Headline Tokoh

Ogah Menganaktirikan Amerika-Belanda

JAKARTA, REQNews – Sosok yang satu ini tentu tidak asing lagi bagi sebagian dari kita. Pria yang dikenal dengan acara Republik Mimpi ini memang termasyur sebagai pakar komunikasi lulusan Amerika. Namun demikian, sejatinya PhDnya justru dari Negeri Kincir Angin.

Pria bernama lengkap Effendi Gazali, Ph.D., MPS ID, lulus sarjana dalam bidang Komunikasi Universitas Indonesia tahun 1990, kemudian mendapatkan gelar Master dalam bidang Komunikasi dari universitas yang sama pada 1996 serta Master dalam bidang International Development (konsentrasi: International Communication) dari Universitas Cornell Ithaca, New York pada 2000.

Pakar Komunikasi kelahiran Padang, Sumatera Barat, Indonesia, 5 Desember 1966 itu kemudian menggeluti bidang Komunikasi Politik di Radboud Nijmegen University Belanda tahun 2004 dengan disertasi “Communication of Politics & Politics of Communication in Indonesia: A Study on Media Performance, Responsibility, and Accountability” (diterbitkan oleh: Radboud University Press, Belanda, 2004).

“Saya dengar ada profesor termasyur yang lagi di Belanda. Kalau orang belajar komunikasi, udah deh, itu maha-maha gurunya. Jadi, dia lagi mengajar di Amsterdam University dan Radboud Nijmegen University,” akunya saat berbicara dengan REQNews di acara peresmian Erasmus Training Centre di Jakarta, Senin (13/3) malam.

Ia pun akhirnya memutuskan untuk memilih Radboud Nijmegen University dan menikmati kuliah doktoralnya hingga kelar, sama halnya saat ia menikmati kuliah di Universitas Cornell Ithaca, Amerika.

“Dua-duanya (Universitas di Amerika-Belanda) sama-sama recommended. Saya tidak mau menganaktirikan. Tapi menurut saya, dalam tahun-tahun ini orang akan lebih banyak ke Belanda. Karena setidaknya, Anda tidak harus berurusan dengan Trump (Presiden Donald Trump) lah.”

“Saya rasa Belanda more enjoyable untuk orang Indonesia untuk hari-hari ini. Kalau di Belanda, selalu ada perasaan oh…Indonesia. Ini pasti. Ini masih kental kedekatannya, meski dulu kita berkelahi dengan mereka,” kelakarnya.

Tapi perasaan bahwa kita dekat dengan mereka, tegasnya, itu sesuatu bagi Belanda. Itu terasa banget. Kedekatan kita dengan Belanda sangat terasa. (Joh)

Please follow and like us:
17

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *