Headline Opini

Perawat Harus Peduli pada Ibu Bumi, Rahim Kehidupan

Oleh : Anasthasia Hardjanti*

suster anastasiaaaaEfek global warming makin terasa. Bumi yang dulunya sejuk, makin hari, makin panas, diikuti perubahan cuaca nan ekstrim dan musim yang tidak menentu. Banyak orang mengeluh, protes, bahkan teriak hingga menjadi korban. Para aktivis lingkungan dan masyarakat seluruh dunia pun tiada henti mengkampanyekan program go green untuk menyelamatkan ibu bumi sang rahim kehidupan dunia ini.

Setiap 5 Juni, dunia juga selalu memperingati “Hari Lingkungan Hidup” dengan berbagai aksi, program, kegiatan termasuk kampanye. PBB sendiri, sejak tahun 1970, telah mulai menyerukan sekaligus mengkampanyekan pentingnya menjaga lingkungan. PBB mengajak semua umat manusia agar menjaga dan merawat lingkungan dengan program go green. Go green adalah tindakan atau perbuatan yang ditujukan untuk menyelamatkan bumi dari segala kerusakan akibat ulah manusia. Ajakan dan himbauan PBB disampaikan, lantaran sejak itu, PBB telah melihat sekaligus merasakan ancaman kerusakan lingkungan.

Sejak lama, Gereja Katolik juga peduli pada lingkungan. Paus Fransiskus yang sekarang aktif dan gencar menyerukan untuk go green atau peduli lingkunga. Dia mengatakan, ketidakpedulian pada lingkungan merupakan bagian dari lemahnya iman kita. Paus Fransiskus dalam ensiklik “Laudato si” yang dikeluarkan pada 18 Juni 2015, dengan keras mengatakan bahwa ketidakpedulian adalah bagian dari keserakahan dan keserakahan adalah adalah salah satu bentuk dosa ekologis.
Karena itu, bentuk penyelamatan ekologis menjadi sebuah keharusan bagi umat beriman dan berpendidikan. Menurut Paus, keterlibatan kita untuk menjaga lingkungan hidup adalah sebuah keharusan pribadi beriman, berpendidikan, bukan sekedar pilihan.

Komunitas keperawatan sebagai bagian dari masyarakat dunia, sudah seharusnya menanggapi ajakan itu secara aktif dan nyata. Setidaknya melalui program seperti pengurangan penggunaan kertas (go paperless). Sadar atau tidak, penggunaan kertas yang berlebihan berarti kita memiliki andil menebang pohon-pohon di hutan yang menjadi penyangga kehidupan. Semakin pohon ditebang, maka gunung pun semakin botak, hutan gundul, lalu menyebabkan banjir, tanah longsor, kekurangan oksigen, suhu makin panas dan berbagai efek lainnya yang negative bagi kehidupan manusia itu sendiri.

Perawat termasuk pengguna kertas paling banyak. Tidak hanya pada praktik pelayanan di rumah sakit, di puskesmas, klinik, kegiatan pemanfaatan kertas yang banyak juga dilakukan di sekolah atau kampus keperawatan. Komunitas keperawatan dan para perawat itu sendiri harus terus meningkatkan gerakan mengurangi/meminimalisasi pemakaian kertas (go paperless). Hindarilah penggunaan materi atau bahan hard copy dan sebaliknya memilih penggunaan materi soft copy.

Pendokumentasian file-file juga dialihkan pada sofcopy atau “IT e- dokumentasi.” Hal lainnya, meminimalkan penggunaan plastik dan melakukan gerakkan penggunaan sterofoam. Gerakkan yang lain sebagai konsep go green adalah 4-R yakni : Reduce, Reuse, Recycle, dan Replace.

Reduce : adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk meminimalisir bertambahnya sampah dari sisa-sisa materi atau barang-barang yang kita gunakan.Contoh konkret, memanfaatkan kertas-kertas sisa dari buku tulis yang keseluruhan halamannya belum penuh terpakai. Mere-fil barang yang bisa direfil dan dapat difungskan kembali tempatnya.

Reuse : adalah upaya penggunaan kembali barang-barang yang fungsinya bisa tidak sekali pakai. Contoh, menyimpan kantong plastik bekas belanjaan. Lalu menggunakannya kembali ketika rutinitas belanja selanjutnya. Jadi, penjual tidak perlu lagi membeli plastic untuk memuat barang belanjaan karena plastik yang lama, masih berdayaguna.

Recycle : adalah upaya mendaur ulang sampah-sampah yang ada. Saat ini sudah banyak sampah yang diolah tangan-tangan kreatif menjadi sebuah benda yang berdayaguna baru. Misalnya botol minuman, kaleng, dan kertas yang diolah menjadi pernak-pernik. Bahkan sebuah penelitian menyatakan bahwa kertas bisa didaur ulang hingga 7x. Tidak heran bila saat ini banyak sekali pernak-pernik seperti bingkai foto, album, dan perlengkapan rumah tangga yang sesungguhnya berasal dari bubur kertas bekas.

Replace : adalah upaya mengganti barang-barang yang bisa merusak lingkungan dengan barang-barang berfungsi sama, namun lebih ramah lingkungan. Contoh konkretnya seperti yang mulai dilakukan orang Jepang dalam hal menggunakan kain sebagai tas belanjaan daripada menggunakan plastik dan menggunakan sepeda atau berjalan kaki daripada menggunakan kendaraan bermotor (padahal negaranya termasuk produsen otomotif terbesar). Bisa pula mengganti penggunaan tisu dengan saputangan atau kain serbet untuk membersihkan sesuatu, menggunakan botol minum yang bisa dicuci daripada setiap kali beli air yang kemasan plastik. Mengganti tas plastik tempat obat setelah pasien pulang dengan tas yang terbuat dari bahan yang ramah lingkungan dan seterusnya.

Komunitas perawat dan perawat itu sendiri harus selalu memiliki kesadaran bersama dan pribadi dalam menjaga dan menyelamatkan ibu bumi, rahim kehidupan ini. Mulailah dari diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar rumah, di tengah masyarakat dan ketika menjalani pelayanan di rumah sakit. Para perawat harus menjadi terang, garam, teladan dalam merawat dan mencintai ibu bumi, rahim kehidupan ini.

* Penulis adalah Mahasiswa Program Pascasarjana (S2) Keperawatan, STIK Sint Carolus, Jakarta.

Please follow and like us:
20