Headline Outline

Krisis, Momen untuk Mawas Diri

Oleh: R. Ayu Retno Kusumastuti Suryosumpeno

Arus informasi yang demikian cepatnya saat ini sangat berpengaruh pada tingkat pemahaman orang terhadap organisasi tertentu. Informasi yang sangat beragam tentu membawa pengaruh yang beragam pula, positif maupun negatif. Hal tersebut tentu saja dapat memperburuk eksitensi organisasi saat dilanda krisis. Namun jika organisasi dapat mengatasi krisis dengan menunjukkan tanggung jawabnya pada masyarakat, maka dapat dipastikan penilaian para pemangku kepentingan akan berubah menjadi positif.

Krisis, sebagaimana yang ada dalam filosofi Cina, Bahasa mandarin untuk krisis adalah: 危机 (wēi jī) berasal dari kata 危险 (wēi xiǎn, danger) dan 机 会 (jī huì, chance). Untuk itu setiap 危机, wēi jī (krisis), selalu memiliki 2 dimensi: pertama 有危 (yǒu wēi, ada bahaya), kedua 有机 (yǒu jī, ada kesempatan). Jadi disetiap krisis, walaupun memang memiliki bahaya juga mengandung kesempatan yang menuju kepada harapan atau kesuksesan.

Krisis merupakan hal yang terkadang tidak terhindarkan. Karena tidak hanya disebabkan oleh faktor internal yang dapat diperkirakan sebelumnya. Faktor eksternal memiliki kekuatan yang justru lebih kuat mengakibatkan munculnya kondisi krisis.

Saat institusi Kejaksaan menghadapi krisis akibat salah satu jaksanya tertangkap KPK pada suatu operasi tangkap tangan (OTT) baru-baru ini di Bengkulu tentu penanganan krisisnya sangat berbeda dengan institusi Kepolisian saat juga menghadapi krisis yang nyaris sama tahun lalu. Cara organisasi mengatasi krisis dapat dinilai oleh masyarakat berdasarkan informasi yang mereka dapatkan melalui media. Sayangnya, tak banyak organisasi yang menyadari bahwa strategi penanganan krisis merupakan pintu masuk terciptanya reputasi negatif bagi organisasi tersebut.

Krisis sering hadir sebagai peristiwa yang mengguncangkan organisasi dan sanggup membuat para anggotanya mengalami demoralisasi. Upaya organisasi untuk segera melakukan komunikasi krisis bertujuan untuk menghindari berbagai spekulasi yang memperburuk kondisi demoralisasi para pemangku kepentingan (Ulmer, 2007:21). Walaupun tidak semua hal dapat dijelaskan kepada masyarakat namun setidaknya  dapat mengurangi kondisi ketidakpastian di benak para pemangku kepentingan.

 

Saatnya Mawas Diri

Pakar komunikasi krisis, Steven Fink dalam bukunya Crisis Communication: The Definitive Guide to Managing the Message menyatakan bahwa saat mengalami krisis, tak jarang sebuah organisasi melancarkan “The Blame Game”, mengambil sikap menyalahkan berbagai pihak dan menyatakan bahwa pegawai yang dianggap bertanggung jawab atas terjadinya krisis sebagai “oknum”. Padahal tindakan tersebut hanya akan menambah buruk penilaian public terhadap reputasi organisasi.

Sejatinya, yang harus dilakukan oleh para pimpinan saat organisasinya dilanda krisis, antara lain:

  1. Bersikap tenang dan tidak emosional.
  2. Perlihatkan keprihatinan dan rasa empati.
  3. Hindari mengucapkan hal-hal yang tidak perlu.
  4. Jangan lupa sampaikan permohonan maaf ketidaknyamanan yang terjadi.
  5. Jadikan momen krisis sebagai kesempatan untuk mawas diri.

Bila krisis melanda organisasi yang berkaitan dengan penegakan hukum, maka organisasi ini dituntut untuk lebih mengembangkan standar etika yang kuat. Para pimpinannya harus menjalin hubungan baik dengan para pemangku kepentingan, khususnya publik. Fokus pada krisis dan manajemen pemulihan reputasi paska krisis.

Please follow and like us:
11

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *