Budaya Headline

Pameran Seni Rupa Pupuk Daru Purnomo Melacak Figur Patriotik

DSC_0018

Hanya dengan berekpresi kita bisa jujur pada segala hal, termasuk yang tabu, seronok serta naif. Itulah kenyataan hidup yang telah banyak dijalani, kenyataan hidup yang dapat mengungkapkan apapun yang telah membentuk karya, mengajarkan perenungan. Refleksi hasil eskpresi ada pada karya, yang akhirnya mempunyai sentuhan rasa yang terjabarkan dalam keseluruhan bentuk karya.

Berbagai ekspresi tubuh dapat dilihat pada 13-25 Agustus 2014, pada ruang utama Galeri Nasional Indonesia, Jl Medan Merdeka Timur 14, Jakarta. Pameran tunggal Pupuk Daru Purnomo, seniman peraih finalist Phillip Moris Art Award, 1994, memajang karya lukisan dan patung. Melalui berbagai material inilah karya hendak disampaikan membawa pesan, “Kegelisahan yang membuat saya ada”,demikian Pupuk menuturkan dalam wawancaranya.

Seperti karya dengan judul Last Man Standing. Sebuah gambaran tentang ketegaran, ketegaran yang bisa diperjuangkan dari usaha saya melawan keterbatasan, kerapuhan untuk bisa berdiri tegak meskipun cobaan hidup selalu mendera. “Saya tidak harus menguasai sesuatu tetapi saya hanya menjalani sesuatu, karena hidup harus dijalani dengan ketulusan dari apapun yang disodorkan hidup ini, kepadaku”,ungkap Pupuk.

Pria kelahiran Yogyakarta 16 Juni 1964 ini, lebih memperlihatkan figur-figur dengan ekspresif. Menelusuri jejak figure yang telah dibikin, baik berwujud lukisan atau patung seperti menelusuri jalan hidup berkeseniannya. Bagian yang paling dalam dari jalan menjadi seniman baginya adalah kegelisahan. Bagaimana kegelisahan menjawab hidup sehari-harinya berwujud pada karya-karyanya.

Semangat berkarya menjadi tumpuan bagaimana membuat wujud figure-figur dalam bentuk nyata dalam lukisan maupun patung. Berbagai gaya figur yang telah dibuatnya menjadi ikon dalam karyanya. Obyek tubuh menjadi pilihan, bagaimana memperlihatkan inner languange tubuh adalah cara membuat figur terwujud dalam karya. “Konsep hidup saya itulah yang telah banyak menginspirasi karya-karyaku”,ujarnya.

Bagaimana figur patriotik dijabarkan oleh Pupuk? Kehidupan patriotik dilihatnya secara luas. Sehingga apa yang terlihat dalam figur-figur yang diciptakannya adalah catatan perjalanan merunut lintasan hidup dari waktu ke waktu. Pupuk lebih menghayati tubuh sebagai suatu simbol untuk dipertunjukan bahasa kedalamannya. Bukan semata figure yang berwujud tubuh belaka. Itulah mengapa tubuh menjadi inspirasi dalam karya-karyanya.

Kegelisahan sebagai awal mula pencarian hingga diungkapkan Pupuk, “Selalu ada kegelisahan hidup. Bagi saya, berekspresi dan berkarya seni adalah cara ideal untuk berbagi”. Itulah yang selama ini dihayatinya untuk membentuk kedalaman figur patriotik dalam segala hal, yang berwujud karya serta sikap hidupnya seakan menyatu menjadi simbol patriotik dalam pikirannya.

Seperti figure yang berwujud pada Last Man Standing yang menggambarkan kegigihan menghadapi hidup. Melawan rintangan dalam hidup. Menegakan hidup dengan kekuatan kakinya sendiri. Serta menggunakan seluruh tenaganya untuk mengubah nasib. Bukankah ini nilai patriotik yang ditunjukan secara personal dan langsung menghadapi situasi yang sulit dibaca. Tetapi jiwa dan raga siapa menghadapi yang kesulitan. Itulah gambaran patriotik Pupuk Daru Purnomo dalam pameran tunggalnya kali ini. (Frigidanto Agung)

Please follow and like us:
17