Headline Outline

Demoralisasi Masyarakat, Tanggung Jawab Siapa?

Oleh: R. Ayu Retno Kusumastuti Suryosumpeno

Saat kehidupan sudah sangat sulit dan harga kebutuhan pokok naik nyaris tak terkendali sedangkan dilain pihak kebutuhan untuk mempertahankan eksistensi diri juga tak dapat dihindari, hal tersebut menjadi penyebab tingkat kriminalitas meningkat tajam. Manusia bagai menghalalkan berbagai cara untuk dapat bertahan hidup dan terus dapat eksis sehingga mendapatkan strata khusus dalam masyarakat, antara lain dengan mencuri uang rakyat (korupsi) atau bahkan secara terang-terangan melakukan pungutan liar dan tak jarang melakukan pergaulan bebas. Hukum seakan sudah bukan menjadi panglima lagi. Orang sudah dengan sesuka hati menjalankan hidup berdasarkan nafsu. Bila kondisinya sudah demikian maka siapakah pihak yang paling bertanggung jawab?

Beberapa ahli menyampaikan definisi demoralisasi dalam pengertian sosiologi antara lain:
1. Kondisi dimana moral tak lagi menjadi pegangan hidup dalam melakukan suatu tindakan. Orang yang terjangkit penyakit demoralisasi dapat dikatakan sebagai manusia bejat yang tak lagi menghiraukan aturan moral serta norma yang berlaku dalam kehidupan. (Prof. Dr. H. Duski Samad, M. Ag : 2013)
2. Merosotnya moral atau akhlak seseorang yang tercermin pada perilaku seseorang. Contohnya pencurian, perampokan, pemerkosaan, pembunuhan. Demoralisasi ditandai dengan meningkatnya kriminalitas di dalam masyarakat. (Ahmad Musid dkk : 2015)

Intinya, pengertian demoralisasi adalah penyelewengan terhadap aturan atau norma yang berlaku di dalam kehidupan. Semakin besar dapak globalisasi di dalam diri seseorang, semakin mudah dirinya terdemoralisasi.

Ada beberapa ciri yang dapat dijadikan tolok ukur suatu Negara dimana masyarakatnya terkena demoralisasi, diantaranya:
1. Meningkatnya kualitas dan kuantitas kasus pencurian, pemerkosaan, pembunuhan dan lain sebagainya.
2. Meningkatnya tindakan anarkis yang dilakukan oleh masyarakat, seperti pembakaran tingkat ibadah dan sarana serta prasarana umum.
3. Meningkatnya tindak korupsi dan pungutan liar.
4. Terjadinya pergaulan bebas.
5. Meningkatnya tingkat penggunaan dan peredaran narkoba secara illegal.
6. Meningkatnya konflik sosial baik secara vertical maupun horizontal.
7. Berkurangnya rasa toleransi didalam masyarakat.
8. Munculnya kasus terorisme.

Adapun penyebab demoralisasi masyarakat antara lain:
1. Pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan tersedianya pekerjaan yang ada.
2. Krisis ekonomi yang tak kinjung usai hingga meningkatkan tingkat kemiskinan.
3. Pemerintah yang tak mampu mengakomodasi tuntutan masyarakat.
4. Para pemangku kebijakan yang apatis, boros dan acuh tak acuh terhadap berbagai fenomena yang terjadi lama masyarakat.

Tentu saja pemerintah bukanlah satu-satunya pihak yang harus disalahkan dan bertanggung jawab melakukan antisipasi sehingga demoralisasi masyarakat tidak semakin parah. Seluruh masyarakat negeri ini harus memperkuat barisan dan saling mengingatkan bila terjadi fenomena yang menandakan meningkatnya gejala demoralisasi. Sebagaimana kata Franklin D. Roosevelt, ”No country, however rich, can afford the waste of its human resources. Demoralization caused by vast unemployment is our greatest extravagance. Morally, it is the greatest menace to our social order.”

Keluarga diharapkan menjadi tiang utama pencegahan peningkatan demoralisasi, antara lain dengan mempertebal keimanan anggota keluarga, mempertebal rasa kekeluargaan dan toleransi serta aktif dalam berbagai kegiatan positif.

Sahabat, mari tingkatkan empati pada lingkungan sekitar. Jangan sampai saat kita tertidur pulas ternyata masih ada tetangga kita yang lapar…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *