Headline Tokoh

Sandra: Sistem ‘One Man One Vote’ Bisa Akhiri Perpecahan di Dunia Advokat

JAKARTA, REQNews – Hiruk pikuk Rancangan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat sedang hangat dibicarakan di kalangan advokat. RUU itu sendiri masuk dalam prolegnas DPR RI tahun 2014-2019.

Dalam RUU yang diusulkan oleh DPR melalui Fraksi Partai Persatuan Pembangunan dan Fraksi Partai Amanat Nasional ini, setidaknya ada poin yang menyangkut, organisasi advokat yakni pada Bab X, Pasal 28-30.

Advokat muda Sandra Nagoy pun angkat bicara terkait urgenai RUU tersebut. Menurut dia, sejatinya UU yang ada sekarang sebenarnya sudah cukup baik memayungi aktivitas dan kode etik para advokat di Indonesia.

“Meski masih ada pasal yang perlu direvisi, namun perlu dibenahi justru pelaksanaan UU tersebut oleh organisasi advokat. Karena yang ada saat ini menurut saya sudah cukup,” kata Sandra saat berbincang dengan REQuisitoire Magazine, Rabu 8 November 2017.

Mandegnya implementasi UU Advokat selama ini, lanjut Sandra, dikarenakan masing-masing segelintir oknum advokat Indonesia memiliki ego berkuasa. Bahkan tidak memikirkan kepentingan yang lebih besar, yakni para anggotanya.

Advokat yang bergabung dalam BNJ Law Firm ini juga menuturkan, Pasal 28 ayat (1) UU Advokat secara tegas mengatur bahwa hanya ada satu organisasi advokat di Indonesia. Selain itu, dalam mengambil keputusan organisasi juga harus ‘one man one vote’.

“Sistem one man one vote one value mungkin bisa menjadi titik temu agar perpecahan di dunia advokat dapat diakhiri,” kata Sandra.

Menilik polemik organisasi advokat yang terjadi saat ini, Sandra mengajak kearifan para pimpinan maupun tokoh advokat yang ada di Indonesia.

“Jadi perlu kearifan para pimpinan mempersatukan ini. Kalau masih mementingkan ego, ya para anggota organisasi ya makin bingung.”

Selain itu, jika ingin menyelesaikan perpecahan ini maka perlu ada perbaikan di pucuk pimpinan. “Contoh saja jika kita pilih ikan segar atau tidaknya, kita harus periksa kepalanya lebih dulu. Kita ini yang di ekor kan hanya ikut-ikutan saja,” sambungnya.

Dalam kondisi seperti ini, Sandra pun mengenang sosok begawan hukum Almarhum Yan Apul. Mungkin, jika pak Yan Apul masih ada (hidup) bisa menengahi mereka.

“Dan bisa menyatukan para pimpinan organisasi advokat yang ada. Karena kita butuh tokoh atau pimpinan advokat yang arif dan mengayomi anggotanya,” harap Sandra.

Apalagi memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean, Sandra mengajak para advokat Indonesia untuk bisa bersaing. “Jangan sampai mereka lebih jago. Tentunya kita harus siap dengan MEA. Dan tugas organisasi advokat lha untuk kaderisasi, dan meningkatkan kualitas anggota organisasi. Jangan sibuk sendiri dengan ego ingin berkuasa,” tandasnya.

Please follow and like us:
17

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *