Headline Spotlight

Pembunuhan Auditor BPKPKisah Tragis Pembunuhan Auditor BPKP di Sekupang

Krisman Irianto Hutahaean! Ia Auditor Madya dengan jabatan Koordinator Kelompok Jabatan Fungsional, Auditor Bidang Akuntan Negara pada Perwakilan BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) Provinsi Kepulauan Riau di Batam. Namun auditor lulusan STAN, kelahiran Pangkal Pinang 13 Desember 1965, yang dikenal profesional dan berintegritas itu, tewas dibunuh di kamar kos-nya di Batam pada 7 Februari 2014. Ada apa?

Syahdan, Kamis-Jumat, (6-7/2/2014), Krisman bertugas ke RSUD Tanjung Balai Karimun, tepatnya melakukan bimbingan teknis untuk sejumlah pegawai RSUD. Pada saat bersamaan, Krisman disibukkan mengaudit laporan keuangan beberapa Perusahaan Umum Daerah (Perusda) di Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

Usai bertugas di Tanjung Balai Karimun, pada Jumat siang sekitar pukul 11.30, Krisman tiba kembali di Batam dan mampir di tempat kos-nya sebelum ke kantor untuk rapat. Suasana siang itu, sepi, lantaran banyak orang menjalankan ibadah Sholat Jumat. Krisman sendiri tak Jumatan, karena nonmuslim. Jadi hanya Krisman dan seorang petugas laundry di rumah kos tersebut.

Di dalam kesunyian, datang tamu tak diundang, menyelinap ke dalam kamar kos-nya. Pembunuh yang diperkirakan lebih dari seorang, menghabisi nyawa Krisman dengan ditusuk (pada bagian dada, perut hingga ususnya terburai) dan tampak pula lehernya luka karena jeratan, begitu pula kakinya. Diperkirakan ada perlawanan dari Almarhum lantaran kamar kos nomor 3 itu, berantakan. Di kasur, darah segar berceceran.

 ***

Kira-kira siang menjelang sore, istri Krisman, Nurmaida Sitinjak, yang tinggal di kota Medan dan bekerja di BPKP Sumatera Utara, menghubungi Krisman. Sayang, dua buah HP-nya mati.  Teman-teman Krisman di BPKP yang juga menunggu rapat pada pukul 14.00, coba menghubunginya. Belasan kali dihubungi, HP tetap mati. Nurmaida galau. Ia lalu menghubungi Parel Sinaga, rekan Krisman yang juga bekerja di BPKP Kepri di Batam. Parel coba mengontak, ya sama saja.

Parel sempat mendatangi rumah kos Krisman, lalu menginformasikan Nurmaida, kamar kos Krisman tertutup. Tak ada sahutan kala pintu diketuk. Parel berkesimpulan, Krisman mungkin pergi ke satu tempat. Karena itu Nurmaida terus gelisah, apalagi lazimnya, saban hari Krisman rajin berkomunikasi dengan Nurmaida dan dua anaknya melalui HP.  Lazimnya di akhir pekan, Krisman selalu pulang ke Medan.

Sekitar pukul 18.00, Nurmaida menelepon dan meminta Raplan Lumbanbatu, rekan Krisman lainnya untuk menengok Krisman di tempat kos-nya. Raplan juga melaporkan, kamar Krisman tertutup dan gelap. Sejam berselang, Nurmaida menghubungi Konstantin Siboro, rekan Krisman di BPKB Batam yang menjabat kordinator bidang, namun ternyata Konstantin sedang di Sibolga.

Sejurus kemudian Konstantin menghubungi seorang staf BPKP Batam, Utje Sitinjak. Utje diketahui ikut mendampingi Krisman ke Tanjung Balai Karimun. Nurmaida sempat mendengar percakapan Utje dengan Konstantin via HP. “Kemarin Pak Krisman sudah saya antar sampai ke Sekupang kok,” jawab Utje.

Jarum jam mendekati angka pukul 20.00 malam. Nurmaida kembali menelepon Parel, memintanya mengecek keberadaan Krisman. Parel mengiyakan, lalu datang lagi ke kamar kos Krisman malam-malam. Lantaran kamar masih gulita dan penasaran, ia melihat dari jendela. Dan, betapa terkejutnya dia, Krisman yang ketika itu mengenakan baju kaos warna abu-abu dan celana pendek, sudah terkapar di lantai di balik pintu masuk kamar kos-nya.

Segera saja Parel yang panik melapor ke tempat kios pulsa, yang berada di depan rumah kos sekitar pukul 21.00. Setelah itu pemilik kios pulsa lapor ke Suroso, Ketua RT 02 RW 02, Kelurahan Sungai Harapan, Sekupang. Tanpa berlama-lama, Suroso melapor ke Polsek Sekupang.

Kegelisahan Nurmaida pun tak terkirakan.  Sekitar pukul 22 malam, tiba-tiba seseorang mengabarkan Nurmaida dan mengucapkan belasungkawa. Hati Nurmaida benar-benar tertusuk. Perempuan paruh baya itu menangis histeris. Terguncang jiwanya setali tiga uang dengan anak-anaknya, Jeremi Kristiadi (lahir 1996) dan Gabriella Pasya Irianti (lahir 2000). Keluarga, sanak saudara, terkejut luar biasa, pun berduka demikian pula dengan segenap pegawai kantor BPKP Kepri di Batam dan lainnya. Peristiwa tragis itu pun diurus Polsek Sekupang, Batam. Setelah olah TKP, mayat Krisman dibawa ke Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB).

***

Keluarga Krisman di Batam, Atik Ritonga dan suaminya, bergegas menuju kamar mayat RSOB di malam itu. Tampak, jenasah Krisman telah berada dalam kantong khusus. Di sana ada juga beberapa rekan kerja Krisman dari BPKP.

Jelang tengah malam, datang 3 pria tak dikenal ke RSOB. Seorang di antaranya berperawakan gemuk, pendek, berjaket, bertopi, berdiri di depan pintu masuk kamar mayat, sedang 2 lainnya berperawakan kurus menghampiri kantung mayat Krisman, melihatnya lalu memberi isyarat pada rekan mereka yang ada di dekat pintu. Sontak, Atik dan suaminya terkejut sekaligus bingung melihat ulah aneh tiga orang tersebut. Suami Atik menghardik hingga ketiganya pergi tanpa kata.

Besok paginya, keluarga Krisman dari Medan tiba di Batam dan sempat menyaksikan otopsi jenasah. Segera setelah itu, jenasah dibawa ke Medan dan pada Senin, (10/2/2014), jenasah dimakamkan. (Pras & Tian)