Budaya Headline

Pameran Lukisan Salute Medium Pergaulan Seni

Pameran SaluteJakarta – Ternyata pergaulan membutuhkan berbagai medium untuk menjembatani supaya menyatu dengan sekeliling. Apa yang dijadikan alat untuk suatu kelompok untuk mempunyai komitmen? Setiap orang selalu mencari cara bahkan membuat metode untuk menemukan tujuan yang dikehendaki. Inilah yang dijadikan gagasan dalam pameran bertajuk Salute yang akan berlangsung di Philo Art Space, Jl Kemang Timur 90 C, Jakarta Selatan 12730 dari pada 8 Juli-10 Agustus 2015.

Seniman yang ikut berpameran yaitu Tommy F Awuy, Jerry Thung dan Sonny Eska. Masing masing memajang lukisan untuk pameran kali ini, juga membawakan konsep yang mereka hadirkan dalam ruang pamer secara simultan di antara lukisan karya mereka.

Menurut Tommy F Awuy, pelukis sekaligus pemilik Philo Art Space ini mengungkap, wine, khususnya red wine (anggur merah) bagi sebagian orang sekarang ini dianggap bukan hanya sebagai minuman penghangat tubuh, namun “minuman hangat” dan penanda gaul bagi kelas tertentu. Seolah pada wine, kita sama-sama menemukan aku dan kamu sedang bercakap, senda gurau, saling mengadu perasaan dan seterusnya.

Minuman berbahan anggur yang mengandung alkohol berkadar ringan punya cerita terkait dengan mitologi. Tepatnya mitologi Yunani Kuno. Ceritanya pun boleh-boleh saja dianggap mitos teristimewa terkait dengan wacana identiknya wine dengan kehidupan.

Adalah Dewa yang bernama Dionysius dikenal sebagai “dewa anggur”. Dewa ini memiliki karakter yang ogah disiplin, berbaris rapi, manut pada otoritas dan sejenisnya. Dionysius tepatnya adalah dewa yang kegemarannya isengin para dewa-dewi, liar, dan barangkali bagi sebagian dewa menganggapnya sebagai dewa menyebalkan. Namun pada hematnya Dionysius adalah dewa yang penuh hasrat dan cinta, dewa yang anti-kemampanan.

Lain lagi dengan Jerry Thung yang mengambil tema gadget mengungkap tentang teknologi komunikasi memperpendek jarak, mempersingkat ruang dan waktu. Dunia internet mulai dibuka di Indonesia, pertengahan 90-an dengan eksternal modem sebesar buku dengan kecepatan sekian kbps, sekarang kecepatan menjadi sekian Mbps dengan modem tertanam dalam telepon genggam yang juga berkembang dari sebesar telepon rumah kemudian mengecil, menipis, kemudian melebar kembali karena ternyata kebutuhan manusia alat telepon untuk bicara menjadi alat baca, menjadi alat komunikasi utuh, audio-visual dan verbal. Dunia sekarang berada dalam genggaman.

Persoalannya siapa berada dalam genggaman siapa? Teknologi dalam genggaman kita atau kita yang berada dalam genggaman teknologi? Faktanya dari mulai kita bangun tidur sampai berangkat tidur telepon genggam dengan segala kecanggihan perkembangannya (gadget) adalah hal pertama dan terakhir disentuh. Bahkan sebagian besar orang mungkin 24 jam nonstop alat itu siaga. Ya, gadget atau gawai menjadi suatu keharusan, kebutuhan hidup sekarang.

Semua mempunyai upaya membuat pergaulan lebih langgeng “Ternyata kita semua memerlukan kesepakatan. Kesepakatan kita pakai dengan berbagai cara,” ujar Sonny Eska

Apa yang menjadi tematik dari konsep masing-masing seniman terlihat saling mengisi dan memberi tanda bagaimana pergaulan berlangsung saat ini. Bukankah ini tanda kontemporer? (Gung)

Please follow and like us:
0