Wawancara

Chryshnanda DL: Polmas untuk Membangun Peradaban

JAKARTA, REQNews – Dalam banyak hal, polisi selalu disalahkan! Jika terjadi sebuah peristiwa kriminalitas misalnya, banyak pihak mempertanyakan tanggung jawab polisi atau Polri. Polisi juga bisa dituduh sebagai kambing hitam atau bisa juga dikerjain kuda hitam.

“Anggapan-anggapan semacam itu sudah biasa. “Itu biasa. Jika terjadi peristiwa keamanan dan ketertiban, Polisi dibilang beginilah, begitulah, macam-macam, yang negatif. Tetapi saya kira lebih banyak hal positif juga, polisi diapresiasi karena telah menyelesaikan tugasnya dengan baik, telah berhasil mencegah terorisme dan seterusnya,” ungkap Kabid Bingakkum (Pembinaan dan Penegakkan Hukum) Korlantas Mabes POLRI Chryshanda D.L., (CDL) kepada REQuisitoire.

CDL berpendapat polisi sebagai institusi pemerintah mempunyai tugas di bidang keamanan sekaligus sebagai penegak hukum dan keadilan. Pengamanan dalam konteks pemolisian adalah aman yang disertai rasa aman. Aman itu juga berarti bebas dari tekanan, ancaman, paksaan, ketakutan dan sebagainya.

“Kualitas aman dalam pemolisian dapat ditunjukkan adanya rasa aman secara perorangan maupun kelompok,” demikian CDL berpendapat. Berikut kutipan wawancara lengkap REQuisitoire dengan CDL belum lama berselang :

Premanisme dan gaya preman masih saja ada dan itu sangat mengganggu.

Gaya-gaya preman dalam masyarakat yang tidak terkontrol dengan baik akan bermunculan. Mengatasnamakan inilah, itulah sebagai legitimasi dengan pembenaran-pembenaran demi memuluskan melakukan aksinya. Gaya preman ini akan muncul dengan menunjukkan kekuatan fisik baik perorangan, kelompok untuk memaksa, menakut-nakuti atau mengancam, melakukan kekerasan, yang membuat orang mau tidak mau mengikuti keinginanya. Tekanan-tekanan massa, akan menjadi alat bargaining yang mengabaikan hukum. Pada saat hukum dikalahkan oleh premanisme maka ini merefleksikan rusaknya suatu peradaban.

Bagaimana Anda mengaitkannya dengan peradaban?

Peradaban merupakan ikon dari tingkat kecerdasan dan pendidikan. Kedua, kemampuan menyelesaikan konflik dengan cara-cara beradab atau jalur hukum dan tidak main hakim sendiri. Ketiga,  toleransi atau saling menghormati atas keberagaman. Keempat, semakin tingginya kualitas hidup masyarakat  atau profesional dan akuntabel. Keempat, terjaganya keteraturan sosial atau kesadaran, tanggung jawab dan disiplin. Kelima, aman yang ditandai dengan rasa aman.  Keenam, kemampuan menginspirasi, memprediksi, mengantisipasi dan memberi solusi bagi kepentingan saat ini maupun generasi yang akan datang.

Anda sering bicara tentang konsep pemolisian. Apa saja pola-pola Pemolisian itu?‎

Pemolisian merupakan segala usaha kepolisian pada tingkat manajemen dan operasional, dengan atau tanpa upaya paksa dalam mewujudkan dan memelihara keteraturan sosial. Dari konsep di atas maka model pemolisian yang dapat dikembangkan antara lain : Pemolisian yang berbasis wilayah  atau geographical community berikut pemolisian yang berbasis kepentingan atau community of interest atau berbasis pada fungsional, pemolisian yang berbasis dampak masalah atau problem oriented policing. Dari tiga model pemolisian tersebut polisi dapat melakukan pemolisianya melalui implementasi community policing yang dalam penyelenggaraan tugas Polri dikenal dengan Polmas. Polmas merupakan filosofi dan strategi pemolisian untuk antara lain: kemitraan, pencegahan, menjadi ikon kedekatan, kecepatan dan persahabatan, transparan dan akuntabel, mampu mengatasi premanisme dan mengurangi rasa ketakutan warga masyarakat akan adanya kejahatan atau ancaman kejahatan, meningkatkan kualitas hidup masyarakat  atau sebagai penjaga kehidupan, memangun peradaban sekaligus memperjuangkan kemanusiaan.  Tingkat keberhasilan polmas dalam memprediksi, mengantisipasi dan memberikan solusi pada saat enam poin tersebut dapat dirasakan secara signifikan oleh masyarakatnya. Kekuatan polisi adalah pada kepercayaan masyarakat. Mengapa? Ya karena polisi hadir untuk mengatasi premanisme, memberdayakan potensi-potensiyang ada, membangun kesadaran, tanggung jawab dan disiplin terhadap aturan hukum, mencerdaskan kehidupan masyarakat  atau membangun masyarakat yang sadar wisata,  bertindak cepat atau quick response dan tulus dalam bertindak, mampu mewujudkan keamanan dan rasa aman warga yang dilayaninya.

Bagaimana strategi dan implementasinya?

Harus melakukan pemetaan terhadap wilayah, masalah, potensi, baik orang, tempat, kegiatan barang dan sebagainya. Selanjutnya diimplementasikan pada level komunitas seperti RT, RW, maksimal kelurahan, kemudian membangun jejaring informasi dan komunikasi agar antara polisi dengan warga komunitas saling mengenal‎, dibangun dengan model wilayah atau geographical community  yang mengedepankan pospol dan babin kamtibmas dibuat secara kontekstual dan dinamis berikut di-back up model kepentingan. Hal-hal semacam itu tanpa batas wilayah tetapi disatukan karena kepentingan. Bisa juga dibangun atas dasar fungsi-fungsinya seperti fungsi utama, fungsi pendukung maupun yang fungsional/non struktural.

*****

Kombespol CDL menyebutkan enam strategi implementasi lainnya :

Pertama, memprediksi, mengantisipasi dan memberi solusi atas dampak masalah (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan (private/industrial), keselamatan dan sebagainya). Akar masalahnya bukan bagian dari tugas po‎lisi, namun ketika menjadi masalah sosial maka itu menjadi masalah polisi. Pola Pemolisian berbasis dampak masalah ini diimplementasikan penangananya (pra, saat dan paska kejadian).

Kedua, para petugas polmas yang berbasis wilayah, fungsional atau kepentingan dan dampak masalah merupakan suatu sinergitas operasional yang berupaya untuk mengedepankan tindakan pencegahan, kemitraan, problem solving demi mewujudkan keamanan dan rasa aman. Selanjutnya komando pengendalian, komunikasi, koordinasi dan informasi (K3i) di backup dengan sistem modern yang ada pada back office. Berbagai aplikasi dan networking selalu dikembangkan sesuai konteksnya dan dinamis.

Ketiga, yang dilakukan oleh petugas-petugas polmas : (a). Penjagaan, pengaturan. (b). Patroli. (c). Kunjungan. (d). Komunikasi. (e). Membangun kemitraan. (f). Memecahkan masalah. (g). Reaksi cepat atas laporan/aduan/hal-hal yang bersifat emergency (h). Sistem laporan, analisis dan produk‎ (pencegahan, perbaikan, peningkatan kualitas pelayanan danpembangunan), (i). Menjembatani, memfasilitasi, memotivasi, memberikan informasi, konsultasi. (j). Membangun jejaring, bisa dikembangkan sesuai dengan kotekstualnya.

Keempat, para petugas Polmas terutama yang berbasis wilayah (Pospol dan babinkamtibmas) dapat menjadi ikon (ikon kedekatan, kecepatan bereaksi dengan tulus dan persahabatan).

Kelima, dibackup oleh pemimpinya secara administrasi, teknologi, operasionalnya maupun capacity-nya.

Keenam, diterapkan secara sinergis, konsekuen, konsisten dan menjadi komitmen dan integritas institusi.

Prediksi, Antisipasi dan Solusi

CDL yang pernah menjabat sebagai Kabag Humas Polda Metro Jaya dan Dirlantas Polda Metro Jaya ini juga menyebutkan kejahatan yang merupakan produk masyarakat, bisa berasal dari faktor manusia, lingkungan, sistem-sistem dan kebudayaanya. Tetapi kejahatan dapat dikendalikan atau diminimalisir dengan upaya  antisipasi dan prediksi, untuk mempersempit kesempatan terjadinya aksi kejahatan.

Kejahatan juga disadari dan dilakukan dengan berbagai cara akibat dari kesalahan, pelanggaran, kelalaian hingga ketidakmampuan. Kejahatan bisa dilakukan secara konvensional, parsial, orang-perorang atau kelompok yang tergolong dalam preman maupun secara struktural. Seterusnya, kejahatan bisa terjadi secara spontan dan bisa juga terencana by design, dengan mencari dan memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Kejahatan-kejahatan konvensional langsung secara fisik dan cenderung dengan ancaman kekerasan-kekerasan fisik yang bersifat anarkis. Kejahatan-kejahatan modern juga lebih tersistematisir dan tidak nampak secara kasat mata namun berdampak sangat luas.

Mengantisipasi kejahatan adalah meminimalisir kesempatan terjadinya kejahatan, dari sistem pengawasan, sistem-sistem pengamanan, sistem edukasi sampai dengan sistem penegakkan hukum. Pola antisipasi bisa dilakukan berbasis wilayah, berbasis kepentingan maupun yang berbasis dampak masalah dalam sistem kedaruratan/emergency system hingga sebagai crisis centre.

Pusat K3I tersebut menunjukkan sebagai back office yang pengoperasionalanya dengan berbagai aplikasi maupun net working yang mampu memprediksi, mengantisipasi hingga menangani dengan cepat.

CDL menyebutkan penanganan cepat pada pada saat terjadi kejahatan merupakan keberhasilan dari kecanggihan sistem yang sinergis antarwilayah, fungsi maupun stakeholder. “Prediksi, antisipasi dan penanganan kejahatan diurai dari potensi-potensi yang dapat menjadi peluang atau kesempatan dilakukan dan terjadinya kejahatan selain dari berbagai kelemahan baik dari sistem perundang-undangan, sistem kepemimpinan atau political will yang diambil, sistem administrasi, sistem operasional hingga penegakkan hukumnya,” ungkap CDL.

Mantan KARO OPS Jambi itu menyebutkan implementasi Polmas : 1) terwujud dan terpeliharanya keamanan dan rasa aman. 2) Mengurangi rasa ketakutan warga akan adanya kriminalitas. 3) Melakukan pencegahan. 4 Proaktif dapat memecahkan masalah  dan 5) Meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Di era digital implementasi Polmas tidak lagi sebatas manual melainkan harus didukung dengan sarana prasarana yang berbasis IT menuju e-policing. E-Policing itu sendiri merupakan pemolisian di era digital dengan sistem-sistem aplikasi dan network yang terkoneksi. Dengan sistem-sistem online yang terhubung maka polisi akan dapat memprediksi, mengantisipasi dan memberi solusi secara prima yang cepat, tepat, akurat, transparan, akuntabel, informatif dan mudah diakses,” pungkas CDL.*** (Bos)