Headline Spotlight

Sembilu Kriminalisasi Silat Hulu

KETAPANG, REQuisitoire.com – Begitu mendarat di Bandar Udara Supadio, kami memutuskan untuk menginap semalam di Pontianak dan pagi-pagi buta memulai perjalanan darat lebih dari 11 jam untuk menemui dua warga Dayak korban kriminalisasi PT Bangun Nusa Mandiri (Sinar Mas Group) bernama Vitalis Andi dan Japin di Kebupaten Ketapang.

Perjalanan darat kali ini penuh tantangan. Selain jalannya yang menantang, menyeberangi Sungai Kapuas untuk pertama kalinya mendatangkan sensasi tersendiri. Betapa tidak, Sungai Kapuas ini benar-benar besar dan luas serta arusnya kencang alias jauh dari bayangan saat ada di Jakarta. Perjalanan darat selama berjam-jam kali ini sedikit terhibur dengan pemandangan alam Borneo yang asri dan hijau, jauh dari kepenatan dan keriuhan kota.

Sudah seperti diduga sebelumnya, kami tiba di Tanjung, Kecamatan Jelai Hulu, Kepatang, Kalimantan Barat pada malam hari. Kami memutuskan langsung istirahat di salah satu rumah penduduk. Pada pagi hari, kamu pun baru menemui Vitalis Andi di kampung ini. Vitalis pun menerima kami dengan ramah dan berkisah banyak hal secara runtut kasus yang menimpanya.
Selanjutnya, pada hari kedua di Ketapang, kami pun meluncur masuk ke pedalaman Ketapang untuk menemui korban kriminalisasi PT Bangun Nusa Mandiri (Sinar Mas Group) lainnya yaitu Japin.

Dengan kendaraan roda dua secara beriringan, kami pun menempuh perjalanan darat ke Kampung Silat Hulu, Desa Bantan Sari, Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Perjalanan darat dengan sepeda motor cukup menegangkan mengingat medan yang berliku, asap kebakaran lahan dan hutan serta debu jalanan yang beterbangan saat berpapasan dengan truk-truk pengangkut kelapa sawit.

Setelah menempuh perjalanan lebih dari 1 jam, kami pun akhirnya sampai di Kampung Silat Hulu. Sayang, kami tidak bisa langsung bertemu dengan Japin karena ia sedang ke ladang. Kami pun menunggu kepulangan Japin di sebuah warung di ujung desa. Di warung ini kami bercakap-cakap dengan ibu-ibu yang memang tahu kasus penggusuran tanah adat warga Silat Hulu.

Kampung Silat Hulu adalah salah satu perkampungan masyarakat adat Dayak Kendawangan yang sejak lama menolak kehadiran berbagai bentuk perusahaan yang ingin beroperasi di wilayah adat mereka seperti perkebunan kelapa sawit dan pertambangan. Meski banyak tawaran harga tanah dan pekerjaan yang menggiurkan dari berbagai perusahaan, warga tetap berpegang teguh pada prinsip pengelolaan alam secara mandiri dan berkelanjutan. Pantang bagi mereka menjual hutan tanahnya kepada pihak perusahaan.

Kampung Silat Hulu adalah sebuah kampung (dusun) Dayak yang kecil dan sederhana terdiri dari 71 KK dengan jumlah penduduk lebih dari 258 jiwa. Sejak September 2009, dusun kecil ini dipimpin oleh Ritung sebagai pejabat sementara (Pjs) Kepala Dusun.
Sebelumnya, dusun ini dipimpin oleh Mensuin. Karena banyak melalaikan tugas dan tanggungjawab serta gagal memperjuangkan hak-hak masyarakat setempat, pada awal September 2009 ia diganti oleh masyarakat dengan Ritung yang terpilih dengan suara mutlak oleh masyarakat setempat. Sebelumnya, Ritung adalah anggota BPD Bantan Sari.

Dusun Silat Hulu terdiri atas satu Rukun Warga (RW) dan dua Rukun Tetangga (RT). Ketua RW dipegang oleh Buin yang merangkap sebagai Tumenggung Adat. Sementara itu, RT 1 dipimpin oleh Ancuk dan RT 2 dipimpin oleh Itih. Penduduk di Silat berpendidikan rata-rata SD dan SMP. Mereka memegang teguh adat istiadat dan hukum adat di kampung. Penduduk Silat adalah 100 % Dayak dan beragama Katolik.

Wilayah adat Silat Hulu terbagi menjadi wilayah hutan produksi, wilayah perladangan (pelakauan), pedahasan (pedukuhan), kebun karet rakyat dan pemukiman. Luas wilayah adat Silat Hulu berkisar 15 KM² yang masing-masing berbatasan dengan bagian utara dengan Dusun Manggungan, selatan dengan Bayam-Sungai Lalang, timur berbatasan dengan Riam atau Priangan, sedangkan barat berbatasan dengan Kampung Pemintuan, Desa Sengkuang, Kecamatan Air Upas.

Berjam-jam menanti kepulangan Japin dari ladangnya, kami pun memutuskan untuk mendatangi rumahnya. Kebetulan, ia juga baru saja pulang dari ladang. Ia pun terkejut dengan kedatangan kami. Setelah kami jelaskan, kami pun di ajak masuk ke dalam rumah panggungnya dan berbincang-bincang tentang sembilu kasus pencaplokan tanah warga Silat Hulu yang menyeretnya ke ranah hukum. (JS)

Bersambung ke tulisan berikutnya

SUMBER: EDISI CETAK MAJALAH REQuisitoire VOL. 42 TAHUN 2016 RUBRIK FLASHBACK 56-57.