Headline Outline

Membangun Citra

Oleh: R. Ayu Retno Kusumastuti Suryosumpeno

It takes many good deeds to build a good reputation,
and only one bad one to lose it.
– Benjamin Franklin –

Sekelompok pemangku kebijakan perusahan ternama dan para “public figure” rela melakukan segalanya demi citra atau reputasi yang telah dibangun sejak lama. Tidak mudah, namun saat citra hancur berkeping-keping, serasa hayat tidak lagi dikandung badan.

Lalu, mengapa citra sedemikian berharganya?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Citra atau sebagian orang menyebutnya sebagai reputasi adalah pemahaman kesan yang timbul karena pemahaman akan suatu kenyataan. Sedangkan menurut Linggar dalam Teori dan Profesi Kehumasan serta Aplikasinya (2000:69), “Citra humas yang ideal adalah kesan yang benar, yakni sepenuhnya berdasarkan pengalaman, pengetahuan serta pemahaman atas kenyataan yang sesungguhnya.”

Citra yang dimaksud disini adalah kesan yang ingin diberikan oleh seseorang, institusi, organisasi atau perusahaan kepada publik atau khalayak agar timbul opini publik yang positif.

Pengertian citra menurut G. Sach dalam Soemirat dan Elvinaro Ardianto (2007:171), citra adalah pengetahuan mengenai kita dan sikap-sikap terhadap kita yang mempunyai kelompok-kelompok yang berbeda.

Pengertian citra ini kemudian disitir oleh Effendi dalam Soemirat dan Elvinaro Ardianto (2007:171) bahwa citra adalah dunia sekeliling kita yang memandang kita.

Menurut Frank Jefkins dalam Public Relations (Munandar, 1995:17-19) menyebutkan bahwa ada beberapa jenis citra yang penting untuk diketahui, yaitu:

1. Citra Yang Berlaku (Current Image), suatu citra atau pandangan yang melekat pada pihak-pihak luar mengenai seseorang, organisasi, institusi atau perusahaan.

2. Citra Bayangan (Mirror Image), citra yang dianut oleh pihak yang berkepentingan mengenai pandangan luar terhadap dirinya atau organisasi atau perusahaannya.

3. Citra Perusahaan (Corporate Image), citra dari suatu organisasi atau perusahaan secara keseluruhan. Citra perusahaan ini terbentuk oleh banyak faktor. Hal positif yang dapat meningkatkan citra suatu perusahaan, antara lain sejarah atau riwayat hidup perusahaan yang gemilang dan lain sebagainya.

4. Citra Yang Diharapkan (Wish Image), citra yang diinginkan oleh pihak manajemen atau public figure. Biasanya citra yang diharapkan lebih baik atau lebih menyenangkan daripada citra yang ada.

5. Citra Majemuk (Multiple Image), citra ini dapat diterapkan pada semua jenis organisasi atau perusahaan yang memiliki banyak unit dan pegawai (anggota). Masing-masing unit dan individu pasti memunculkan suatu citra unik yang belum tentu sama dengan citra organisasi atau perusahaan secara keseluruhan.

TIDAK MUDAH MEMBANGUN CITRA

Citra merupakan pencapaian dari seluruh kegiatan humas. Bentuknya sangat abstrak atau intangible sehingga tidak dapat diukur dalam ukuran nominal tertentu.

Citra memang tidak berwujud namun dapat dirasakan oleh para pemangku kepentingan. Citra menunjukkan kualitas diri dari para public figure atau pemangku kebijakan dalam suatu organisasi atau perusahaan.

David J Schwartz (1996) dalam bukunya “The Magic of Thingking Big” merangkaikan beberapa hal untuk peningkatan kualitas citra pribadi seseorang antara lain:

1. Percaya pada keberhasilan, maka andapun akan benar-benar berhasil!
2. Sembuhkan diri dari penyakit kegagalan.
3. Hancurkan ketakutan.
4. Berpikir besar!
5. Bermimpi secara kreatif.
6. You are what you think.
7. Hiduplah di lingkungan positif.
8. Jangan lelah melayani sekitar.
9. Positif thinking.
10. Jangan pernah berhenti untuk berkarya.
11. Kegagalan hanyalah peluang untuk meraih kesuksesan.
12. Jadilah pribadi yang visioner.
13. Berpikirlah menjadi pemimpin yang “agil”.

Memiliki citra pribadi yang positif ternyata memiliki dampak positif pula bagi lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, antara lain:

• Perubahan positif.
Orang yang memiliki citra diri positif senantiasa mempunyai inisiatif untuk menggulirkan perubahan positif bagi lingkungan tempat ia berkarya. Mereka tidak akan menunggu agar kehidupan menjadi lebih baik, sebaliknya, mereka akan melakukan perubahan untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik.Masalah pengangguran tidak membuat orang bercitra diri positif mencak-mencak dan memaki pemerintah.

Orang yang memiliki citra pribadi positif akan berusaha mencari dan membuat lapangan pekerjaan bagi diri dan lingkungannya. Hingga ia bisa meyakinkan investor dan memulai usahanya, lapangan pekerjaan pun akan terbuka. Perubahan positif tidak hanya terasakan oleh dirinya, namun juga oleh lingkungannya.

• Mengubah krisis menjadi keberuntungan
Selain membawa perubahan positif, orang yang memiliki citra positif juga mampu mengubah krisis menjadi kesempatan untuk meraih keberuntungan. Citra diri yang positif mendorong orang untuk menjadi pemenang dalam segala hal. Menurut orang-orang yang bercitra diri positif, kekalahan, kegagalan, kesulitan dan hambatan sifatnya hanya sementara. Fokus perhatian mereka tidak melulu tertuju kepada kondisi yang tidak menguntungkan tersebut, melainkan fokus mereka diarahkan pada jalan keluar.

So, mari kembangkan citra positif demi kehidupan yang lebih baik..

Please follow and like us:
18

One thought on “Membangun Citra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *