Headline Opini

Profesi Perawat dalam Konteks Etika dan Hukum

Oleh: Cecillia Heni Agustinawati.

cecilliaSehat merupakan dambaan setiap insan di dunia ini. Dengan keadaan sehat setiap individu dapat melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa tergantung kepada orang lain. Menurut UU Kesehatan no 23 tahun 1992 Pasal 1, kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, sosial, lingkungan.

Bagaimanakah bila kita dalam keadaan sakit? Pada pasal 32 ayat 3, menyatakan bahwa pengobatan dan atau perawatan dapat dilakukan berdasarkan ilmu kedokteran dan ilmu perawatan atau cara lain yang dapat dipertanggungjawabkan. Pasal ini menegaskan bahwa proses pemulihan kesehatan pada klien yang sedang sakit, dapat dilakukan melalui pengobatan kedokteran dan perawatan, tetapi dalam kenyataannya, masyarakat masih memandang bahwa kesembuhannya dari sakit, semata-mata karena pengobatan dari bidang kedokteran.

Masyarakat seringkali tidak sadar bahwa kesembuhannya juga lantaran peran pelayanan keperawatan yang diberikan para perawat. Selama di rumah sakit, klien yang sedang sakit diharuskan tirah baring, menjalani perawatan “total care” lalu merasakan ”caring” dari perawat yang senantiasa mendampinginya selama 24 jam, mulai dari pemenuhan kebutuhannya sehari-hari seperti mandi, makan, minum, hingga kebutuhan eliminasi seperti “bab” dan “bak.”

Menurut UU Keperawatan no 38 tahun 2014, Pasal 1 ayat 2, Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi keperawatan, baik di dalam dan di luar negeri yang diakui oleh pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sedangkan praktik keperawatannya adalah layanan keperawatan dalam bentuk asuhan keperawatan yang merupakan interaksi perawat dengan klien dan lingkungan untuk mencapai tujuan pemenuhaan kebutuhan dan kemandirian klien dalam merawat dirinya. Secara keseluruhan dikatakan bahwa pelaksanaan keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan bukan saja kepada individu tetapi juga kepada keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik dalam keadaan sehat maupun sakit.

Salah satu asas pelaksanaan praktik keperawatan adalah etika dan profesionalitas seperti yang tertulis pada pasal 2 tentang asas praktik keperawatan. Dikatakan bahwa praktik keperawatan berdasarkan etika profesi keperawatan dunia sesuai dengan ICN. Etik merupakan prinsip yang menyangkut benar atau salah, baik dan buruk dalam hubungannya dengan orang lain. Dalam etika keperawatan, terkandung nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang berfokus bagi praktek perawat. Terdapat 8 prinsip utama etika keperawatan di antaranya :

Prinsip Respek (hormat), pada martabat individu dengan cara menghormati dan menghargai hak klien, simpati dan empati pada orang lain dan berperilaku menghormati sejawat.

Prinsip Otonomi, dapat membuat keputusan sendiri tetapi tidak sebebas-bebasnya namun ada keterbatasan dalam hukum, kompetensi dan wewenangnya.

Prinsip Beneficience (berbuat baik), yakni kewajiban perawat untuk melakukan yang baik dan tidak membahayakan orang lain sehingga dapat mencegah kesalahan dan kejahatan.

Prinsip Justice (keadilan) merupakan prinsip adil pada semua orang, dapat direfleksikan dalam praktik profesional ketika perawat bekerja untuk merawat yang benar tanpa membeda-bedakan.

Prinsip nonmaleficence (tidak merugikan) hal ini berarti tidak menimbulkan kerugian, cidera fisik maupun psikologi.

Prinsip Veracity (kejujuran), kewajiban perawat untuk mengatakan yang sebenarnya dan meyakinkan agar klien mengerti.

Prinsip Fidelity (menepati janji),kewajiban perawat untuk setia dan menghargai komitmennya untuk menepati janji.

Prinsip confidentiality (kerahasiaan) hal ini berkaitan kerahasiaan dan kepercayaan klien kepada perawat.

Prinsip Accountability (akuntabilitas) tindakan perawat sesuai tanggung jawab dan tanggung gugat, merupakan standar yang pasti bahwa tindakan seorang profesional dapat diniai dalam situasi yang tidak jelas.

Keperawatan sebagai profesional harus menerapkan prinsip etis dalam kehidupan profesinya, karena pada pelaksanaan layanan kesehatan sehari-hari, seringkali perawat mengalami dilema etik untuk dapat mengambil keputusan etis yang membutuhkan critical thinking perawat serta kedewasaan emosional untuk dapat menerapkan prinsip etik pada keadaan klien yang diasuhnya. Tidak ada yang benar atau salah dalam mengambil keputusan etis, yang penting berdasarkan pada pro-life dan pro-choice.

Demikian sekelumit tentang perawat. Bahwa sebenarnya perawat tidak sekedar apa yang dilihat atau dirasakan pelayanannya oleh klien yang sedang terbaring di rumah sakit, tetapi sesungguhnya perawat adalah sebuah profesi sangat penting, mulia, strategis, profesi dengan keilmuan yang terus berkembang sesuai perkembangan dan telah memiliki dasar hukum atau undang-undang khusus (lex specialis) , yakni, UU Keperawatan no 38 tahun 2014. Undang-undang ini diharapkan dapat memayungi dan melindungi perawat profesional dalam melaksanakan peran, fungsi dan pelayanannya. Perawat hebat (professional), masyarakat pun sehat, negara kuat.

*Mahasiswa S2 Manajemen Keperawatan
STIK Sint Carolus Jakarta 2016.

Please follow and like us:
17