Budaya Headline

Prospek Gagasan Seni

LukisanJakarta – Ada situasi yang menarik tentang kehidupan ini, bahwa seolah-olah manusia dalam meraih kehidupan yang dicita-citakan yaitu hidup tenteram menikmati kebutuhan fisik dan kepuasan psikis di depan mata bagi masyarakat pada umumnya, ternyata masih sebuah harapan. Bagi perupa justru kenyang dengan kepuasan psikis berupa ide-ide kreatif tentang kemanusiaan.

Dialog dengan perupa, adalah suatu usaha komunikasi yang tidak harus pada tataran psikologis untuk mengesankan bahwa karya adalah sebuah usaha komunikasi. Hal itu masih memerlukan tafsir lagi untuk dapat menangkap maksud atau gagasan perupa, tetapi sangat perlu untuk bertatap muka, dialog tentang karyanya. Dalam ekspresi seni, hal itu mempunyai tujuan bukan untuk mewujudkan pemahaman yang sama dengan pelukisnya, melainkan memberikan pada pengamatnya sedikit kejutan emosional dan tergantung pada konteksnya.

Jika melihat kelompok ‘7 rupa perupa’, yakni: Akbar Linggaprana, Djoko Sudarwo, Lateevhaq, Rindy Atmoko, Sugiono, Tomy Faisal Alim, dan Wahyu Geiyonk yang sedang berpameran di Museum Seni Rupa & Keramik, Jl Fatahillah, Jakarta Barat. Pelaksanaan pameran dari tanggal 1-12 Desember 2015.

“Seni sebagai santapan lezat di era kontemporer ini, tidak ubahnya santapan murahan yang setiap orang dapat memilih, membeli dan mengoleksi atau menjual kembali karena hasil karya seni menumbuhkan minat lain yaitu sebagai komoditas dan oleh karenanya seni rupa terus menerus menjadi wilayah eksploitasi ekonomis”,ujar Dr. Narsen Afatara, dosen seni rupa Institut Seni Indonesia, Surakarta.

Demikian juga keterkaitan para perupa yang ada termasuk yang menyandang predikat maestro diharapkan dapat memberikan solusi tentang kehidupan lewat karya-karyanya, bertambah jumlah temuan-temuannya dan berposisi menjadi dinamisator bagi nilai-nilai pembaharuan dan bukan  semakin menyendiri. (Gung)