Headline Opini

ChryshnandaMletho, Aneh Tapi Ada

Mletho adalah sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa yang artinya boleh dikatakan tidak harmoni atau ada penyimpangan yang menyebabkan terganggunya atau bahkan menjadi disfungsionalnya suatu sistem. Mletho ini juga merupakan ungkapan atas kekecewaan sekaligus kerinduaan akan adanya keharmonian di tatanan kehidupan. Mletho ini juga sebagai kritik atas penyimpangan-penyimpangan yang terjadi.

Dalam kehidupan berkuliner ada nyilit (nyelipnya sesuatu di gigi) yang mengganggu kenyamanan mulut dan gigi. Istilah lain yang unik adalah kesrunggo atau terselipnya sesuatu di bagian tubuh yang menimbulkan rasa nyeri, bahkan bisa menjadi infeksi. Ada juga kliliben (mata yang kemasukan sesuatu sehingga mata tidak lagi dapat berfungsi secara sempurna. Mungkin hanya kriyip-kriyip saja sambil terus berair matanya. Slilit, kesrunggo, kliliben ini semua karena barang-barang yang kecil, tapi gangguannya sangat luar biasa.

Bagaimana dengan mletho? Mletho ini akibat dari hal-hal kecil, hal-hal sepele, tetapi sudah mengakar dan bahkan menjadi kebiasaan. Salah nek wis umum iku bener, bener nek ra umum iku salah. Segala sesuatu ketika sudah menjadi hal yang lumrah atau umum walaupun salah dapat dianggap benar, bahkan dibenarkan.

Beberapa contoh mletho dalam birokrasi yang membuat orang-orang di bidang yang hanya ada tantangan tanpa tentengan akan frustasi. Di bagian banyak pendapat kurang pendapatan maka orang pada stres. Tatkala ditempatkan pada bagian mata air, ia menjadi berbunga-bunga bagai hidup di taman dewa saat di bagian airmata seakan dunia sudah menjadi neraka.

Core value yang bertentangan antara yang ideal dengan yang aktual menyebabkan adanya stratifikasi dan klas jabatan yang tidak tersurat, tetapi tersirat dan walaupun mletho diakui ada dan diyakini keberadaannya walaupun jauh dan menyimpang dari kebenaran. Bidang-bidang yang sering mletho dan diminati antara lain: pembinaan SDM. Masalah yang dinanti dan diminati adalah bagian pembinaan karier yang dikenal dengan mutasi jabatan, bagian seleksi pendidikan, bagian perizinan, bagian kontrol atau pengawasan, bagian penegakan hukum atau upaya paksa.

Pesugihan

Mencari pesugihan dianggap sesuatu yang tidak direstui bahkan dilarang oleh semua agama atau kepercayaan kepada Tuhan YME. Menjadi sugih (kaya) bukan dilarang asal cara memperolehnya dari atau dengan cara yang baik dan benar. Pesugihan adalah cara-cara memperoleh kekayaan dengan cara-cara instan dan sering dikait-kaitkan dengan hal-hal yang ajaib atau gaib. Di dalam birokrasi apakah ada cara-cara pencarian pesugihan? Jawabannya ada. Lalu bagaimana caranya? Caranya memang beragam, namun pada prinsipnya adalah mencari posisi atau jabatan basah dengan cara-cara pendekatan personal atau yang tidak berbasis kompetensi. Entah dengan menyuap, entah dengan cara ABS (asal bapak senang) atau juga dengan mengintervensi, entah secara struktural atau melalui power-power yang ada di luar institusi. Katebelece pun bagaikan kembang setaman yang bisa menjadi syarat memproleh posisi jabatan basah tadi.

Mencari pesugihan dalam birokrasi merupakan hal yang bisa dikatakan mletho, tetapi ini justru yang diimpikan dan dicari banyak orang. Ketika mempunyai jabatan basah maka akan eksis hidup penuh senyum sukacita dan penuh dengan acara tebar pesona. Tatkala pada jabatan yang dianggap kering, mulailah hati merana, layu bagai bunga yang sudah tak mampu mekar. Senyum dan tebar pesona seakan hilang dan diganti dengan berbagai keluhan serta dukalara.

Ritual Mletho

Ritual mletho merupakan cara-cara yang tidak rasional dan tidak wajar dengan mengedepankan pendekatan-pendekatan personal dalam mencapai sesuatu dalam sebuah birokrasi. Mereka ini memberikan buluh bekti glondong pengareng-ngareng (memberikan hati, tetapi meminta imbalan) yang sebenarnya identik dengan “WPOP” (wani piro oleh piro). Pemetaan dalam ritual mletho dilakukan dengan basis untung dan rugi berdasarkan kriteria basah dan kering. Pada ritual-ritual mletho inilah yang akan menjadi standar keberhasilanya: asal ndoro (tuan) senang maka sukseslah penilaiannya. Ndoro kecewa, pasti dikutuk dan dilabelinya durhaka sebagai orang yang tidak tahu balas budi.

Ritual mletho ini bertingkat-tingkat dan ada stratanya. Semakin tinggi, semakin rumit dan kompleks. Di dalamnya perlu bakat-bakat dan kepekaan terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan pemlethoan. Memang mletho ini aneh, tetapi ada dan diyakini kebenarannya. Bagi orang yang waras pasti dianggapnya gila. Namun bagi yang sudah kecanduaan, inilah kebahagiaan surga dunia untuk pemenuhan sakau keduniawiannya.

Ritual mletho ini bukan perkara mudah. Ritual ini mempunyai risiko sosial yang besar. Bagi yang lihai maka akan dilabel loyal (walaupun sebenarnya identik dengan kegiatan mbabu). Bagi yang dilabel tidak loyal, PPG (pura pura gila) akan disingkirkan karena dianggap klilip, slilit yang membuat tidak nyamanya usaha-usaha pemlethoan. Sadar atau tidak ritual-ritual mletho merupakan akar yang kuat bagi tumbuh dan berkembangnya premanisme dalam birokrasi.

Ritual-ritual mletho ini sadar atau tidak sadar adalah kanker birokrasi yang harus segera dioperasi karena ini akan mematikan syaraf-syaraf birokrasi untuk menjadi peka terhadap upaya-upaya menuju profesionalisme. Tentu saja mengikis ritual-ritual mletho ini perlu ada keberanian dan kerelaan kehilangan previlese. Seseorang tentu saja akan kehilangan previlese karena para pemimpin birokrasi ini “eling” yang bermakna ingat. Ingat berarti tidak lali (lupa). Lali ini dalam bahasa Jawa dapat dikatakan ora eling (gila). Eling menunjukkan kesadaran. Bagi pemimpin yang eling sudah dapat dipastikan sadar dan tentu akan waspada, yang dapat dikatakan berani untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu, siap menghadapi tuntutan tantangan dan ancaman di masa kini serta mampu menyiapkan masa depan yang lebih baik. “Obat dari mletho adalah eling“.