Headline Spotlight

Pekong Tiga: Otto Hasibuan, Luhut Pangaribuan dan Juniver Girsang

Hotel Grand Clarion, Makassar, Kamis-Sabtu (26-28/3/15) ramai nian. Maklum, di sanalah tempat persamuhan Munas II Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi). Agendanya, rapat dan pemilihan ketua umum baru periode 2015-2020 menggantikan Prof. Dr. Otto Hasibuan S.H., M.M., yang telah mengemban selama dua periode atau selama 10 tahun.

Pada mulanya Kamis (26/3) berjalan lancar.  Kala itu, ada seremoni pembukaan, di antaranya, sambutan sekaligus pemukulan gong tanda dibukanya Munas II Peradi yang dilakukan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukam) Edhy Purdijatno. Akan tetapi, pemukulan gong yang bergaung itu rupanya seperti menggaungkan tanda-tanda buruk. Ya, setelah itu, tercium aroma konflik di antara peserta yang hadir. Mulai ada ribut sana, ribut sini. Protes kiri dan kanan. Persoalkan ini dan itu. Maunya lancar, mulus, tetapi tidak bisa.

Dipersoalkan hak suara dalam memilih ketua umum. Pertama, pemilihan dengan sistem perwakilan. Kedua, pemilihan dengan sistem satu pengacara satu suara (one man one vote). Panitia kekeuh pertahankan sistem dengan model pertama, perwakilan (yang diwakili oleh DPC dari seluruh Indonesia) yang didukung hampir seluruh perwakilan DPC. Namun peserta yang kontra, nan menurut sejumlah panitia, peserta siluman dan tidak diundang, justru menginginkan sistem dengan model kedua, one man one vote.

Macet! Tidak ada kata sepakat. Pada hari kedua, Jumat (27/3), suasana semakin kacau-balau.  Kepada wartawan, Otto Hasibuan mengeluh dengan nada kecewa, “Ibarat sidang di pengadilan, sidang belum dibuka, tahu-tahu sudah eksepsi absolut.”

Dan, Munas pun tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya. Mau tidak mau peserta yang ada, duduk-duduk saja, ngobrol santai hingga serius di sejumlah tempat, baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan hingga di lobi dan halaman hotel.

Tak mau tinggal dia, sejumlah panitia dan sejumlah pengurus panitia pusat, panitia lokal, sejumlah pengurus DPN (Dewan Pengurus Nasional) Peradi dan utusan DPC, termasuk sang ketua umum, Otto Hasibuan, berkumpul di lantai 10. Di sana mereka membahas jalan keluar konflik. Hasilnya? Dari 57 DPC yang hadir, 48 DPC sepakat menunda munas hingga waktu yang tidak ditentukan. Soal waktu penundaan ini pada mulanya ada yang ingin setahun hingga dua tahun, namun Otto menyetujui penundaan selama tga bulan atau selambat-lambatnya enam bulan.

Mau tidak mau hasil putusan rapat khusus ini diumumkan. Lalu, berkumpullah peserta Munas di ruang sidang utama.  Gelombang protes pun tak bisa dibendung. Tak terkecuali sejumlah kandidat ketua umum Peradi seperti Juniver Girsang, Humprey Djemat, Luhut Pangaribuan dan lainnya. Para kandidat ini termasuk Sugeng Teguh Santosa kemudian muncul di podium mengambil peran pimpinan rapat dan menginginkan agar Munas tetap berlangsung hingga ketua umum baru terpilih. Apa daya, sebagian besar utusan DPC menolak kelanjutan Munas. Jelas, tidak memenuhi kuorum. Akan tetapi Juniver dkk tetap menginginkan Munas berlangsung. Sebagian besar DPC kemudian keluar ruangan meninggalkan peserta lainnya.

Di tengah suasan yang tidak kondusif, persamuhan terus berjalan. Akan tetapi, tak berjalan mulus juga. Terjadi perdebatan sengit jumlah pimpinan sidang sementara. Sejumlah peserta menginginkan lima orang, tetapi ada pula yang menginginkan tujuh orang, antara lain, dengan memasukkan Johnson Panjaitan. Ketika Jonhson sudah ada di mimbar, sejumlah peserta protes, tak ingin ada Johnson. Panas! Seorang advokat naik mimbar meminta Johnson tetap menjadi salah satu pimpinan sementara. Suasana semakin riuh.

Eh…., tiba-tiba pendukung Juniver Girsang meninggalkan ruangan. Jumlahnya cukup banyak hingga ruangan menjadi lumayan lengang. Mereka pergi sembari menyanyikan lagu “mari pulang, marilah pulang.” Rupanya Junniver dan pendukungnya “mari pulang” ke rungan lain. Dalam tempo sekitar satu setengah jam, Juniver resmi menyatakan dirinya sebagai Ketua Umum Peradi yang konon didukung 37 DPC.

Kembali ke ruangan utama. Ternyata Luhut Pangaribuan  dkk tetap bersidang alias bermunas. Mereka antara lain menunjuk pelaksana tugas atau caretaker untuk menyiapkan munas luar biasa pada lima atau enam bulan ke depan. Pelaksana Tugas itu antara lain, Luhut Pangaribuan, Humprey Djemat dan Hassanuddin Nasution. Munas Peradi II pun gagal. Peradi pecah kongsi (Pekong) lagi menjadi tiga faksi: Faksi Otto Hasibuan, Faksi Juniver Girsang dan Faksi Luhut Pangaribuan dkk.

Pekong lagi, pekong lagi. Pekong Pertama terjadi pada Munas Peradi I sekitar lima tahun lalu. Ketika itu Otto Hasibuan terpilih untuk kedua kalinya. Sang pesaing, Indra Sahnun Lubis dan kawan-kawan, marah, protes, menganggap Munas I Peradi itu tidak seperti mestinya. Sejurus kemudian, Indra Sahnun Lubis yang didukung advokat senior Adnan Buyung Nasution, Todung Mulya Lubis dan lainnya, mendirikan organisasi advokat baru bernama Kongres Advokat Indonesia (KAI).

Tema Munas II  “Melalui Munas II Peradi Kita Tingkatkan dan Pertahankan Profesionalitas, Solidatas dan Imunitas Profesi Advokat” hanya slogan kertas, basa-basi, bohong, ya kosong, jika memang tak mau menyebutkan “omong kosong!” Toh faktanya Munas Peradi II memang kosong dan ompong!***(Bos)

Please follow and like us:
17