Headline Special Report

ASEM International Experts Workshop on Stolen Assets and Hidden Wealth, Theft, Recovery and Restitution

Pengantar

19-21 November 2014, para ahli pemulihan aset di Asia dan Eropa berkumpul di Manila, Filipina dalam sebuah lokakarya internasional. Kepala Pusat Pemulihan Aset Kejaksaan R.I. pada saat itu, Chuck Suryosumpeno menghadiri lokakarya ini dalam kapasitasnya sebagai Presiden ARIN-AP (Asset Recovery Inter-Agency Network for Asia and Pacific) 2014 turut tampil sebagai pembicara dalam lokakarya internasional ini. Selain itu, turut hadir pula sejumlah perwakilan dari Kejaksaan Agung RI dan Direktorat Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri.

COO Majalah REQuisitoire, Retno Kusumastuti yang berkesempatan hadir dalam kesempatan tersebut meliput presentasi Chuck dan lokakarya internasional ini bagi para pembaca setia Majalah REQuisitoire.

Asia-Europe Meeting (ASEM)

Pada suatu ketika di tahun 1994, Goh Chok Tong, Perdana Menteri Singapura saat itu yang sekaligus menjabat Ketua ASEAN, menyampaikan sebuah ide kepada Édouard Balladur, Perdana Menteri Perancis.

Ide Goh adalah membentuk suatu konferensi tingkat tinggi antara Asia dengan Eropa agar hubungan kedua wilayah ini semakin kuat.

Gagasan ini mulai menjadi nyata pada 1996, yaitu saat dilakukan dengar pendapat dari 16 anggota Uni Eropa dan tujuh anggota ASEAN plus Jepang, Tiongkok dan Republik Korea.

Hasilnya, terbentuklah Pertemuan Asia-Eropa atau Asia-Europe Meeting (ASEM). Sebagai sebuah forum, ASEM menjadi tempat membicarakan berbagai permasalahan di berbagai bidang yang melibatkan negara-negara Eropa dan Asia, antara lain bidang ekonomi, politik, strategi pertahanan, pendidikan, kebudayaan dan lingkungan hidup.

2004, keanggotaan ASEM bertambah, yakni bergabungnya Kamboja, Laos, Myanmar dan 10 negara anggota baru Uni Eropa.

Pertemuan ASEM di Helsinki pada 2006 lalu menerima sejumlah negara sebagai anggota ASEM. Sebut saja, Bulgaria, Rumania, India, Mongolia dan Pakistan.

Semakin banyaknya negara yang menjadi anggota ASEM secara praktis telah menjadikan peran ASEM semakin strategis lantaran ASEM dianggap mewakili lebih dari separuh penduduk dunia.

Lokakarya Para Ahli Pemulihan Aset

Manila menjadi tuan rumah bagi lokakarya para ahli pemulihan aset selama 3 hari. Lokakarya yang berlangsung 19 – 21 November 2014 lalu merupakan hasil kerja sama The Presidential Commission on Good Government (PCGG) Filipina dengan Departemen Luar Negeri Konfederasi Swiss.

Pihak penyelenggara berharap, lokakarya ini menjadi sarana berbagi informasi atas keberhasilan pemerintah Filipina dan Swiss dalam melakukan restitusi aset mantan Presiden Marcos.

Restitusi ini merupakan implementasi dari The Human Rights Victims Reparation and Recognition Act of 2013. Undang-undang yang populer dengan nama Republic Act 10368 ini disahkan oleh Presiden Benigno S. Aquino III pada 25 Februari 2013. Pada perkembangannya, undang-undang ini menjadi landasan pemberian kompensasi para korban pelanggaran HAM selama pemerintahan Presiden Marcos.

Pihak penyelenggara lokakarya ini sempat mengatakan, mereka melakukan seleksi ketat untuk memilih para pembicara di lokakarya ini. Salah satu dasar penilaian terhadap calon pembicara adalah kemampuan dan kiprah para pembicara dalam pemulihan aset di tingkat internasional.

Sebut saja Tony Kwok Man-Wai, seorang tokoh pemberantasan korupsi di Hongkong yang telah berperan mengubah Hongkong memiliki tata kelola pemerintahan yang bersih.

Dari World Bank dan StAR Initiative, terdapat nama Emile Van Der Does. Emile memaparkan peran StAR Initiative dalam upaya pemulihan aset global yang mencakup bidang kebijakan, advokasi dan pengembangan pengetahuan seputar pemulihan aset. StAR Initiative adalah lembaga hasil kerjasama World Bank dengan UNODC yang menjadi implementasi dari Chapter V UNCAC.

Tuan rumah, Filipina, diwakili oleh Gerard A. Mosquera yang bekerja di Ombudsman Filipina, sebuah badan yang khusus menangani perkara korupsi. Gerard menyampaikan pentingnya pemulihan aset hasil kejahatan korupsi agar para pelakunya jera.

Selain Gerard, masih ada Julia Bacay-Abad dari Anti-Money Laundering Council (AMCL) Filipina. Julia berbagi pengalaman tentang catatan keberhasilan Filipina melakukan pemulihan aset hasil korupsi. AMCL sendiri adalah lembaga pengawas transaksi keuangan yang memantau aliran dana hasil korupsi dan pendanaan terorisme.

Seorang Gretta Fenner dari Basel Institute for Governance, pada lokakarya ini, menekankan perihal panduan peran organisasi masyarakat sipil pada pemulihan aset, termasuk pentingnya pembentukan pemahaman masyarakat tentang pemulihan aset hasil kejahatan korupsi.

Interpol pun memiliki perwakilan sebagai pembicara, yaitu Africa Apollo. Africa menyampaikan peran jejaring informal dalam pemulihan aset hasil kejahatan, terutama di tahap penelusuran aset serta persiapan Mutual Legal Assistance (MLA).

Sementara itu ada dua orang dari Indonesia yang menjadi pembicara dalam lokakarya internasional ini, yaitu Erry Riyana Hardjapamekas dan Chuck Suryosumpeno. Erry diundang oleh penyelenggara lokakarya sebagai mantan wakil ketua KPK. Ia mempresentasikan peran masyarakat sipil sebagai pengawas pemerintah dalam proses penegakan hukum terhadap para pelaku kejahatan yang berorientasi pada harta. Sedangkan Chuck hadir dalam lokakarya ini sebagai Presiden Asset Recovery Interagency Network for Asia and Pacific (ARIN-AP).

Pada akhir presentasinya, Chuck mengatakan, “…we believe that cooperation is very important because Indonesia can never work alone. We have to combat the wealth-oriented crimes together and shall put aside our pride to give way to an effective and efficient cooperation among parties for one target, a better world.

Ya, sekarang sudah saatnya para penegak hukum di Indonesia menyingkirkan ego kelembagaan yang terkadang hanya jadi batu sandungan untuk menjalin kerjasama demi bangsanya.***

 

Please follow and like us:
17