Headline Outline

Nothing Is Fair In This World!

“Forget injuries, never forget kindnesses”   (Confucius)

Di dalam kehidupan, semua orang pasti memerlukan keadilan. Di mana pun dan kapan pun. Namun tidak semua orang mendapatkan keadilan karena tidak semua orang pula mampu berlaku adil. Keadilan tersebut disingkirkan oleh sifat egois yang dimiliki oleh seseorang. Rendahnya kesadaran akan keadilan menimbulkan kesengsaraan bagi orang lain. Bahkan ada kalanya seseorang merasa bahwa ia tidak pernah mendapatkan keadilan sepanjang hidupnya. Benarkah ?

KEADILAN

Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian besar filsuf di dunia, “kejadian” memiliki tingkat kepentingan yang besar pada proses meraih keadilan. John Rawls, filsuf Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf politik terkemuka abad ke-20, menyatakan bahwa “Keadilan adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran.” Tetapi, menurut kebanyakan teori juga, keadilan belum lagi tercapai: “Kita tidak hidup di dunia yang adil.”

Kebanyakan orang percaya bahwa ketidakadilan harus dilawan dan dihukum mengakibatkan banyaknya gerakan sosial serta politis di seluruh dunia yang (katanya) berjuang menegakkan keadilan.  Patut dicatat, banyaknya variasi teori keadilan memberikan pemikiran bahwa tidak jelas apa yang dituntut dari keadilan dan realita ketidakadilan, karena definisi keadilan itu sendiri juga tidak jelas alias sumir.  Namun yang pasti, semua orang sepakat bahwa KEADILAN pada dasarnya adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya.

Di dalam perkembangan pemikiran filsafat hukum dan teori hokum, tentu tidak lepas dari konsep keadilan. John Rawls, melalui karyanya A Theory of Justice, dikenal sebagai salah seorang filsuf Amerika kenamaan di akhir abad ke-20.

Teori keadilan Rawls dapat disimpulkan memiliki inti sebagai berikut:

  1. Memaksimalkan kemerdekaan. Pembatasan terhadap kemerdekaan ini hanya untuk kepentingan kemerdekaan itu sendiri,
  2. Kesetaraan bagi semua orang, baik kesetaraan dalam kehidupan sosial maupun dalam bentuk pemanfaatan kekayaan alam atau social goods. Pembatasan dalam hal ini hanya dapat dizinkan bila ada kemungkinan keuntungan yang lebih besar.
  3. Kesetaraan kesempatan untuk kejujuran, dan penghapusan terhadap ketidaksetaraan berdasarkan kelahiran dan kekayaan.

Untuk meberikan jawaban atas  hal tersebut, Rawls melahirkan tiga prinsip kedilan, yang sering dijadikan rujukan oleh beberapa ahli yakni:

  1. Prinsip Kebebasan yang sama (equal liberty of principle),
  2. Prinsip perbedaan (differences principle),
  3. Prinsip persamaan kesempatan (equal opportunity principle).

Rawls berpendapat jika terjadi benturan (konflik), maka: Equal liberty principle harus diprioritaskan dari pada prinsip-prinsip yang lainnya. Dan, Equal opportunity principle harus diprioritaskan dari pada differences principle.

Keadilan menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah antara kedua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung ekstrem ini menyangkut dua orang atau benda. Bila kedua orang tersebut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka masing-masing orang harus memperoleh benda atau hasil yang sama, kalau tidak sama, maka masing – masing akan menerima bagian yang tidak sama. Sedangkan pelangggaran terjadap proporsi yang telah ditetapkan, disebut tidak adil.

Keadilan oleh Plato diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dikatakan adil adalah orang yang membiarkan diri dan perasaannya dikendalikan oleh akal.

Di lain pihak, Socrates memproyeksikan keadilan pada pemerintahan.

Menurut Socrates, keadilan akan tercipta bilamana warga negara merasakan bahwa pemerintah sudah melakukan tugasnya dengan baik.

Mengapa memproyeksikan pada pemerintah, sebab pemerintah dianggap sebagai pemimpin yang menentukan dinamika masyarakatnya.

Kong Hu Cu berpendapat bahwa keadilan terjadi apabila  terjadi konsistensi peran, anak sebagai anak, ayah sebagai ayah, raja sebagai raja, dan setiap individu melaksanakan kewajibannya dengan baik. Pendapat ini, tentu saja hanya terbatas pada nilai-nilai tertentu yang sudah diyakini atau disepakati sebelumnya.

Menurut pendapat yang lebih umum dikatakan bahwa keadilan adalah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak-hak dan kewajiban. Keadilan terletak pada keharmonisan menuntut hak dan menjalankan kewajiban. Atau dengan kata lain, keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh apa yang menjadi haknya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan bersama.

PEMULIHAN NAMA BAIK

Saat keadilan yang sangat diharapkan tidak muncul, berakibat hancurnya nama baik seseorang atau komunitas tertentu.

Di sisi lain, setiap orang diwajibkan secara moral menjaga dengan hati-hati agar nama  atau reputasinya baik atau tidak tercemar. Terlebih jika dia menjadi teladan bagi orang di lingkungannya, maka  hal ini merupakan kebangganan batin yang tidak ternilai harganya. Penjagaan nama baik sangat erat hubungannya dengan tingkah laku atau perbuatan. Sepenuhnya bergantung kepada cara menyikapi dan menjalani kehidupan, bersosialisai atau bermasyarakat.

Penjagaan nama baik terkait erat dengan tingkah laku atau perbuatan, yaitu cara berbahasa, cara bergaul, sopan santun, disiplin pribadi, cara menghadapi orang, perbuatan yang dihalalkan agama dan sebagainya.

Pada hakikatnya pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan segala kesalahannya; bahwa apa yang diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran moral atau tidak sesuai dengan akhlak yang baik. Hal ini juga berlaku pada kasus fitnah, pencemaran nama baik dan lain sebagainya.

Implementasi terbaik yang dapat dilakukan adalah pembuktian bahwa opini atau isu yang selama ini digulirkan oleh pihak lain, adalah bohong semata, seperti kata pepatah, “The best revenge is to prove what they think is wrong.”***

Please follow and like us:
24