Headline News

Tuntut Ringan Pelaku Penganiayaan, JPU Kejari Cibinong Akan Diperiksa

pemukulanJakarta – Malang nian nasib Maria Natalia yang menuntut keadilan atas penganiayaan yang dialaminya pada 4 Juli 2014 lalu, kini harus menghadapi kenyataan jaksa penuntut umum di Kejaksaan Negeri Cibinong yang hanya menuntut hukuman penjara satu bulan 10 hari kepada pelaku penganiayaan berat yakni terdakwa Sugeng Prianto.

Apalagi, saat penganiayaan berlangsung keenam anaknya menyaksikan pemukulan yang dilakukan Sugeng. Maria pun mengalami luka robek pada bagian bibir, memar di seluruh bagian wajahnya. Tak hanya itu, hidung Maria juga mengeluarkan darah segar. “Korban merasa tuntutan jaksa tidak adil dengan penganiayaan yang diterimanya. Jelas pasal 351 KUHP menyatakan hukuman maksimal adalah 2 tahun penjara,” kata kuasa hukum korban, Daud Ritonga di Jakarta, Minggu (10/5/2015).

Disamping itu, Daud berpendapat penyidik dan JPU setengah hati dalam menangani perkara ini. “Saya menyesalkan penanganan perkara ini seperti dipandang sebelah mata. Padahal klien kami ingin perlindungan hukum dan menuntut keadilan dari apa yang dialaminya,” imbuhnya.

Apalagi, sambungnya, setelah adanya perkara ini korban dan sekeluarga diintimidasi oleh pelaku dan kerabatnya. Bahkan, oknum pengurus RT setempat juga ikut terpengaruh dan berupaya mengajak damai untuk menyelesaikan perkara ini. “Oknum RT pernah 3 kali mendatangi rumah korban untuk menawarkan perdamaian dengan uang sejumlah Rp.25 juta. Tapi kita tetap ingin perkara ini naik ke persidangan,” ungkapnya.

Hal yang sama juga dirasakan anak-anak korban yang trauma atas apa yang dialami orang tuanya. Daud berharap, jaksa dapat memperbaiki kinerjanya dengan berintegritas. “JPU juga tidak menginformasikan bahwa terdakwa sudah menjadi tahanan kota. Saya harap JPU bisa menggunakan hati nuraninya dalam menangani kasus penganiayaan ini,” tandasnya.

Komisi Kejaksaan RI menanggapi kejadian tersebut menyatakan akan memanggil JPU yang bersangkutan untuk menerangkan alasan hukum pemberian tuntutan ringan tersebut. “JPU seharusnya melihat efek yang ditimbulkan dari kejadian tersebut. Baik moril maupun trauma yang dialami korban dan anak-anaknya. Kami akan menurunkan tim untuk meminta klarifikasi terhadap JPU tersebut,” singkat Ketua KKRI, Halius Hosen di Jakarta.

“Jika ditemukan pelanggaran atau perbuatan melawan hukum, kami akan merekomendasikan sanksi administrasi maupun pidana,” tegasnya.

Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan) mendesak aparat penegak hukum harus serius menangani kasus kekerasan yang menimpa Maria. “Kami minta polisi dan unsur penegak hukum lainnya memproses kasus penganiayaan Maria tidak berat sebelah. Terlalu ringan tuntutan 1 bulan penjara itu dan tidak sebanding dengan kekerasan yang diterima korban,” kata Komisioner Komnas Perempuan Magdalena Sitorus di Jakarta.

Dirinya juga meminta institusi kepolisian dan kejaksaan tetap menjaga prinsip persamaan di muka hukum dalam penanganan kasus tersebut. “Sangat timpang dengan luka dan efek psikologis yang dialami korban dan keluarganya. Kami minta majelis hakim bisa menghukum berat pelaku penganiayaan,” tuturnya.

“Harusnya aparat penegak hukum itu mengedepankan keadilan dan perlindungan bagi korban. Bukan justru bermain dengan pelaku kejahatan,” pungkasnya.

Terpisah, menurut praktisi hukum, Akbar Hidayatullah berpendapat tuntutan JPU dalam kasus ini serampangan. “Jelas ngawur jaksanya itu. Dengan luka berat yang diterima korban, seharusnya maksimal 5 tahun penjara. Bukan satu bulan penjara,” kata Akbar di Jakarta.

Dirinya menduga,ada manipulasi tuntutan seolah-olah penganiayan yang mengakibatkn luka ringan. “Patut diduga pula ada ‘main mata’ antara Jaksa dan terdakwa,” imbuhnya.

Untuk itu, lanjutnya, JPU yang menangani perkara tersebut harus diproses secara internal. “Karena terdakwa melakukan penganiayaan mengakibatkan luka berat. Ancaman hukuman penjara yakni 5 tahun,” pungkasnya.

Kejadian tersebut bermula ketika anak Maria tengah bermain pasir didepan rumah terdakwa. Melihat pasir yang digunakan untuk renovasi rumah berantakan, Sugeng lantas melabrak keluarga Maria dan meminta untuk membersihkan pasir yang berantakan tersebut. Sugeng dan suami Maria terlibat percekcokan. Maria pun berinisiatif melerai keduanya, namun naas, Sugeng melayangkan bogem mentah ke Maria secara membabi buta. (Chris)