Pariwisata

Tenun Ikat Mempesona dari Tangan Para Mama

KUPANG, REQNews – Kali ini REQuisitoire berkesempatan untuk mengunjungi Kota Kupang, yang merupakan ibu kota dari Nusa Tenggara Timur. Penduduk setempat sangat ramah pada pendatang, sehingga kami sangat nyaman berjalan-jalan di Kota Kupang. Namun, tujuan kali ini REQuisitoire tidak hanya akan melihat keindahaln alam Kota Kupang, tetapi ada satu tujuan utama yang ingin digali lebih dalam oleh REQusitoire tetang budaya daerah ini.

Nusa Tenggara Timur tidak hanya kaya akan alam yang indah, tetapi budaya daerah ini pun cukup beragam dan mempesona, salah satunya adalah Tenun Ikatnya yang banyak dikagumi oleh banyak orang bahkan sampai mancanegara. Seorang desainer ternama Oscar Lawalata begitu tertarik dengan Tenun Ikat NTT.

Di Kota Kupang terdapat Pusat Pelatihan Penenun yang didirikan oleh Novanto Center. Nah, salah satu tujuan kami adalah mendatangi pusat pelatihan ini, guna mengetahui lebih banyak tentang Tenun Ikat NTT. Di pusat pelatihan tersebut kami menjumpai Tedy Foeh, Konsultan Tenun Ikat. yang banyak bercerita dan mengajarkan kami tentang cara pembuatanTenun Ikat NTT.

Terdapat tiga Tenun Ikat NTT yaitu Tenun Sotis, Tenun Buna dan Tenun Ende. Ketiga tenun ikat ini memiliki ciri khas yang berbeda dan cara menenunya pun berbeda. Para Mama (ibu) yang belajar di Pusat Pelatihan ini menggunakan alat tenun Gedongan, mereka juga diajarkan cara kerja berkelompok sehingga pekerjaan mereka lebih cepat. Karena harapan Oscar dan Novanto Center, menenun tidak hanya menjadi sampingan, tetapi bisa menjadi profesi yang menghasilkan dan mengangkat ekonomi keluarga. Bila satu kain dikerjakan semuanya sendiri akan sangat lama. Bila dibuat perkelompok, maka ada bagian yang menghani benang, membuat pola dan menenun, sehingga satu kain bisa dikerjakan hanya dalam waktu 3-5 hari.

Oscar Lawalata mulai mengeksplorasi tenun ikat NTT sejak 12 tahun lalu, ia mendatangi desa-desa di NTT untuk mengetahui lebih banyak tentang Tenun Ikat NTT. Ia melihat selama ini Tenun Ikat NTT hanya dibeli untuk souvenir atau digunakan pada saat perayaan keagamaan. Oscar ingin Tenun Ikat NTT ini dapat digunakan untuk pakaian sehari-hari, karena itu ia membuatnya lebih tipis sehingga nyaman digunakan sesuai dengan kondisi iklim di Indonesia.

Ragam motif khas serta warna-warni cerah mendominasi desain Karya Oscar, yang dibuat oleh para penenun binaannya di Desa Manusak, NTT. Kain tenun ikat yang selama ini terkesan “berat” karena warnanya yang gelap dan bahannya yang tebal, di tangan Oscar bermetamorfosa mernjadi kain yang lebih halus dan tipis, serta tampil dalam warna yang lebih cerah. Sehingga lebih terkesan “ringan” dan dapat dikenakan untuk busana sehari-hari bagi pria dan wanita.

Kain Tenun Ikat perlu terus dilestarikan dan ditumbuh kembangan untuk kesejahteraan dan kemajuan masyarakat NTT. Dan, Oscar Lawalata bersama Novanto Center membantu agar kain yang bernilai seni tinggi ini memiliki masa depan dan tetap dapat menjadi kebanggaan masyarakat setempat.(Desi)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *