Business Law Headline

Warisan dan Wasiat Lisan

Tanya:

Selamat siang,

Nama saya Risna, seorang ibu rumah tangga. Suami saya bekerja sebagai buruh pabrik dan saya kini mempunyai 2 orang anak yang masih sekolah. Saya sendiri adalah anak terakhir dari 3 bersaudara. Kakak saya yang pertama laki-laki dan kakak saya yang kedua perempuan. Dua tahun yang lalu, ibu saya meninggal dengan meninggalkan amanah yang dinyatakan ke kakak saya laki-laki bahwa seluruh harta peninggalan ibu saya dihibahkan ke kakak saya. Hal ini dikarenakan menurut amanah tersebut, almarhumah ibu memandang kakak saya yang kedua bersuamikan orang yang cukup mapan secara ekonomis dan saya dianggap boros.

Untuk itu, dalam amanah lisan tersebut, dinyatakan bahwa anak-anak perempuanhanya mendapat bagian yang sepantasnya menurut bagian yang dipandang wajar oleh kakak saya. Saya sendiri sedih ketika sepeninggalan ibu, saya mendengar cerita kakak saya tentang amanah Ibu. Maklum, diantara 3 bersaudara perekonomian saya adalah yang terburuk.

Bagaimana menurut Bapak? Apakah saya masih dapat menuntut hak saya sebagai anak dari almarhumah ibu? Saya takut aset-aset almarhumah dialihkan tanpa sepengetahuan saya. Bagaimana dengan tante saya yang bersekongkol dengan kakak saya untuk turut menguasai harta almarhum?

 

Jawab:

Ibu Risna Yth.

Sebelum saya menjawab pertanyaan Ibu, terlebih dahulu saya asumsikan beberapa hal berikut :

  • Almarhumah memberikan amanah lisan tersebut tidak di hadapan notaris/pejabat terkait yang berwenang.
  • Almarhumah ibu saudari tidak tunduk pada Hukum Islam, sehingga berlaku Kitab Undang-Undang Hukum Perdata terkait pewarisan.

Perlu diketahui bahwa wasiat di Indonesia terdapat 4 macam, yakni : wasiat umum (Pasal 938 KUHPerdata), wasiat olografis (Pasal 931-934 KUHPerdata), wasiat rahasia (Pasal 940 KUHPerdata) dan surat codicile. Dari keempat macam wasiat tersebut, hanya wasiat umum saja yang merupakan akta otentik, sisanya merupakan surat di bawah tangan. Akan tetapi keempat dokumen tersebut tertulis dan bukan lisan seperti yang Ibu maksud.

Adapun pada wasiat rahasia, dapat dimintakan pihak lain untuk menuliskan, namun pada akhirnya harus dibuat sebuah akta penyimpanan (Akta Superscriptie) sebagai wujud penyimpanan dokumen tersebut oleh notaris.

Setelah dibuat dokumen tersebut maka notaris wajib melaporkan keberadaan wasiat di Daftar Pusat Wasiat Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Untuk itu, jika hal-hal terurai di atas tidak terpenuhi,maka saya anggap amanah lisan tersebut tidak sah serta tidak dapat diberlakukan.

Pada praktiknya, sebuah wasiat lisan masih dapat diberlakukan, namun dengan syarat adanya minimal 2 (dua) orang saksi, bukti bahwa saksi-saksi tersebut beritikad baik dan tidak ada itikad buruk dari seluruh ahli waris dalam pelaksanaan wasiat.

Selanjutnya, menjawab pertanyaan Ibu apakah masih dapat diupayakan penuntutan hak waris dari pihak Ibu. Menurut saya, sangat bisa. Mengapa? Karena jika memang dengan penelusuran di Kementerian Hukum dan HAM RI tidak terdapat surat wasiat maka itu berarti berlaku hak Ibu sesuai Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata).

Adapun menurut Pasal 852 KUHPerdata, yang berhak atas warisan almarhumah adalah 1/3 bagian untuk anak pertama, 1/3 bagian untuk anak kedua dan 1/3 bagian untuk anak ketiga.

Perlu diketahui bahwa dalam waris menurut KUHPerdata terdapat 4 golongan, yakni Golongan Pertama meliputi suami/istri, anak-anak, Golongan Kedua adalah kakak adik dan orang tua, Golongan Ketiga adalah nenek-kakek, dan Golongan Keempat yakni saudara-saudara sampai derajat keenam. Dalam KUHPerdata dikenal prinsip golongan yang lebih kecil menutup golongan yang lebih besar, sehingga jika Ibu dan kakak-kakak Ibu masih ada maka Tante Ibu (atau kakak/adik almarhumah) belum bisa menuntut haknya.

Atas hak yang ibu miliki berdasarkan KUHPerdata tersebut, menurut saya, dapat dinyatakan dengan pembuatan Surat Keterangan Waris di kelurahan/notaris. Selanjutnya dapat dilakukan pengurusan atas aset-aset almarhumah dengan baik. Jika masih terdapat halangan dalam pengurusan atau jika saudara telah melakukan pendekatan-pendekatan diplomatis, namun belum juga berujung pada penyelesaian maka dapat diupayakan gugatan ke Pengadilan Negeri.***

Please follow and like us:
17