Headline Outline

Belajar dari Para Ksatria Samurai

Oleh: R. Ayu Retno Kusumastuti Suryosumpeno

The true meaning of the ‘samurai’ is
One who serves and adheres to the power of love.
Morihei Ueshiba

Samurai adalah anggota kasta ksatria Jepang yang mulai berkuasa pada abad ke-12 dan mendominasi pemerintahan hingga tahun 1868. Mereka terkenal sebagai ksatria yang paling ditakuti dan dihormati pada masanya.

Selain itu mereka termahsyur karena pandai mengendalikan hawa nafsu dan sama sekali tidak terpengengaruh pada keadaan sekitar. Para Ksatria itu hidup berdasarkan nilai-nilai yang sangat ketat dan disebut BUSHIDO karena mengutamakan keberanian, kehormatan dan kesetiaan.

Bushido

Secara harafiah, Bushido berarti Jalan Ksatria dan Samurai sendiri berarti Melayani. Definisi ini terkesan bertolak belakang namun pada hakikatnya tujuan mereka adalah melayani dengan sepenuh jiwa dan raga.

Bangsa Jepang sendiri telah lebih dari 1.100 tahun menganut sistem Kepemimpinan yang biasa dianut oleh para Samurai. Sistem kepemimpinan yang ternyata sampai saat ini masih mampu menjadi pedoman kehidupan meskipun Samurai berpedang telah tergantikan dengan Samurai berteknologi tinggi.

Kode perilaku BUSHIDO terdiri dari:
1. CHU – Tugas dan Kesetiaan
2. GI – Adil dan bermoral
3. MAKOTO – Tulus Ikhlas
4. REI – Sopan santun
5. JIN – Kasih Sayang
6. YU – Keberanian Heroik
7. MEIYO – Kehormatan

Ketujuh kode perilaku tersebut diatas bersifat universal dan memiliki landasan luhur yaitu moral dan budi luhur.

Keberanian Memegang Komitmen

Dalam sejarah, Samurai selalu memegang komitmen sekalipun harus mengorbankan nyawa. Ya, tak berarti mereka tidak menghargai dirinya sendiri, namun lebih mengutamakan memegang teguh ucapan dan prinsip. Tragedi terbesar dalam hidupnya adalah menjalani kehidupan tanpa dapat memegang teguh komitmen yang telah dipegangnya.

Jaman telah berubah, orang tidak lagi ambil pusing dengan komitmen. Ketika kepercayaan dihancurkan, komitmen tidak dihargai dan dihormati maka proses interaksi akan menjadi kacau. Ada pula sekelompok orang yang takut berkomitmen karena tidak ingin melanggarnya, mereka adalah kelompok pengecut yang tidak memiliki prinsip dan senantiasa dikuasai oleh keraguan serta kerapuhan. Samurai tak kan pernah takut mengalami kegagalan, bagi mereka jatuh tujuh kali berarti bangkit delapan kali. Salah satu alasan mengapa para Samurai tidak pernah takut menghadapi kegagalan adalah karena mereka menjalani hidup seolah olah mereka sudah meninggal. Ini pandangan yang sangat positif karena seseorang tidak mempunyai beban dalam menjalankan tugasnya, total dan focus…betul betul nothing’s to lose. Apabila anda memiliki jabatan dan tidak takut akan kehilangan jabatan tersebut, maka anda akan mempertaruhkan apapun untuk melakukan yang terbaik sesuai dengan keyakinan anda.

Bagi Samurai, keberanian bukanlah pilihan melainkan keharusan. Pada umumnya orang baru berani bergerak maju apabila keadaan sudah optimal. Persoalannya adalah keadaan terkadang tidak sesuai dengan harapan. Bisa dibayangkan bagaimana seandainya Bunda Theresa menunggu sampai Calcutta menjadi lebih baik sebelum dia memutuskan untuk melayani kebutuhan kaum miskin serta jiwa-jiwa yang haus dikota tersebut.

Jika demikian kejadiannya maka kita takkan pernah mendengar pelayanan Bunda Theresa yang mampu membuat dunia tertegun dan terkesima.

Imbalan besar biasanya didahului dengan tantangan yang besar pula, anda takkan dapat menaklukkan sebuah pulau penuh harta karun tanpa melewati pertarungan dan pertumpahan darah. Orang harus belajar untuk melakukan apa yang harus dilakukan, bahkan disaat ia merasa ketakukan karena takut bukanlah persoalan utama yang harus dihadapi.

Samurai berpedoman disaat kita takut dan ingin mundur, saat itulah kita harus melangkah lebih cepat, bergerak maju dan melakukan lebih banyak.

Orang takut cenderung berjalan lambat, merasa seolah-olah tidak dapat melakukan apa yang sudah mereka tetapkan sebelumnya dan memilih mundur. Ditengah ketakutan kita harus mencari jalan untuk memperoleh pendorong dari dalam untuk bergerak lebih cepat dari yang sudah dilakukan walaupun ketakutan terkadang berlari jauh lebih cepat daripada keberanian, namun sejatinya ketakutan tidak memiliki cukup tenaga mengakhiri pertandingan.

Martin Luther King mengatakan “Keberanian adalah tekad untuk tidak dikuasai oleh apapun, bahwa kekuatan pikiran mampu meninggalkan masa lalu” mampu menggelitik nurani kita untuk berpendapat bahwa keberanian tidak harus selalu terdengar lantang. Sesuatu yang dapat dilakukan dengan mudah oleh seseorang dapat menakutkan bagi orang lainnya demikian sebaliknya karena pada dasarnya semua orang memiliki rasa takut, termasuk mereka yang takut mengakuinya.

Jadilah Pemenang

Bersikap logis dan wajar seringkali membuat kita kehilangan keberanian. Anda tidak akan muncul sebagai pemenang kehidupan apabila hanya melindungi diri dari luka yang mungkin akan muncul dalam hidup ini. Dibutuhkan keberanian untuk mengambil keputusan anda sendiri, percayalah pada diri sendiri dan yakinlah bahwa Tuhan akan senantiasa menuntun hidup ke arah yang lebih baik. Dibutuhkan keberanian untuk mengakui kegagalan dan mencobanya kembali, pelajaran yang diperoleh dari kegagalan akan membantu seseorang mengambil jalan yang berbeda. Orang yang hanya duduk santai dan tidak melakukan apapun akan selalu hidup pada titik terendah dalam hidupnya.

Jika Anda tidak berminat masuk dalam golongan seperti itu maka belajarlah pada Sang Samurai…..

Please follow and like us:
17

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *