HAM Headline

Jepang : Kebijakan Anti-bullying Melindungi Para Pelajar LGBT

Tokyo, REQNews – Kebijakan nasional Jepang tentang pencegahan gangguan (bullying) akan pertama kali melindungi para pelajar LGBT sebagai kaum minoritas gender dan seksual. Hal ini disampaikan Human Rights Watch hari ini melalui siaran persnya.

Dalam siaran persnya, Direktur Human Rights Watch Jepang Kanae Doi mengatakan, “Kebijakan baru Jepang tentang bullying itu merupakan langkah penting demi kepastian akses yang setara kepada pendidikan bagi seluruh anak-anak Jepang.” Lanjutnya, “Pemerintah mendemonstrasikan kepemimpinan dalam pendidikan dan mendayagunakan para guru untuk melindungi para pelajar LGBT.”

Seperti dikutip dari siaran persnya di situs ww.hrw.org, Human Rights Watch menyatakan, “momentum saat ini dalam diskusi politis Jepang perihal isu-isu LGBT menjanjikan reformasi lebih jauh. Pemerintah Jepang seharusnya mengambil kesempatan ini untuk memastikan bahwa kebutuhan-kebutuhan para orang muda LGBT termasuk dalam proses pembuatan kebijakan dan bahwa semua pelajar di Jepang bisa mengakses pendidikan pada dasar pijakan yang sama.”

Doi pun menambahkan, “Dengan mengamandemen Kebijakan Dasar bagi Pencegahan Gangguan ke dalam orientasi seksual dan identitas gender, Jepang telah mengambil langkah krusial membawa kebijakan-kebijakannya sendiri selaras dengan obligasi-obligasi HAM internasionalnya.”

Kebijakan Dasar bagi Perlindungan Terhadap Gangguan (Bullying) terbaru, yang direvisi oleh Menteri Pendidikan  Jepang pada 14 Maret 2017 lalu, memandatkan bahwa sekolah-sekolah harus mencegah gangguan terhadap para murid berdasarkan orientasi seksualnya atau identitas gender dengan cara “mempromosikan pemahaman yang selayaknya para guru pada … orientasi seksual atau identitas gender sebagaimana memastikan bahwa informasi ukuran-ukuran semestinya yang terdapat di sekolah berkenaan isu ini.”

Kebijakan ini mengikuti arahan Menteri Pendidikan, Budaya, Olahraga, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berkenaan para pelajar transgender pada 2015 dan buku pegangan kementerian ini pada tahun 2016 bagi para guru tentang para pelajar LGBT.

Laporan HRW 2016

Laporan Human Rights Watch 2016 menemukan bahwa para pelajar LGBT di sekolah-sekolah Jepang menghadapi pelecehan, hinaan fisik dan verbal dari teman sebaya dan staf sekolah. Retorika kebencian anti LGBT ada di mana-mana sehingga menggiring para pelajar LGBT ke dalam kediaman, kebencian terhadap diri sendiri dan dalam beberapa kasus, melukai diri sendiri.

Human Rights Watch juga menemukan bahwa para guru Jepang dilengkapi secara mumpuni untuk merespon gangguan spesifik terhadap LGBT. Ketika para guru individual atau sekolah berusaha mendukung para murid yang meminta perlindungan dari pelecehan terhadap orientasi seksual atau identitas gender mereka, responnya bisa tidak memadai. Para guru bahkan sering kurang mengerti perihal isu-isu LGBT dan tidak peduli terhadap kerentanan yang dihadapi anak-anak LGBT.

Langkah penting lainnya adalah rencana merubah Pakta Perlakuan Khusus Terhadap Orang dengan Kelainan Identitas Gender yang mengatur pengakuan legal terhadap manusia transgender. Hukum Jepang saat ini berisi sejumlah ketentuan yang menyakiti perlindungan mendasar hak-hak asasi manusia dan mempengaruhi anak-anak transgender. Bagi para murid transgender di Jepang, hal sederhana seperti hadir di sekolah bisa jadi siksaan. Hukum nasional Jepang memandatkan seseorang memperoleh diagnosa kelainan mental dan prosedur-prosedur medis lainnya, termasuk sterilisasi, agar secara legal diakui berdasarkan identitas gender mereka. Ini sebuah prosedur yang kasar dan usang. *** (Praz)

 

Foto: Taiji Ukagawa/ www.hrw.org

Please follow and like us:
18

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *