Budaya Headline

Pameran Wani Ditata Project Seniman Perempuan Membaca Zaman

Wani DitataJakarta – Seni sebagai sebuah proyek, dimana di dalamnya terdapat berbagai kemungkinan pengembangan ide, baik secara kolaborasi dan individu, memang tidak terlalu dekat dengan sejarah seni rupa kita. Namun, jika merujuk pada sejarah yang telah dilakukan oleh para founding fathers seni rupa modern kita, sebenarnya ada yang sudah mengarah pada bentuk proyek seni seperti yang kita terjemahkan saat ini.

Lihat saja proyek poster revolusi pascakemerdekaan Indonesia yang digagas oleh S. Sudjojono dan Affandi bersama Seniman Indonesia Muda (SIM). Ia tidak hanya meletakkan seni sebagai kegiatan mendedah estetika rupa, namun menjadi alat perjuangan yang berkolaborasi dengan para penulis pada masa itu, seperti Chairil Anwar.

Pameran Wani Ditata Project merupakan cara bagaimana perempuan membaca zaman dan berbagai wacana sejarah yang bertebaran dikumpulkan dalam narasi atau konteks yang dikumpulkan dari bahan-bahan masa lalu oleh seniman peserta pameran.

“(Ini adalah) pembacaan ulang sejarah dari delapan seniman,” ungkap Angga Wijaya, kurator pameran. Peserta pameran itu adalah Aprilia Apsari, Julia Sarisetiati, Kartika Jahja, Keke Tumbuan, Marishka Soekarna, Otty Widasari, Tita Salina dan Yaya Sung.

Pameran bertempat di Galeri Cipta II, Jl. Cikini Raya No.73, Taman Ismail Marzuki,Menteng, Jakarta Pusat 10330. Pameran akan dibuka pada 3 Oktober dimeriahkan oleh penampilan Disrobot Radio dan Irama Nusantara.

Mulai 4 hingga 19 Oktober 2015 dibuka untuk umum. Pada 6 Oktober juga diselenggarakan diskusi bertemakan ‘Citra Dharma Wanita dalam Konstruksi Sosial’. Diskusi kali ini akan menghadirkan narasumber seorang aktivis Julia Suryakusuma, pengajar sekaligus kritikus sastra kontemporer Manneke Buddiman dan akan dimoderatori oleh Maulida Raviola. Ia adalah penggerak koordinator umum organisasi anak muda, Pamflet Generasi.

Proyek seni ini adalah tanggapan Komite SR-DKJ terhadap perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia, bahwa kegiatan seni yang mengarah pada riset dan fokus pada isu tertentu menjadi sangat relevan saat ini.

Relevansi proyek seni ini adalah bagaimana pengembangan kegiatan kesenian dengan durasi tertentu dan mendalami satu subjek wacana akan sangat berdampak pada perkembangan seni rupa kontemporer—di mana dalam proses kerja sebuah proyek seni terdapat produksi ilmu pengetahuan yang akan didistribusikan di akhir proyek. (Gung)