Headline Tokoh Wawancara

Salvaredo: Regulasi Pemerintah Dukung Kemudahan Berusaha Kaum Millenial

JAKARTA, REQNews – Kemajuan teknologi internet maupun kehadiran sosial media telah menciptakan karakter baru masyarakat dalam berwirausaha. Khususnya kaum milenial.

Sebagai generasi yang melek teknologi dan haus akan perubahan, mereka cenderung berani menerobos pola-pola pikir tradisional yang coba disuntikkan orangtua kepada anaknya. Bahkan secara tidak langsung, mereka menciptakan karakter wirausaha yang lebih global dari generasi-generasi sebelumnya.

Tak terkecuali Salvaredo Wijayadewa, yang lahir pada 24 Juli 1993. Sebagai kalangan milenial, pria yang akrab disapa Edo ini mengaku situasi dan peluang usaha sudah berubah drastis. Baik dalam berusaha atau menjadi pelaku usaha itu sendiri.

Edo pun merasakan bahwa generasi masa kini seperti berlomba-lomba menciptakan dan menjual hal yang baru di hampir semua industri. “Saya rasa ini menarik sekali berwirausaha di era milenial saat ini,” kata Edo saat berbincang dengan REQuisitoire Magazine, Selasa 21 November 2017.

Tren generasi millenial dalam berwirausaha seperti yang dikatakan Edo di awal, kini seperti sedang naik daun. Dimana wirausahawan muda sedang berlomba menciptakan dan menjual produk atau jasa yang baru dan berbeda.

Apalagi, kata dia, sekarang banyak sekali apps atau jasa yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kekinian, seperti kehadiran delivery barang via ojek online.

Pria yang tengah menggeluti bisnis FnB dengan brand Kookie.do ini mengatakan jika pemasaran produk atau jasa sekarang ini lebih mudah melalui media digital.

Hal ini yang mendorong lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata Pelita Harapan ini, bersama kaum milenial lainnya lebih berani untuk menjalankan usaha sendiri.

“Meskipun resiko dalam berwirausaha sama seperti membuka usaha pada jaman dulu.”

Meski kemudahan berwirausaha sudah dibantu dengan perkembangan e-commerce atau media digital pada saat ini, Edo mengaku tidak semudah itu sebenarnya.

Menurut pria kelahiran Jogjakarta ini, banyak sekali hal-hal yang perlu diperhatikan untuk memanfaatkan media digital atau media sosial dalam berwirausaha.

Contoh bagaimana kita dapat memasarkan produk kita untuk bisa tepat disampaikan kepada target market yang kita inginkan. Kemudian, hal yang perlu dipikirkan adalah membuat content yang tepat dan menarik agar dapat menjual produk yang ditawarkan.

“Sehingga saya bisa simpulkan memang e-commerce itu sangat memudahkan para wirausahawan namun tidak serta merta mudah dalam penggunaannya, banyak sekali “trik” dalam memasarkan produk atau jasa yang kita jual agar mampu menarik calon customer,” kata Edo.

Di samping itu, kemudahan berusaha kaum milenial tak lepas dari dukungan pemerintah melalui regulasi dan birokratnya. Meski dulu dalam proses perizinan bisa dibilang gampang-gampang susah, tergantung dalam sektor apa dulu.

Edo pun menyinggung rilisan Ease of Doing Business(EoDB) 2018 yang diunggah World Bank beberapa waktu lalu, yang menempatkan Indonesia di posisi 72 dunia. Dirinya mengamini capaian positif tersebut.

Prestasi ini juga membuat Indonesia masuk di kategori best 10 of top reformer di dunia dalam kemudahan dalam berbisnis.

“Kini sistem perizinan sudah sedikit membaik apalagi untuk industri UMKM. Dimana pengurusannya tidak terlalu sulit seperti yang saya dengar dulu,” ujarnya.

Edo pun mengingatkan, agar pemerintah tidak berpuas diri dengan capaian prestasi tersebut. Dirinya berharap, pemerintah terus berupaya mempermudah pelaku usaha dalam menjalankan usaha itu sendiri khususnya wirausahawan lokal.

“Saya rasa masih banyak yang perlu ditingkatkan pemerintah untuk membantu wirausaha dalam negri untuk berkembang. Semoga produk-produk dalam negri pun lebih diunggulkan di negeri sendiri,” ujar Edo.

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo sejatinya sudah menelurkan kebijakan ekonomi tentang Peraturan Presiden (Perpres) tentang Percepatan Pelaksanaan Berusaha.

Kebijakan ini bertujuan meningkatkan standar pelayanan perizinan berusaha yang efisien, mudah dan terintegrasi tanpa mengabaikan tata kelola pemerintahan yang baik.

Melalui kebijakan ini, pemerintah ingin mempercepat proses penerbitan perizinan berusaha sesuai dengan standar pelayanan, memberikan kepastian waktu dan biaya dalam peroses perizinan dan meningkatkan koordinasi dan sinkronisasi kementerian/lembaga (K/L) dan pemerintah daerah (pemda).

Perpres ini dibagikan dalam dua tahap. Pertama, tiap Kementerian/Lembaga (K/L) akan membentuk satuan tugas (satgas). Tak hanya oleh K/L, tiap provinsi, kabupaten/kota, serta nasional juga akan membentuk satgas.

Proses perizinan tahap I hanya akan memakan waktu bulanan dari sebelumnya yang mencapai tiga hingga lima tahun.

Tahap kedua, pemerintah akan melakukan evaluasi atas seluruh dasar hukum pelaksanaan proses perizinan yang berlaku, termasuk UMKM. Kemudian, masing-masing pihak akan menyederhanakan peraturan perizinan dengan menerbitkan aturan baru. Dalam tahap ini juga akan dilakukan penerapan sistem perizinan berusaha terintegrasi.

Please follow and like us:
11

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *