Opini

Jenthu Apolunanto Pengaruh BI 7 Days Reverse Repo

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia akhirnya menetapkan penggunaan suku bunga acuan baru berjuluk BI 7 Days Reverse Repo (BI 7D RR) menggantikan BI rate pada 18-19 Agustus 2016 lalu.  Menurut BI, acuan 7D RR berfungsi sebagai acuan baru yang memiliki hubungan yang lebih kuat ke suku bunga pasar uang, sifatnya transaksional atau diperdagangkan di pasar, dan mendorong pendalaman pasar keuangan.

Apa pengaruh penetapan 7D RR ini terhadap perbankan Indonesia?

Meski ekonomi Amerika Serikat secara umum membaik dan ekonomi Uni Eropa tumbuh moderat, iklim investasi global masih cenderung jalan di tempat. Di Asia, pengeluaran konsumsi Tiongkok masih belum cukup menopang pertumbuhan ekonominya. Berbagai faktor tersebut membayangi prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lagi-lagi dipengaruhi oleh konsumsi perorangan dan investasi pemerintah. Seperti diketahui, realisasi anggaran Pemerintah yang lebih rendah telah membatasi pertumbuhan GDP tahun 2016. Sejurus, BI memangkas proyeksi pertumbuhan GDP menjadi 4,9%-5,3% dari semula 5.0%-5,4%. Terlihat, walaupun pencapaian pertumbuhan 2Q16 lebih tinggi dari perkiraannya, BI justru lebih pesimistis terhadap prospek pertumbuhan 2016 akibat rencana penghematan anggaran pemerintah dan prospek pertumbuhan global yang semakin lambat. Target pertumbuhan kredit 2016 juga dipangkas ke 7-9% YoY. Kondisi ini justru bisa membatasi ruang pelonggaran moneter melihat tendensi peran BI sebagai fasilitator pertumbuhan ketimbang inisiator.

7D-RR terbaru yang tidak berubah sebesar 5,25% dipandang tidak sesuai dengan ekspektasi pasar yang mengharapkan penurunan sebesar 25 basis points (bps). Selain mengganti suku bunga acuannya, BI menjaga batas bawah koridor suku bunga penyediaan dana rupiah kepada perbankan dari BI atau Lending Facility (LF) 75 bps dari 7D-RR. Demikian pula dengan batas atas suku bunga penempatan dana rupiah oleh perbankan di BI atau Deposit Facility (DF) 75 bps dari 7D-RR. Tingkat DF tetap 4,50% dan LF menjadi 6,00%, terpangkas 100 bps versus Juli: 7,00%.

Ada tiga tujuan utama penggunaan 7D-RR menurut BI. Pertama, memperkuat sinyal kebijakan moneter kepada pasar keuangan dengan cara “memperdagangkan” instrumen 7D-RR secara aktif. Kedua, meningkatkan efektivitas kebijakan moneter untuk menurunkan tingkat suku bunga bank. Ketiga, memperdalam pasar keuangan, khususnya pada tingkat suku pasar uang tenor 3 bulan hingga 12 bulan.

Terciptanya spread simetris baru antara rate acuan dengan fasilitas lending dan deposit merupakan indikasi posisi netral BI terhadap likuiditas bank dan rangsangan untuk pengelolaan likuiditas bank komersial yang lebih prudent. Tingkat bunga fasilitas pinjaman yang lebih rendah akan mengurangi biaya tidak likuid Bank dan merangsang masyakat untuk meminjam.

Perbedaan terbesar antara BI rate dan 7D-RR terdapat pada mekanisme transaksi yang didasarkan pada repurchase agreement (Reverse Repo di sisi BI). BI rate didasarkan pada transaksi outright. Tampaknya BI mengharapkan operasi moneter berikutnya berdampak minimal terhadap harga obligasi pemerintah.  Ketidakpastian global mungkin akan membatasi ruang pelonggaran. Hingga kini, aliran dana asing ke Indonesia masih terjadi. Peluang kenaikan Fed Fund Rate masih terbuka. Kondisi tersebut dapat mengubah tren penurunan imbal hasil secara global. Konsekuensinya, investor dapat meminta kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN). Emisi kebijakan BI tidak dianggap sebagai pelonggaran likuiditas. Namun di tengah likuiditas yang berlimpah, langkah ini bisa melengkapi pelonggaran moneter yang berpeluang terus dilakukan. Walaupun imbal hasil SUN serta inflasi terus turun, terlihat BI yang lebih berhati-hati melakukan pelonggaran. BI kembali memangkas proyeksi pertumbuhan di 2016 tetapi masih membuka ruang pelonggaran moneter. Proyeksi pemangkasan suku bunga acuan 25-50 bps hingga akhir 2016 berpotensi terjadi.

Sikap BI yang lebih pesimistis terhadap pertumbuhan dan arus masuk dana asing masih cukup besar, likuiditas rupiah diperkirakan akan terjaga di level yang tidak menyebabkan depresiasi rupiah. Likuiditas rupiah terus membaik. Hal ini terlihat dari peningkatan derajat kemiringan kurva imbal hasil SUN. Kondisi ini biasanya akan diikuti pertumbuhan kredit yang lebih cepat. Himbauan agar tingkat suku bunga kredit terus turun, diharapkan memancing peningkatan minat usaha mikro kecil dan menengah terhadap pembiayaan kredit. Sektor UMKM yang selama ini relatif kuat menghadapi hantaman badai krisis ekonomi akan menjadi semakin kuat.

Paralel dengan penurunan tingkat suku bunga, ada potensi penurunan suku bunga pembiayaan (kredit) bank. Penurunan bunga merupakan angin segar sektor industri yang sensitif suku bunga seperti properti dan otomotif. Namun, bank belum menurunkan suku bunga kredit secara singkat dan masif, karena beberapa faktor. Pertama, ekonomi global masih memberikan kontribusi menahan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Upaya menurunkan bunga kredit diprediksikan belum dapat memberikan pengaruh peningkatan permintaan kredit bank secara signifikan. Kedua, tingkat kredit tidak lancar (non performing loans) yang masih tinggi dan memaksa bank untuk meningkatkan jumlah cadangan kerugian penurunan nilai kredit (CKPN). Ketiga, likuiditas pasar uang antar bank masih berada dalam tekanan. Program pengampunan pajak (tax amnesty) memunculkan potensi aksi nasabah bank mengambil dana deposit untuk membayar tebusan pajak terhutangnya. Sebaiknya bank jeli melihat potensi membuat produk pinjaman bagi nasabah wajib pajak yang mungkin tidak mempunyai simpanan dana untuk membayar tebusan pajak terhutang. ***

 

Foto: www.infobanknews.com