Headline Outline

Mengabdi dengan Hati

Hadiah terindah yang ditawarkan kehidupan adalah
kesempatan untuk bekerja keras dan mengerjakan apa yang bernilai
untuk dikerjakan.

(Tung Desem Waringin)

Saya sering mengatakan secara lisan dan menulis di rubrik ini atau bahkan status facebook dan Twitter, “Sebaik-baiknya hasil sebuah pekerjaan, hasil yang terbaik tetap pekerjaan yang dilakukan dengan sepenuh hati.”

Saya mengatakan demikian karena terlalu banyak kita jumpai orang-orang yang melakukan pekerjaan tidak dengan sepenuh hati dan ini terjadi di berbagai lini kehidupan, seperti lini penegakkan hukum, legislatif yang merupakan wakil rakyat bahkan para pengambil keputusan di negeri ini yang juga menjalankan amanat rakyat.

Yang sering terjadi atau terlihat jelas oleh kita para rakyat adalah pekerjaan itu dilakukan tidak dengan sepenuh hati alias setengah hati atau hanya untuk mendapatkan pujian semata. Bekerja lalu mendapatkan pujian itu tidak (sepenuhnya) salah. Itu bagian dari pekerjaan (pelayanan) itu sendiri. Lalu di manakah bagian yang salah?

BELAJAR DARI THAILAND
Saat berada di Bangkok pada akhir Oktober hingga awal November 2012 lalu untuk meliput hajatan para jaksa sedunia, yakni, 17th Conference and Annual Meeting of International Association of Prosecutors (IAP). Laporan terkait sudah saya tuliskan di majalah REQuisitoire edisi ke-26 yang terbit akhir Desember lalu.

Ketika berlangsung hajatan tersebut, dari sejumlah jaksa Thailand dan sejumlah orang Thailand, saya mendapatkan informasi yang cukup banyak mengenai seorang jaksa wanita yang bernama lengkap Her Royal Highness Princess Bhajarakitiyaba, salah seorang cucu Raja Thailand yang kini bertugas sebagai Duta Besar Thailand untuk Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) di Wina, Austria.
Putri Bhajarakitiyaba yang sangat luar biasa !

Begini ceritanya. Saat terpanggil untuk menjadi punggawa hukum di Negeri Gadjah Putih itu, tepatnya menjadi jaksa. Beliau lalu secara khusus meminta agar ditempatkan di pelosok yang kekurangan tenaga jaksanya. Di daerah terpencil itulah sang putri mencurahkan segenap tenaga dan pikirannya. Ia hidup prihatin dan berempati pada para tahanan wanita yang ada di daerah penempatannya. Sejurus kemudian, terbersitlah keinginan dan tekadnya untuk membuat program khusus yang kemudian menjadi cikal bakal dari “Department of Corrections” di Thailand.

Acungan jempol dan apresiasi luar biasa pun berdatangan, tidak saja dari berbagai institusi dan masyarakat Thailand, namun juga dari dunia international. Buktinya, pada tanggal 21 Desember 2010, pada saat sidang umum PBB di New York, ditetapkan “The Bangkok Rules” yakni perlakuan khusus yang wajib didapatkan setiap tahanan perempuan di Thailand yang akhirnya diterapkan di seluruh dunia.

The Bangkok Rules yang merupakan inisiasi sang putri Bhajarakitiyaba, tidak hanya memberikan perlakuan istimewa tertentu bagi para tahanan wanita pada saat melahirkan serta suasana serta kondisi yang lebih layak, tetapi juga diberikan hak untuk menyusui.

Saat bercerita tentang sang putri muda yang luar biasa, para pembesar di AOG (Office of the Attorney) Thailand, kolega dan masyarakat selalu mengungkapkan dengan nada menggebu dan mata berbinar penuh rasa bangga. Mereka bahkan menekankan bahwa bukan kedudukan yang disandang sang putri yang membuat mereka bangga, namun pengabdian serta dedikasi yang dilakukan dengan hati tuluslah yang mampu membuat warga negeri itu bangga. Saya harus mengatakan, orang-orang yang telah mengatakan dan bersaksi tentang sang cucu raja itu mengungkapkannya dengan arif. Bila kita telaah lebih jauh, siapapun manusianya, mantan penjahat kelas kakap sekalipun, apabila ia melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat, tentu harus mendapatkan apresiasi positif sebagai pengganti reward.

UANG TAK MAMPU BICARA
Awal Desember 2012 lalu, saya diminta memberikan PRE-DEPARTURE TRAINING pada beberapa jaksa senior yang akan menjalani training khusus mengenai Asset Recovery di Belanda. Training tersebut merupakan implementasi kerja sama bilateral antara Kejaksaan Agung R.I., dengan Openbaar Ministerie (Kejaksaan Agung Belanda) yang ditandatangani pada awal November 2012 lalu di Bangkok. Ketika training itu, saya membeberkan sejumlah penilaian masyarakat dan media terhadap lembaga Kejaksaan yang masih buruk dan nyaris tidak ada penilaian yang baik. Ironis memang, padahal banyak juga prestasi Kejaksaan yang tidak diketahui masyarakat. Ketika itu, terungkap kekecewaan serta nada patah arang dari sejumlah peserta atas penilaian tersebut. Bagi praktisi kehumasan sekaligus praktisi media massa seperti saya, sangat disayangkan jika masyarakat hanya melihat dan mengetahui hal-hal yang buruk dari Kejaksaan dan tidak dapat melihat hal yang baik atau yang menjadi prestasi. Penilaian/anggapan atau citra buruk lalu mengabaikan citra baik atau hal yang baik dan berprestasi tidak bisa disangkal membuat nyali para jaksa terutama jaksa-jaksa yang selama ini telah bekerja dengan sepenuh hati, bersih dan baik, serta berprestasi, dapat menimbulkan hal yang biasa disebut dengan “demoralisasi.” Efeknya dapat berimbas pada kinerja dan loyalitas terhadap institusi. Hal ini patut menjadi lampu kuning tidak saja bagi para pimpinan di Institusi tersebut namun para pemangku kebijakan serta wakil rakyat untuk menelaah kembali apakah telah melakukan tugasnya dengan hati, karena kepemimpinan adalah soal mengelola hati.

Masih ingatkah pembaca dengan cerita saya tentang “jubah sang Kaisar di China” sebuah kisah perjuangan yang heroik dan mengharukan? Sekedar untuk mengingat kembali. Dikisahkan satu-satunya prajurit yang selamat dari sebuah pertempuran. Dengan tenaga yang tersisa, ia berusaha menghadap Kaisar untuk memberitakan kisah pilu kekalahan yang diderita dan berakhir dengan tewasnya seluruh pasukan (kecuali dia tentunya). Begitu mendengar kisah tersebut, Baginda Kaisar turun dari singgasana dan memeluk erat si prajurit lalu menyelimutinya dengan mantel yang saat itu sedang dikenakannya. Kaisar berucap, ”…Aku bersyukur kau masih hidup dan dapat berbakti pada negeri ini, sahabat…!”

Lalu tiba-tiba datang musuh dan hendak memanah kaisar. Dengan sigap si prajurit langsung menjadi tameng, menghadang panah musuh. Selamatlah kaisar. Dia rela mati demi membayar kebanggaan dan kehangatan yang didapatnya dari sebuah jubah.

Sengaja saya menceritakan kembali cuplikan kisah di atas karena itulah contoh kesetiaan, loyalitas, pekerjaan yang dilakukan dengan total dan yang terpenting dengan hati. Sesungguhnya para pemangku kebijakan dapat memotivasi munculnya loyalitas dari para pengikutnya dengan sesuatu yang sangat sederhana. Terkadang uang bahkan tak mampu bicara!

PENGABDIAN IDENTIK DENGAN PENGORBANAN
Barangkali para pembaca juga tercengang bila datang ke kota Yogyakarta dan menyempatkan berkunjung ke Keraton Kasultanan atau Kadipaten Pakualaman. Di sana masih banyak abdi dalem yang hingga detik ini memiliki gaji tak lebih dari Rp. 100.000,00 per bulan. Dengan gaji itu mereka bahkan dapat menyekolahkan anak-anaknya hingga sukses menjadi dokter, insinyur bahkan jenderal!
Bandingkan dengan para abdi masyarakat yang duduk di pelbagai kementerian dan institusi milik pemerintah bahkan wakil rakyat yang duduk di kursi dewan saat ini. Mereka memiliki gaji puluhan kali lipat namun terkadang masih bersungut-sungut minta standar kehidupannya dinaikkan. Padahal standar kinerjanya berada di luar ekspektasi masyarakat. Sebenarnya masyarakat dapat dengan mudah balik bertanya tentang motivasi para abdinya saat melamar dulu dan hampir seluruhnya menjawab “Ingin Mengabdi!” Jika pengabdian adalah dasar utama, maka tidaklah salah jika hingga saat ini masyarakat menginginkan standar pengabdian yang sesuai dengan keinginan mereka.

Kesimpulannya, kehidupan ini mengajarkan bahwa pengabdian selalu identik dengan pengorbanan dan selalu melakukan segala hal yang bernilai untuk dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur pada Sang Kehidupan.***

Foto: www.kratonpedia.com