Headline News

Sepanjang 2014, ICSID Menerima 40 Kasus Sengketa

Jakarta – International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID), sebuah lembaga arbitrase yang menyelesaikan perkara investasi internasional mengeluarkan Laporan Tahunan untuk periode 2014. Laporan ICSID mencatat, sepanjang tahun 2014, ada 38 kasus arbitrase yang berdasarkan konvensi ICSID dan 2 kasus arbitrase aturan tambahan ICSID. Semua kasus ini merupakan kasus yang baru terdaftar di ICSID sepanjang 2014.

Jika dilihat lebih detail, dasar bagi para pihak untuk setuju menyelesaikan
perkara dalam jurisdiksi ICSID bisa ditemukan dari berbagai sumber, seperti  hukum investasi, kontrak yang melibatkan antara investor asing dan negara penerima investasi serta perjanjian bilateral atau multilateral.

Kasus-kasus baru yang terdaftar di ICSID pada tahun 2014 terbagi menjadi
empat dasar yang menjadi dasar persetujuan para pihak ke ICSID.
Persentase terbesar, yakni 49%, berdasarkan Perjanjian Investasi Bilateral (BIT). Sedangkan kasus yang berdasarkan perjanjian di bidang energi atau Energy Charter Treaty (ECT) menempati posisi kedua, sebesar 22%. Kontrak investasi antara investor dan negara penerima investasi menjadi basis bagi 18% kasus baru. Dasar terakhir, sebesar 11%, adalah hukum investasi dari negara penerima investasi.

Perkara yang masuk ke ICSID merupakan perkara di bidang ekonomi.
Laporan ICSID tahun 2014 menunjukkan beberapa sektor ekonomi yang menjadi
perkara sengketa. Sebesar 35% perkara baru yang terdaftar di ICSID sepanjang
tahun 2014 merupakan perkara di sektor minyak, gas dan pertambangan.
Sedangkan perkara yang bersengketa di bidang tenaga listrik dan energi lainnya
sebesar 30%. Peringkat ketiga, ditempati oleh kasus yang bersengketa di sektor
industri seperti retail dan manufaktur tekstil, sebesar 17%. Setidaknya ada 3
sektor ekonomi yang persentasenya sama, yakni 5%. Ketiganya adalah
sektor informasi dan komunikasi, keuangan serta konstruksi. Sedangkan
sektor air, sanitasi dan perlindungan banjir menempati posisi terakhir, sebesar 3%.  (Praz)

 

Foto : www.icsid.worldbank.org