Headline News

Eric Holder Serukan Pentingnya Hak Pemilih Minoritas

Hak MinoritasAlabama – Ribuan demonstran berkumpul di luar Gereja AME Chapel bersejarah di Selma, Alabama untuk menunjukkan salah satu tindakan yang paling kuat dari era hak-hak sipil.

Jaksa Agung AS Eric Holder mengatakan dalam sebuah pidato di dalam gereja dengan menyerang keputusan Mahkamah Agung 2013 yang membatalkan bagian dari Undang-Undang Hak Voting saat ia menyerukan dorongan nasional yang baru untuk perlindungan bagi pemilih minoritas.

“Biarkan kita menjadi jelas,” kata Holder. “Sementara keputusan pengadilan 2013 menghapus salah satu alat yang paling efektif di Departemen Kehakiman, kami tetap tidak gentar dan tidak terpengaruh dalam mengejar hak kami sebagai warga Amerika.”

Hak suara berada di bawah serangan bahkan sebelum keputusan pengadilan tinggi, dengan minoritas besar legislatif negara, terutama di negara-negara yang dikuasai Partai Republik, lewat undang-undang identifikasi pemilih baru setelah tahun 2010.

Dua puluh dua negara menambahkan undang-undang pembatasan pemilih antara tahun 2010 dan 2014.

Hadir dalam acara bersama Holder yaitu Loretta Lynch, calon untuk menggantikannya, dimana ia akan menjadi wanita Amerika-Afrika pertama yang menjadi Jaksa Agung, Jeh Johnson, sekretaris keamanan dalam negeri,  Sekretaris kerja Tom Perez dan lain-lainnya.

Di luar gereja, banyak orang menyanyikan lagu-lagu hak-hak sipil dan di antara kerumunan ada teman-teman dan keluarga Michael Brown, remaja yang dibunuh oleh polisiberkulit putih Agustus lalu di Ferguson, Missouri.

Sebelumnya, Presiden Obama dan keluarganya mengunjungi kota Selma, di negara bagian Alabama untuk memperingati tonggak sejarah gerakan hak-hak sipil Amerika: peringatan ke-50 unjuk rasa dari kota Selma ke Montgomery dan peringatan 50 tahun ditandatanganinya UU Hak Memilih pada tahun 1965.

Obama, presiden Amerika keturunan Afrika yang pertama, berpidato di Edmund Pettus Bridge, dimana sekelompok besar pegiat hak-hak sipil secara brutal dipukuli pada tanggal 7 Maret 1965, dalam sebuah unjuk rasa damai yang berakhir dengan kekerasan dan dikenal dengan “Minggu Berdarah”.

Lima puluh tahun lalu sukar untuk dipercaya atau dibayangkan bahwa suatu saat nanti, seorang Amerika keturunan Afrika menjadi presiden Amerika, ketika pekerja-pekerja hak sipil mencari hak-hak mutlak bagi warga negara berkulit hitam yang secara rutin dipukuli. (Aan)

Please follow and like us:
0