Headline Outline

The Power of Minta Maaf

Oleh: R. Ayu Retno Kusumastuti Suryosumpeno

Belajar dari peristiwa yang menimpa Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang sempat mengalami “slip tounge” atau keselip lidah saat berkunjung ke Kepulauan Seribu hingga menuai banyak reaksi dari berbagai pihak yang sangat fenomenal. Menurut pendapat saya sebagai konsultan komunikasi, gonjang-ganjing tersebut dapat diantisipasi apabila Pak Basuki segera meminta maaf dengan tulus. Memang pada akhirnya beliau meminta maaf, namun sudah sangat terlambat dan beberapa pihak merasa permintaan maaf tersebut disampaikan tidak dengan tulus karena sambil minta maaf, Pak Basuki juga menyertainya dengan berbagai pembelaan diri yang pada akhirnya malah tidak produktif.

Jika ditelaah, sejatinya tidak hanya Pak Basuki melainkan banyak pemimpin di Negeri ini juga (pernah) melakukan kekeliruan atau kesalahan, tapi mengapa tak banyak diantara mereka yang sanggup meminta maaf ? John Kador, seorang motivator dan penulis ternama mendeskripsikan mereka yang sulit meminta maaf lebih memilih untuk berkumur dengan silet daripada sekedar mengucapkkan kata MAAF dengan tulus ikhlas dan tanpa basa basi. Ungkapan yang terdengar lucu namun benar…

Permintaan maaf sejatinya adalah sebuah cara pandang sekaligus sesuatu yang harus dilakukan secara tulus sebagai penanda kepemimpinan yang percaya diri karena tidak ada manusia yang sempurna di atas bumi ini. Pasti ada harga yang harus dibayar ketika mereka melakukannya, namun yang jelas tidak akan semahal saat para pemimpin tersebut menolak atau menunda melakukannya.

Tampaknya para pemimpin di negeri ini sangat tidak suka, takut, malu dan merasa gengsi untuk meminta maaf. Sebaliknya, mereka lebih memilih menyodorkan pembelaan diri yang berbelit belit. Mereka takut mengakui kesalahan karena khawatir hal tersebut akan menghancurkan kelompok atau partai yang mendukung mereka dengan susah payah. Mareka bahkan tidak menyadari kalau menyangkal justru memiliki resiko lebih besar.

Sesungguhnya permintaan maaf adalah ungkapan tulus yang membawa damai. Karena pengakuan kebenaran tak aka nada artinya bila dibandingkan dengan hubungan baik sesama anak bangsa.

Ungkapan Empati

Permintaan maaf seyogyanya merupakan ungkapan empati dan simpati. Jadi sebelum minta maaf, pelaku harus mampu merasakan apa yang dirasakan oleh korban sehingga dapat mengungkapkan rasa penyesalan secara tulus tanpa berusaha mencari alibi. Permintaan maaf yang terlihat tidak tulus dan hanya ingin mendapatkan simpati akan membuat keadaan menjadi semakin runyam.

Meminta maaf tentu bukanlah pekerjaan yang mudah dilakukan, dibutuhkan kekuatan dan keberanian yang luar biasa. Setiap manusia sebenarnya pernah merasakan penyesalan atas perbuatan yang dirasakannya melanggar aturan atau norma sosial, namun untuk mengungkapkannya seringkali lidah menjadi kelu dan mulut pun tak kuasa terbuka. Pada saat inilah ego muncul dan meminta untuk mengurungkan niat meminta maaf.

Secara umum, permintaan maaf akan berhasil baik saat disampaikan sesegera mungkin setelah terjadinya kesalahan. Namun untuk hal yang lebih serius dibutuhkan waktu penenangan terlebih dahulu menunggu pelaku dan korban siap untuk saling menerima apa yang telah terjadi. Penentuan waktu penyampaian maaf harus memperhatikan kepentingan korban dan bukan kepentingan pelaku. Oleh karenanya, dibutuhkan pihak netral yang dapat memberikan petunjuk yang tepat. Patut pula diingat bahwa tidak semua permintaan maaf yang tertunda akan berdampak positif karena kejadian yang melukai hati tentu tidak mudah untuk dihapuskan dan apabila telah terlanjur terkubur akan bermetamorfosa menjadi dendam.

Situasi dan kondisi tempat dilakukannya permintaan maaf turut membantu proses pemulihan hati yang luka, maka sekali lagi fokus utamanya adalah kepentingan korban.

Reaksi Sempurna

Tidak sedikit orang getol mengejar kesempurnaan tanpa menyadari bahwa kesempurnaan adalah objective value yang posisinya mendekati titik tak terhingga. Kesempurnaan adalh imajinasi, walaupun ada sebagian orang yang berpendapat bahwa usaha maksimal adalah kesempurnaan walaupun tetap tidak sempurna. Essensinya adalah tidak ada yang sempurna di dunia ini karena tak ada gading yang tak retak dan retaknyanya gading adalah kesempurnaan gading itu sendiri. Sangatlah manusiawi bila seseorang atau kelompok dari strata manapun, pernah melakukan kesalahan, baik disengaja maupun tidak, asalkan diiringi dengan permintaan maaf yang tulus karena meminta maaf merupakan reaksi sempurna atas ketidaksempurnaan.

Jadi jangan tunda meminta maaf….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *