dan Terus Bertindak

 

action-2

 

“Success is not about how hard you can hit,but how hard you can get hit and still keep moving forward.”

Rocky Balboa

Selalu ada pertanyaan ganjil yang mengganjal di benak karyawan atau pegawai dari setiap institusi dari waktu ke waktu. Banyak ruang kosong di posisi puncak namun sangat sedikit orang yang memiliki kualifikasi untuk mendudukinya serta mengisi posisi penting.

 

Bumbu Sukses
Seperti dijelaskan oleh seorang eksekutif, banyak orang yang “hampir” memenuhi syarat, namun sering ada bumbu sukses yang tidak dimiliki, yaitu kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu untuk mendapatkan hasil.

Setiap pekerjaan, apakah mengoperasikan usaha, melakukan penjualan, dalam bidang pemerintahan, militer, selalu membutuhkan orang yang fokus pada tindakan. Pimpinan tertinggi di setiap institusi akan mencari orang yang tepat untuk menjawab pertanyaannya. Apakah dia akan mengerjakan tugasnya dengan baik? Apakah dia seseorang yang memiliki inisiatif? Apakah dia dapat mencapai hasil yang diharapkan?

Semua pertanyaan itu memiliki kesimpulan, yaitu apakah orang ini adalah orang yang tepat untuk menduduki jabatan dan pandai bertindak. Ide cermerlang saja tidaklah cukup.

Para pimpinan, apapun insitusinya, selalu berpendapat “ide bagus yang dapat dilaksanakan dan dikembangkan adalah 100 persen lebih baik dari ide luar biasa yang mati karena tidak dapat ditindaklanjuti.”

Ketika kita mempelajari manusia, kita akan menemukan dua tipe manusia. Tipe manusia yang berhasil adalah ia yang aktif mengambil tindakan, menyelesaikan segala sesuatu serta menindaklanjuti ide dan rencana. Sedangkan tipe manusia yang sedang-sedang saja atau yang “kurang” sukses adalah orang yang pasif dan bukan pelaku. Tipe ini senang menunda pekerjaan hingga pada saatnya mereka mengetahui bahwa mereka tidak tidak dapat mengerjakannya karena tidak bisa atau terlambat.

Perbedaan kedua golongan ini terlihat jelas pada hal-hal yang sangat sepele. Golongan aktif akan merencanakan liburan dan mereka akan mengambil cuti untuk menindakjanjutkan rencana liburannya. Sedangkan golongan pasif merencanakan liburan tetapi mereka tidak mengambil cuti serta menundanya tahun depan saat tahu bahwa cutinya sudah terlewat.

Perbedaan juga muncul dalam hal-hal besar. Golongan aktif memutuskan untuk terjun ke bidang bisnis dan dia melakukannya sendiri. Golongan pasif juga ingin terjun ke bidang bisnis, namun dia dengan segera menemukan alasan yang sangat sempurna untuk meyakini bahwa hal tersebut sebaiknya tidak dilakukan.

Perbedaan kedua golongan ini juga terlihat dalam semua bentuk perilaku. Golongan aktif menyelesaikan segala hal yang ingin diselesaikannya. Hasilnya adalah keyakinan diri, rasa keamanan batin, pengandalan diri dan prestasi yang bagus serta pendapatan yang besar. Sedangkan golongan pasif tidak ingin menyelesaikan apapun yang ingin diselesaikannya karena mereka tidak mau bertindak. Akibatnya mereka kehilangan kepercayaan diri, hancurnya keyakinan diri dan akhirnya hidup dengan cara “biasa-biasa” saja.

Karena golongan aktif selalu berpikir lalu bertindak. Sebaliknya, golongan pasif berpikir lalu akan bertindak, tetapi tidak berbuat apa-apa. Mereka banyak kehilangan kesempatan karena selalu berkeras untuk menunggu sampai segala sesuatu 100 persen mantap sebelum mengambil tindakan.

Walaupun kedua tipe ini sama-sama menginginkan kesempurnaan, namun golongan pasif adalah golongan yang tidak pernah menyadari bahwa tiada hal yang benar-benar sempurna yang telah dilakukan atau dirancang oleh manusia.

Menjadi pribadi yang aktif bukanlah hal yang mustahil karena setiap individu yang membiasakan untuk bertindak pasti akan terbentuk menjadi insan yang aktif, bulatkan pikiran dan tekad untuk mewujudkan ide. Ia pun menjauhkan diri dari orang yang tidak memilikinya atau orang yang hanya bisa memilikinya tanpa keinginan untuk mewujudkannya.

 

Seandainya…
Setiap hari, ribuan orang mengubur ide yang baik karena takut untuk menindaklanjutkan keinginannya. Setelahnya, ide-ide ini kembali, seakan-akan menghantui hidup mereka.

Tanamkan dua pikiran ini dalam benak kita! Pertama, berikan nilai pada ide kita dengan menindaklanjutinya. Betapapun baik ide itu, jika kita tidak melakukan sesuatu, maka kita tidak mencapai apa-apa. Kedua, tindaklanjuti ide dan capailah ketenangan pikiran. Kita akan semakin sering mendengar orang berkata, ”Seandainya saya melakukannya sejak dulu….”

Suatu hal yang patut kita camkan dengan baik adalah tidak melakukan tindakan apapun akan membuat diri kita semakin dilanda ketakutan yang amat sangat. Oleh karena itu ambillah tindakan maka rasa takut dan gamang akan sirna dengan sendirinya! Seorang penulis sering mengeluh belum mempunyai ilham untuk menghasilkan tulisan apapun. Padahal sebenarnya menulis adalah pekerjaan kreatif yang menggunakan semangat menggerakkan jari jemari untuk menulis.

“Sekarang” adalah kata ajaib untuk menyongsong keberhasilan. “Esok”, “minggu depan”, “nanti”, “suatu saat” berarti “tidak akan pernah”. Maka sudah saatnya kita berkata,”Saya akan mulai sekarang juga!”

Please follow and like us:
20