Budaya Headline

Tatkala Kata Berujung Makna

YOGYAKARTA, REQnews-Perkembangan seni rupa saat ini kini mendorong kaburnya batasan atau kategori, media memang memungkinkan mendukung sikap mendua seniman, seperti pada kasus drawing. Sepertinya seniman bebas saja menentukan kapan ia mengganggap sebuah karya yang akan dipamerkannya sebagai drawing dan kapan sebagai bukan drawing. Begitulah yang terjadi.

Demikian pesan Syahrizal Pahlevi melalui surat elektronik mengawali pameran drawing yang akan diselenggarakan pada tanggal 25 Maret sampai 10 April 2017 bertempat di Miracle Print, Jl Suryodiningratan 34 Yogyakarta.

Pameran akan menampilkan 22 karya “drawing” dari 22 seniman yang tinggal di Yogyakarta, Nganjuk, Surabaya, Jakarta dan Medan. Semua karya bermaterikan media kertas sebagai unsur utama pembentuk dengan eksekusi khas masing-masing seniman. Ukuran karya bervariasi dari yang paling kecil ukuran 21x16cm sampai terbesar ukuran 110×80 cm.

Peserta pameran: Joko “Toying” Widodo, Meuz Praz, Tina Wahyuningsih, Eddy Sulistyo, Hotland Tobing, Ugo Untoro, Dona Prawita Arissuta, Robi Fathoni, Alie Gopal,, “Jon Paul“ Irwan, Desy Gitary, Syalabi Asya, Susilo Budi Purwanto, Wahyu Gunawan, Allatief, Yani Halim, Basori “Kang Basori”, Tohjaya Tono, Franky Pandana, Jonson Pasaribu, Widarsono Bambang, Mumtaz khan Chopan.

Pameran berjudul Purba, tidak bermaksud menggiring imaji kembali ke masa silam tapi justru memperluasnya. Melalui kata  “PURBA” membawa imaji kita perihal “ketuaan” atau tentang “masa/zaman silam”.

PURBA  sebagai judul pameran ini adalah “dramatisasi” persoalan drawing yang sering dimitoskan sebagai persoalan kuno atau masa lalu dan tidak perlu mendapat porsi lebih dalam kekaryaan maupun perbincangan. Padahal sebagai media pendahulu, kePURBAan media drawing dibanding media seni rupa yang tumbuh kemudian mestinya tetap menarik sebagai alat ekspresi bagi para seniman. Tetapi pameran ini sama sekali tidak bermaksud menggiring imaji kembali ke masa silam tapi justru memperluasnya.

“Drawing memang selalu menarik, justru karena berbagai kemungkinan eksplorasi dan perdebatan yang menyertainya. Setiap seniman dalam pameran ini memiliki definisi masing-masing mengenai apa itu drawing yang secara tidak langsung berimbas pada eksekusi karya mereka”,ujar  Syahrizal Pahlevi. (fag)

Please follow and like us:
11

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *