Headline Special Report

Money Mules

Minggu kedua September 2014, Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Dr Muhammad Yusuf berada di Singapura. Yusuf antara lain menyampaikan kuliah umum pada sesi lunchtime talk di Lee Kuan Yew School of Public Policy, University of Singapore (NUS). Setelah acara itu, Yusuf  memenuhi undangan memenuhi undangan Kepala Suspicious Transaction Reporting Office (STRO) Singapura dalam menindaklanjuti kerja sama yang sebelumnya telah tertuang pada nota kesepahaman september 2013.

Kuliah Umum tersebut merupakan acara tahunan dalam rangka menyambut perayaan 10 tahun Lee Kuan Yew School Public Policy pada 17 Oktober. Selain Yusuf, pembicara top lainnya adalah Permanent Secretary, Ministry of Foreign Aff­airs France; Rector of the United Nations University  (Under-Secretary-General of the United Nations); Professor of International Politics, The University of Tokyo dan beberapa negara lainnya. Kegiatan ini dihadiri oleh associate professor, PhD Candidate, para mahasiswa/i master public policy dan juga para praktisi serta pemerhati isu-isu pencucian uang.

“Combating Money laundering in Asia Pacific”. Demikian tema ceramah Yusuf di NUS, antara lain menyampaikan pentingnya kerja sama lembaga FIU antarnegara. Dia memaparkan pengertian dan sejarah singkat pencucian uang, berikut efektifitas pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang melalui Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Dikatakannya, penegakan hukum tanpa pemidanaan pencucian uang adalah sia-sia, hal ini dikarenakan hasil kejahatan merupakan “live blood” dari kejahatan di mana uang atau aset adalah darah yang menghidupi kegiatan tersebut. Yusuf juga menjelaskan tentang pentingnya prinsip follow the money dan manfaatnya dalam pemberantasan kejahahtan dan perampasan aset hasil kejahatan. Kata Yusuf, “Di Indonesia, melalui pendekatan follow the Money, kita mampu memberikan nilai tambah bagi pengungkapan kasus dan perampasan aset.”

Yusuf juga mengeluhkan dampak negatif akibat tindak pidana pencucian uang yang antara lain telah merusak sendi-sendi perekonomian setiap negara hingga bisa mengganggu stabilitas perpolitikan setiap negara. Dia melansir laporan IMF yang menyebutkan total kejatahan tindak pidana pencucian uang di seluruh dunia yakni sebesar 2-5% dari Gross Domestic Product (GDP) dunia. “Ya mengerikan sekali. Dampak negatifnya antara lain seperti rusaknya reputasi bisnis, bisa mengganggu likuiditas bisnis yang sah serta menyulitkan otoritas moneter dalam mengendalikan jumlah uang beredar,” beber Yusuf.

EDD dan money mules

Sementara itu di Police Cantonment Complex, Singapura, Yusuf dan STRO antara lain membahas sejumlah hal penting di antaranya, memaparkan struktur kelembagaan, tugas, fungsi, dan kewenangan yang dimiliki oleh PPATK. Sebaliknya, STRO juga memaparkan hal serupa kepada delegasi PPATK. Disampaikan pula tindak lanjut atas 26 informasi laporan keuangan keuangan mencurigakan dari pihak STRO.

Kepala PPATK juga meminta kesediaan pimpinan STRO untuk dapat menyampaikan kepada pihak Monetary Authority of Singapore (MAS) untuk tidak lagi menerbitkan uang pecahan S$10,000,- dalam bentuk tunai, karena uang pecahan tersebut tidak logis dan sulit digunakan dalam keperluan transaksi sehari-hari. Pada kenyataannya uang pecahan S$10,000,- tersebut sering digunakan sebagai sarana penyuapan seperti pada kasus Gayus H Tambunan, kasus Akil Mochtar dan kasus SKK Migas.

Jika pihak MAS tetap mengedarkan pecahan S$10,000,- Kepala PPATK meminta harus dilakukan enhance due diligence (EDD) terhadap para pembelinya termasuk pihak WNI. Terhadap usulan tersebut pihak STRO sangat memahaminya dan berjanji akan meneruskan kepada pihak MAS.

Selanjutnya pihak PPATK menyampaikan usulan penjajakan kerja sama yang lebih intensif antara STRO dan PPATK dalam bentuk pertukaran program analis (analyst exchange program) seperti program serupa yang telah dilakukan antara PPATK dan AUSTRACT Australia. Dan dalam rangka pertukaran informasi terkait tipologi, pihak STRO menyampaikan tipologi Pencucian Uang terkini (money mules typology) yang berhasil mereka identifikasi;

(a)Money mules adalah skema pencucian uang yang digunakan para pelaku kejahatan dengan memanfaatkan orang-orang (mules) untuk memindahkan, menampung, dan mencuci hasil kejahatan yang pada umumnya berasal dari kejahatan cyber seperti penipuan via email, phishing, penipuan malware, atau penipuan melalui situs belanja online seperti e-bay, paypal, dll. Orang-orang yang dimanfaatkan sebagai money mules biasanya direkrut melalui media online seperti facebook, chatting, SMS, atau telepon serta dibayar oleh pelaku kejahatan dari hasil tindak pidana untuk jasa mereka memfasilitasi pencucian uang. Pihak-pihak yang dimanfaatkan sebagai money mules terkadang tidak menyadari bahwa mereka dimanfaatkan dalam skema ini, meskipun tidak sedikit pula yang menjalani peran mereka sebagai money mules secara sadar.

(b) Guna mendapatkan kepercayaan para money mules, pelaku kejahatan kerap menjanjikan kompensasi atas jasa money mules dengan memberikan sebagian hasil kejahatannya kepada orang-orang yang telah membantu mereka menampung dana hasil tindak pidana. Dalam tipologi money mules yang dipaparkan oleh STRO, diketahui bahwa sebagian besar korban mengklaim bahwa akun email mereka telah diretas oleh pelaku kejahatan. Setelah berhasil diretas, pelaku kejahatan akan mengirimkan instruksi pengiriman uang kepada pihak bank untuk melakukan transfer dana ke Singapura. Dana-dana inilah yang nantinya akan ditampung oleh money mules untuk selanjutnya diserahkan kepada pelaku kejahatan.

(c) STRO telah mengidentifikasi 49 bank yang menerima perintah pengiriman dana dari para pelaku kejahatan. Tidak ada bank tertentu yang menjadi target, sehingga mengindikasikan bahwa pelaku kejahatan lebih terfokus kepada korban perseorangan. Berdasarkan mutasi rekening dari para mules, STRO berhasil melacak tipologi aliran dana yang umumnya menggunakan media transfer dana. Dana hasil tindak pidana dikirimkan dari rekening korban ke rekening orang yang berperan sebagai mules via transfer telegrafik. Dana tersebut terkadang ditransfer kembali ke mules yang lain atau ditarik secara tunai. Metode lain yang kerap ditempuh adalah mengirimkan dana ke penerima manfaat (beneficiaries) yang lain melalui agen remitansi, pedagang valas, uang tunai, atau transfer telegrafik, yang kerap melintasi batas negara.

(d) Berdasarkan statistik yang dimiliki STRO, pada tahun 2012 terdapat 93 kasus yang dilaporkan dengan total kerugian mencapai USD 24.6 juta. Sekitar 11% dari hasil kejahatan telah berhasil disita oleh pihak berwenang Singapura. Laporan transaksi keuangan mencurigakan yang diterima STRO membantu mendeteksi kejahatan money mules sejak dini  dan memungkinkan aparat penegak hukum untuk membekukan dana di dalam rekening sebelum berhasil ditarik.

(e) Dalam hal pencegahan praktik money mules, STRO terus melaksanakan upaya sosialisasi kepada lembaga keuangan, perusahaan valuta asing, dan bisnis jasa pengiriman uang guna meningkatkan kewaspadaan usaha mereka disalahgunakan untuk mengakomodasi praktik money mules dan mendorong mereka untuk melaporkan keuangan mencurigakan apabila mereka menemukan transaksi yang janggal dan mencurigakan. STRO juga menyebarkan brosur dan bekerjasama dengan pihak media serta memanfaatkan media internet untuk menyebarluaskan ancaman kejahatan money mules kepada seluruh warga negara Singapura.***

Please follow and like us:
25