Headline Tokoh

Tertipu Media KPK dan BIN

YOGYAKARTA, REQNews – Sebenarnya Yoseph Adiprasetyo sudah berada di atas panggung, tetapi tiba-tiba dia turun lagi. Ternyata Yoseph ingin membuka jaketnya hingga tertinggal baju batik lengan panjang. “Maaf saya pake jaket karena masih kurang enak badan, kurang tidur, flu. Tadi naik pesawat dari Jakarta ke Jogja, pagi dini hari,” ungkap Ketua Dewan Pers itu dengan suara yang agak parau.

Toh, walau kurang sehat, Yoseph masih terlihat berusaha semangat untuk berpidato pada sebuah acara kehumasan pada awal Oktober silam. Memimpin lembaga negara independen seperti Dewan Pers, maka mau tidak mau, Yoseph harus mengetahui banyak tentang dunia pers. Ia lalu menyebutkan sejumlah data tentang pertumbuhan media massa dan wartawan. Kata Yoseph, setelah 17 tahun Indonesia mengalami masa kemerdekaan pers, pers tumbuh di mana-mana.

Data Dewan Pers (2014), sebut Yoseph, terdapat lebih dari 2000 media cetak, tetapi yang terverivikasi di Dewan Pers hanya 567. Terdapat 43 ribu lebih media online tetapi yang terverifikasi dan memiliki badan hukum hanya 211, kemudian 1160 radio dan 394 televisi termasuk televisi lokal dengan jumlah wartawan 80 ribu dan yang telah mengikuti uji kompetensi sekitar 10 ribu wartawan. Sejumlah 70 ribu lainnya, lanjut Yoseph, tidak memiliki status yang jelas, apakah betul-betul wartawan, mungkin saja mantan loper koran, tukang tambal ban, kenek bis atau nyambi tukang ojek.

Kata Yoseph, “Sekarang ini kan gampang bikin identitas wartawan, gampang bikin kartu nama dan dengan modal sudah bisa datang menghadiri berbagai acara, meliput kegiatan-kegiatan di pemerintahan dan korporasi, dapat duit transport, sudah cukup dan mungkin langkah berikutnya memeras.”

Mantan wartawan kelompok KKG (Kelompok KOMPAS Gramedia) berkisah lagi, “Banyak orang terkaget-kaget dengan koran yang namanya KPK. Wartawannya datang ke sekolah. Wartawannya bilang, ‘kami dapat informasi, sekolah ini selewenagkan dana BOS. Saya ingin ketemu dengan pimpinan sekolah.’ Pimpinan sekolah tanya, ‘Bapak dari mana?’ Lalu dijawab, ‘Saya dari KPK. Itu langsung begini (pimpinan sekolah tersebut langsung gemetar), karena dikira KPK itu Komisi Pemberantasan Korupsi, apalagi logonya mirip dengan logo KPK, ternyata KPK yang dimaksud adalah Koran Penelusuran Kasus.”

Yoseph kembali bercerita. Ada media massa bernama BIN. “Pada satu ketika, wartawannya ditangkap polisi lalu lintas karena melanggar lalu lintas. Si wartawan mengeluarkan kartu pers. Pas lihat, polisinya kaget, ‘BIN…!’ Polisi mengira, BIN yang dimaksud adalah Badan Intelijen Negara. Si polisi gelagapan, langsung tersenyum dan mengatakan, ‘siap, lanjutkan perjalanan!’ padahal BIN yang dimaksud adalah Berita Investigasi Nasional!” (Bos)

Please follow and like us:
17

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *