Headline Outline

Saat Diam Bukan Lagi Emas

Oleh: R. Ayu Retno Kusumastuti Suryosumpeno

“Whoever controls the media, controls the mind.”
Jim Morrison

Hingga saat ini ternyata belum banyak yang mengetahui dengan pasti profesi seorang konsultan komunikasi media sehingga tak jarang saya harus menjelaskan betapa pentingnya seorang figur publik atau organisasi bahkan perusahaan dan lembaga untuk tidak hanya didampingi konsultan komunikasi namun juga konsultan komunikasi media.

Keberadaan konsultan komunikasi media semakin dibutuhkan saat diberlakukannya UU No. 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP). Maka sejak berlakunya UU tersebut diatas, setiap Badan Publik harus senantiasa siap melayani berbagai permintaan informasi dari masyarakat baik secara individu maupun lembaga.

Pengalaman sebagai konsultan komunikasi media selama lebih dari 15 tahun membuktikan bahwa saat lembaga, perusahaan, institusi atau organisasi datang pada kami, artinya mereka sudah dalam keadaan ber”darah-darah” berhadapan dengan media massa. Memang, jika 15 tahun lalu, departemen humas masih dapat dengan santai memonitor berbagai media, baik cetak maupun televisi bahkan radio, maka kini ada beberapa hal yang sudah tak “tertangani” lagi oleh mereka. Saat itulah, konsultan komunikasi media dibutuhkan bantuannya.

Tak ayal lagi kehadiran internet yang kemudian mendorong berkecambahnya berbagai media jejaring sosial, antara lain facebook, Twitter dan personal blog lainnya, kian memusingkan Departemen Humas/PR. Lantaran kini pemberitaan mengenai sebuah lembaga atau organisasi beserta seluruh pimpinannya juga merambah ke berbagai wahana internet dan mikro-blogging tersebut.

Jamak dipahami, tidak selamanya pemberitaan media bernada positif. Adakalanya tendensius dan cenderung “menghakimi”. Pemberitaan negative inilah yang harus dikelola secara baik oleh seorang konsultan komunikasi media sehingga tidak bergulir menjadi opini negative. Seorang konsultan komunikasi media dengan pendekatan strategis akan menganalisa secara detil tentang pemberitaan negative tersebut. Apa kira-kira latar belakang dan motif hingga muncul berita negative? Adakah kaitannya dengan para pemangku kepentingan di lembaga atau institusi? Dan masih banyak lagi pisau analisa yang perlu digunakan untuk membedah berita miring tersebut.

Tak jarang seorang konsultan komunikasi media akan menyarankan untuk membiarkan pemberitaan miring berlalu seiring kearifan waktu. Apalagi jika lembaga atau institusi yang menjadi kliennya memiliki reputasi kredibel. Namun tak jarang pemberitaan negative haruslah dibuatkan “counter issue” bila sudah mengarah pada pembentukan opini. Saat inilah, diam bukan lagi emas karena melakukan pembiaran artinya meng “iya” kan atau sepakat pada pemberitaan tersebut. Pada saat issue sudah bergulir menjadi opini maka biaya serta tenaga yang dibutuhkan untuk meng “counter” nya akan semakin besar pula.

Maka bersyukurlah anda yang telah didampingi seorang konsultan komunikasi media karena setidaknya akan ada seseorang yang tetap berada disamping anda saat krisis melanda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *